18 April 2026 08:18

Waspada Penyakit yang Tak Bisa Disembuhkan, Prof Ahmad Rofiq: Buang Semua Penyakit Hati

0
Prof Ahmad Rofiq Australia

Prof Ahmad Rofiq

OPINIJATENG.COM – Dari nafsu lawwamah ke nafsu muthmainah. Apa itu? Prof Ahmad Rofiq Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo menjabarkannya dalam artikel ini.

Prof Ahmad Rofiq yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah menjelaskan bahwa, Idul Fitri adalah kembalinya jiwa manusia yang boleh jadi sempat dikuasai atau setidaknya dipengaruhi oleh nafsu amarah yang memprovokasi pada perbuatan buruk, jahat, dan dengki, nafsu lawwamah yang sering menyalahkan dirinya sendiri, setelah melalui ritual ibadah puasa Ramadhan, menuju nafsu muthmainnah.

Yakni kondisi hati dan jiwa seseorang yang tenang, nyaman, dan bahagia, karena puasa Ramadhan selesai, dan masih ada satu kebahagiaan, yakni perjumpaan dengan Allah Rabbul ‘Izzah.

BACA JUGA: Kelas Sosial dalam Zakat

Tantangan terberat setelah manusia berada dalam keadaan fitrah, yang diumpamakan laksana bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim Ibu, adalah merawat, menjaga, dan meningkatkan derajat kefitriannya dengan memupuk dan menyiraminya dengan memperbanyak amal shaleh.

Manusia yang diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang terbaik (ahsani taqwim), dalam konteks umat, juga menjadi umat yang terbaik (khaira ummah), karena ada amanat utama, adalah untuk beribadah atau mengabdi kepada Allah ‘Azza wa Jalla (QS. Adz-Dzariyat: 56).   

Selain itu, juga tugas amar makruf, nahy munkar, di atas basis keimanan yang kuat.

BACA JUGA: Dispermades PPKB Banjarnegara Gelar Sosialisasi Terkait Raperbup Sanksi Pelanggaran Disiplin Aparatur Pemerintah Desa

Dalam Taisir at-Tafsir dijelaskan, penegasan ayat bahwa manusia – dan jin – diciptakan oleh Allah adalah untuk beribadah, agar manusia menyibukkan diri dengan kegiatan ibadah.

Ada ulama yang menegaskan, bahwa kesibukan beribadah lebih utama dari bekerja untuk mendapatkan harta, meskipun pada jalan kemanfaatan untuk akhirat.

Nabi Muhammad saw bersabda: “Allah tidak mewahyukan kepadaku untuk mengumpulkan harta, atau agar aku menjadi pedagang, akan tetapi Allah mewahyukan kepadaku untuk bertasbih dan bertahmid atau memahasucikan dan memuji Allah, agar termasuk orang-orang yang sujud, dan beribadah menyembah Tuhan hingga mendatangkan keyakinan”.

Namun demikian, di sisi lain, Ketika Nabi Muhammad saw muda melakukan usaha menjadi pedagang, dan menganjurkan kepada umatnya agar berdagang dengan jujur.

Karena Sembilan persepuluh jalan rizqi itu di dalamnya (Riwayat Ibrahim al-Harby).

Maka, usaha untuk memenuhi kebutuhan adalah wajib, akan tetapi tambahannya adalah mubah (https://www.greattafsirs.com/).

Oleh sebab itu, apabila selesai melaksanakan shalat, maka seseorang diperintahkan untuk bergegas untuk melaksanakan pekerjaan yang menjadi amanat dan tanggungjawabnya.

BACA JUGA: Kisah Sedih Anak Yatim di Hari Raya Idul Fitri, Nur Khoirin YD: Rasulullah Saw Sangat Peduli dan Penyayang

Ada tiga macam “penyakit” yang tidak bisa disembuhkan, pertama, orang yang fakir (sangat membutuhkan) yang di dalam dirinya tercampur sifat dan sikap malas bekerja (dzû l-faqr idzâ khâlathahu l-kasal); kedua, orang sakit kala tercampur dengan pikun atau penyakit tua (al-maradl idzâ khâlathahu l-haram); dan ketiga permusuhan jika tercampur dengan hasad/hasud (iri dan dengki) (Ibid).

Tampaknya para Ulama sepakat, bahwa tiga penyakit yang digambarkan dalam tiga keadaan tersebut, sangat tidak mudah untuk disembuhkan.

Bukan berarti tidak bisa disembuhkan, yaitu dengan menghilangkan penyebabnya.

Momentum Idul Fitri adalah kesempatan untuk menjaga, merawat potensi fitrah, untuk bisa membuang segala macam penyakit hati.

Selama tiga macam penyakit tersebut masih bercokol dalam diri kita, maka dapat dipastikan “stadium”-nya akan bertambah dan semakin akut.

Kebiasaan orang-orang yang sudah didera penyakit iri, dengki, hasud, dan lain sebagainya, di dalam dirinya bercokol kecurigaan, suudhan, dan cenderung tidak mau menerima masukan orang lain, meskipun terhadap kesalahan yang penyebabnya adalah dirinya sendiri.

BACA JUGA: Dispermades PPKB Banjarnegara Siap Launching Aplikasi Gadis Desa, Tampung Kanal Aduan Masyarakat Tentang Desa

Karena itu, Rasulullah saw mengingatkan, pertama, agar usia dipanjangkan oleh Allah, dan jalan rizqi dimudahkan, adalah dengan silaturrahim (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, orang yang di dalam hatinya menyimpan dendam dan kebencian kepada orang lain, maka ia tidak akan masuk surga. Demikian juga orang yang memutus tali silaturrahim adalah dosa (Riwayat Al-Bukhari).

Semoga di bulan Syawwal yang artinya peningkatan, kita dapat merawat fitrah kesucian kita, untuk menghidupkan spirit dan nilai Ramadhan dalam bulan Syawwal dan bulan-bulan berikutnya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla melimpahkan keberuntungan dan keberkahan pada kita semua. Allah a’lam bi sh-shawab.      

*) Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version