17 April 2026 15:00

DPC Permadani Tengaran, Selenggarakan Purwa Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabdha Angkatan/Bregada ke-52

0
WhatsApp Image 2022-07-06 at 05.25.20 (1)

Pembukaan Kelas Purwa Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabdha Angkatan/Bregada ke-52

OPINIJATENG.COM – Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) sudah banyak meluluskan siswanya sejak berdiri 4 Juni 1984. Di Kabupaten Semarang, Salatiga dan sekitarnya tahun 1991 sudah meluluskan 1000 lebih siswanya.

DPC Permadani Tengaran membuka Purwa Pawiyatan Panatacara Tuwin Pemedhar Sabdha Angakatan /Bregada ke-52.

Tujuan diadakannya program tersebut  kerena krisisnya pengguna bahasa Jawa yang semakin langka.

BACA JUGAKesadaran Memanfaatkan Transportasi Umum Harus Dibangkitkan, Pergerakan Mobilitas Penduduk dan Kendaraan Pasti Timbulkan Problema

Kepada Rasika FM,  Ketua Permadani Kabupaten Semarang Seno Wibowo, S.IP, MM mengatakan,  saat ini animo masyarakat untuk belajar bahasa jawa meningkat.Terlihat ditengarai terjadinya degradasi budaya daerah pada anak-anak, termasuk  kemampuan berbahasa Jawa.

Kemerosotan ini akibat orang tua yang membiasakan anak berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.

“Anak muda saat ini tidak mengenal pakaian dan berbahasa Jawa. Di rumah mereka  dibiasakan berbahasa selain bahasa daerah. Harapan kami agar masyarakat dalam keluarga tetap menggunakan bahasa Jawa,” ujar Seno saat  pembukaan  Purwa Pawiyatan Permadani Kabupaten Semarang cabang kecamatan Tengaran Bregada  52, di aula kecamatan Tengaran Selasa 5 Juli 2022, sore.

Lebih lanjut Seno berharap dengan adanya Permadani di kecamatan Tengaran bisa merubah mindset dan perilaku terhadap siswa pawiyatan akan budaya Jawa.

“Dibukanya kelas ini juga bertujuan agar siswa  pawiyatan bisa berbahasa jawa dengan baik dan benar serta dapat mengajarkan budaya Jawa  dilingkunggannya, terutama  kepada  keluarga dekat” ungkap Seno.

Dilain pihak Ia  memahami mengapa orang tua saat ini tidak menggunakan bahasa Jawa. Karena bahasa Jawa lebih rumit daripada bahasa lainnya.

“Saya lihat anak yang lahir tahun 70-an kesini sudah gagap ketika ditanya wayang, bahasa ngoko dan krama inggil. Tidak jarang mereka kesulitan membedakan bahasa krama inggil dan ngoko,” ungkapnya.

Orang tua justru membiasakan menggunakan bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Salah satu alasannya Karena dengan menguasai bahasa Inggris mereka mudah mendapatkan pekerjaan.

“Sebenarnya bahasa Jawa inikan bahasa ibu. Didalamnya ada filosofi budaya yang tinggi, bagaimana menghormati orang tua, menghormati sesama dan menghormati orang yang lebih tua. Sementara bahasa bahasa asing kita tidak mengerti filosofis didalam bahasa tersebut,” tambah  Seno.

BACA JUGAWuquf, Pengampunan Dosa, dan Kemabruran Haji

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Cabang Permadani Kecamatan Tengaran, Manto, S.Pd, M.Pd mengakui sejak dibentuk  tahun 2016 silam saat ini sudah ratusan  siswa yang bergabung atau sejak Angkatan ke-40

“Alhamdulilah siswa Permadani Tengaran saat ini beranggotakan dari berbagai kecamatan, sementara untuk Angkatan ke 52 ini sudah terdaftar  40 siswa,  kedepan harapannya  bertambah lagi dan semakin berkembang” ungkap Manto yang juga guru di SMP 2 Getasan ini.

Manto menambahkan  dengan adanya pawiyatan  Permadani kecamatan Tengaran semoga lulusannya nanti  bisa mengembangkan budaya jawa melalui siswa yang ada.

“Pembelajaran nantinya akan ditempuh dalam  40 kali pertemuan selama 5 bulan, siswa akan diajarkan Panatacara dan Pamedhar Sabdha, siswa juga bisa mengenal tradisi adat budaya jawa sehingga kebudayan jawa bisa berkembang baik ” harap  Manto.

Camat Tengaran, Dewanto Leksono Widagdo mengatakan pihak kecamatan menyambut baik atas dibukanya Permadani Angkatan ke-52 ini, dia berharap warga di Tengaran dapat bergabung untuk mendalami budaya jawa yang adhi luhung.

“Saya berharap warga Tengaran bisa memanfaatkan adanya Panatacara dan Pamedhar Sabda, terbukti sudah ribuan siswa yang telah lulus dan saat ini ilmunya bisa dipraktekkan dimasyarakat” ujar Dewo.

Pantauan Rasika FM, pada pembukaan  kelas Angkatan ke-52 ini sesama siswa sudah nampak akrab, mereka Sebagian besar adalah guru, perangkat desa serta tokoh agama dan pemuda juga ketua RT, dimana  dalam kehidupan sehari hari sering bersinggunggan  dengan kegiatan masyarakat yang  menggunakan Bahasa Jawa.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version