17 April 2026 14:42
Para jamaah haji antri masuk Masjidil Haram untuk menjalani thawaf Qudum Haji 2020 Jurnal Presisi Instagram @haramain_info

Jamaah haji antre masuk Masjidil Haram untuk ThawafQudum Haji 2020Jurnal PresisiInstagram @haramain_info

OPINIJATENG.COM – Menjadi dhuyufur-Rahman atau tamu Allah di Tanah Suci adalah momentum yang sangat membahagiakan bagi umat Islam sedunia.

Berbahagialah saudara-saudaraku yang hari-hari ini menunggu saat-saat istimewa menjadi dhuyufur-Rahman atau tamu Allah di Tanah Suci, karena akan hadir pada “Perjamuan Agung” atau wuquf di Padang Arafah, 9 Dzulhijjah 1443 H.

Karena Agung-nya kesempatan itu, maka para jamaah haji, diwajibkan hadir sebelum fajar, dan tidak boleh terlambat.

Keterlambatan hadir, berimplikasi, gugurnya wuquf, dan itu artinya ibadah hajinya tidak sah, atau terdiskualifikasi, dan kewajiban ibadah haji masih melekat padanya padanya.

BACA JUGA:Kiat Sukses Yana Priatna: Mengubah Hidup di Bumi Menjadi Berasa di Langit

Karena itu, Jamaah haji, dievakuasi untuk bisa secara serentak diberangkatkan ke Arafah, diawali dari siang bakda dhuhur 8 Dzulhijjah sesuai urutan hasil qurah (undian) masing-masing kelompok terbang atau kloter, di masing-masing maktab, hingga selesai.

Untuk satu maktab, disediakan 21 bus demi menghindari kemacetan, dan dipastikan lancar, seluruh jamaah yang berniat ihram haji di pemondokan/hotel masing-masing, tiba di Arafah sebelum fajar.  

Rasulullah saw juga menegaskan: “Tiada hari yang Allah membebaskan lebih banyak hamba-hamba-Nya dari neraka (melebihi) di hari Arafah ini” (Riwayat Muslim dari ‘Aisyah ra). Artinya, siapapun yang hadir di Pisowanan Agung tersebut, maka seluruh dosa-sosanya diampuni oleh Allah, dan diputihkan laksana selembar kertas putih.

Rasulullah saw menegaskan: “man hajja fa lam yarfuts wa lam yafsuq raja’a min dzunubihi ka yaumi waladathu ummuhu” artinya “barang siapa melaksanakan haji, maka ia tidak berkata kotor (rafats), dan tidak fasiq, maka ia kembali dari dosanya, laksana bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim ibunya” (Riwayat Al-Bukhary, 1424, 1690, 1691, Muslim, 2404).     

BACA JUGA:Produsen Batik Ecoprint di Sukorejo, Gunungpati Dilatih Model Pemasaran Berbasis Medsos dan E-Commerse

Karena itu, para jamaah haji sangat dianjurkan untuk memperbanyak beristighfar guna memohon ampunan kepada Allah, atas segala dosa-dosa yang dilakukannya dalam proses perjalanan hidupnya, baik dosa vertical maupun dosa sosial.

Itupun dosa sosial terkait dengan kesalahan, ghibah, tajassus, memfitnah, dan dosa-dosa lainnya, masih diperlukan memohon maaf kepada saudara-saudaranya.
Ini sesungguhnya cara Allah untuk mengajarkan hamba-hamba-Nya untuk memuliakan ciptaan-Nya yang paling mulia, dan di sinilah kemudian ditegaskan melalui sabda Rasulullah saw bahwa: “Al-Muslimu man salima l-muslimuna min lisanihi wa yadihi” artinya “Orang yang beragama Islam yang baik, adalah manakala orang lain merasa nyaman, dari tutur kata lisannya – dan ketukan jari di keypad media sosialnya – dan tangan kekuasaannya” (Riwayat Al-Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr, 9, 10, 6003, Muslim 57 dan 58).  

Dari Padang Arafah ini, Allah ‘Azza wa Jalla, akan membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat yang dahulu memprotes penciptaan dan penugasan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi, karena sering berbuat kerusakan dan kesalahan. Kepada para Malaikat, Allah ‘menegaskan: “Hamba-hamba-Ku datang kepada-Ku dengan rambut kusut masai dari setiap sudut negeri yang jauh.

Wahai hamba-hamba-Ku, berpencarlah kalian dari Arafah dengan (membawa) ampunan-Ku atas kalian semua”. 

Ikhtiar Meraih dan Menjaga Kemabruran Haji

Rasulullah saw menegaskan: “Al-‘Umratu ila l-‘umrati kaffaratun lima bainahuma wa l-Hajj al-mabrur laisa lahu jaza’un illa l-jannah” artinya “Umrah sat uke umrah lainnya adalah penebus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada baginya balasan kecuali surga” (Riwayat Al-Bukhari, 1650, Muslim 2403).

BACA JUGA:Wuquf di Arafah untuk Mengenali Diri Sendiri

Agar saudara-saudaraku, termasuk penulis, mendapatkan haji yang mabrur, maka perlu ikhtiar secara maksimal, agar di dalam melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji memperhatikan rukun, wajib, sunnah haji.

Setelah ibadah haji pun, harus terus menerus menjaga kesucian dan kemuliaan ibadah haji dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, laksana dual embar kain ihram warna putih dan tidak dibenarkannya mengenakan busana yang berjahit.

Busana ihram melambangkan kesucian dan kesetaraan hamba di hadapan Allah. Keberlimpahan harta, daftar deret jabatan, kementerengan gelar dan jabatan yang menunjukkan struktur dan kelas, sama sekali tidak berlaku, apabila semua itu tidak dijalankan secara amanah.

Karena Allah ‘Azza wa Jalla yang memiliki hak prerogative menilai kualitas keimanan dan ketaqwaan hamba-Nya.

Mengapa setelah ibadah wuquf di padang Arafah, jamaah haji, wajib mengambil batu krikil di Muzdalifah – atau pun kalau sudah dibekali oleh maktab di Arafah, maka ditaruh dulu di Muzdalifah supaya terpenuhi mengambil batu di Muzdalifah – dan kemudian diievakuasi ke Mina untuk melempar jamarat? Pada 10 Dzulhijjah, melempar jamrah ‘Aqabah (symbol syetan terbesar), dan harus ditambahi melempar Jamarat (Ula, Wustha, dan ‘Aqabah) pada 11 dan 12 Dzulhijjah setelah mabit (bermalam) di Mina, bagi yang mengambil nafar awal.
Dan masih ditambah mabit semalam lagi dan melempar Jamarat (Ula, Wustha, dan ‘Aqabah) lagi pada 13 Dzulhijjah bagi yang memilih nafar tsani?

BACA JUGA:Kepala UPT Perpustakaan IAIN Kudus, Anisa Listiana Raih Gelar Doktor

Dengan kata lain, untuk menjaga kemabruran haji, maka saudaraku para jamaah haji, setelah dos akita diputihkan melalui pengampunan (maghfirah) dari Allah, kita musti terus menjaganya, dengan terus memusuhi syetan dan melemparnya, seraya memohon Ridha Allah Yang Maha Pengasih (rajman li sy-syayathin wa Ridhan li r-Rahman).

Mengakhiri renungan ini, mari kita renungkan, hayati, dan laksanakan bersama sabda Rasulullah saw: “Ya ayyuha n-nas afsyu s-salam wa shilu l-arham wa ath’imu th-tha’am wa shallu bi l-laili wa n-nasu niyamun, tadkhulu l-jannata bi salam”

artinya “Wahai manusia, tebarkanlah kedamaian — keselamatan, dan kedamaian, — sambunglah kasih sayang atau silaturrahim, berikanlah makana, dan shalatlah kalian di waktu malam yang manusia (kebanyakan) pada tidur nyenyak, maka kalian akan masuk surga dengan penuh kedamaian” (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi, dari Abdullah bin Salam).

Selamat menanti dan berwuquf di Padang Arafah dan melaksanakan rangkaian ibadah haji lainnya, semoga menjadi haji mabrur. Karena hanya surgalah balasan haji mabrur. Amin.
 
*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, dan Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, dan Ketua Rombongan 1 Kloter 16 SOC Jamaah Kota Semarang.
 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *