Yuk ke Semarang! Seru Eksplorasi Klenteng Sam Poo Kong, Kota Lama, dan Lawang Sewu
wisatawan lokal mengenakan baju kebesaran putri Tiongkok pada zaman Dinasti Ming, berfoto di Klenteng Sam Poo Kong Gedung Batu, Semarang
OPINIJATENG.COM – SEMARANG – Tiap liburan selalu berwisata ke Jogja atau Yogyakarta. Ganti haluan yuk! Di Kota Semarang ternyata banyak destinasi wisata yang layak dikunjungi.
Klenteng Agung Sam Poo Kong, adalah salah satu destinasi wisata sejarah religi di Kota Semarang yang layak dikunjungi wisatawan lokal maupun wisatawan manca.
Selain Klenteng Agung Sam Poo Kong juga ada destinasi yang tak kalah seru untuk dikunjungi, yakni Gedung Lawang Sewu yang di dalamnya ada Museum Kereta Api di Jl Pemuda Kompleks Tugu Muda.
Ada pula Kawasan Kota Lama dengan sejumlah bangunan yang monumental. Ada Gereja Blenduk, Ada Gedung Marba, dan segudang bangunan bersejarah yang sampai sekarang masih terawat apik.
BACA JUGA:Bus Trans Koetaradja Berkomitmen Beri Pelayanan Prima meskipun Gratis
Baiklah, kita bahas satu-satu ya.

Klenteng Agung Sam Poo Kong
Klenteng Agung Sam Poo Kong terletak di Jl Simongan No 129, Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Selain wisatawan lokal (Semarang dan sekitarnya), wisatawan Nusantara bahkan, tak jarang wisatawan luar negeri yang khusus datang ke Indonesia untuk mengunjungi Klenteng Agung Sam Poo Kong.
”Setelah pandemi, banyak wisatawan yang mengunjungi Klenteng Agung Sam Poo Kong. Kebanyakan wisatawan lokal, dari sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya, bahkan luar Pulau Jawa. Mungkin mereka sedang ada acara di Semarang kemudian berkunjung ke tempat-tempat wisata, termasuk Sam Poo Kong,” kata Chandra Budi Atmaja (68), pengelola Klenteng Agung Sam Poo Kong, kepada tim opinijateng.com.
Chandra menjelaskan keberadaan Klenteng Agung Sam Poo Kong tak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan muhibah Laksamana Cheng Ho atau Zheng He Admiral, seorang laksamana dari Kunyang, Yunnan, Tiongkok, zaman Dinasti Ming.
Yunnan, Tiongkok

Keberadaan Klenteng Sam Poo Kong sudah menarik wisatawan manca negara dan wisatawan Nusantara (wisman dan wisnu) sejak dulu. Bagi etnis Tionghoa, baik yang tinggal di Tiongkok (China) maupun yang tersebar di seluruh dunia, mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, adalah sama dengan ”tilik” leluhur.
Sebab, Laksamana Ceng Ho (Zheng He Admiral) berasal dari Kunyang, Yunnan, Tiongkok. Bagi wisatawan manca negara maupun dalam negeri, tentu keberadaan Klenteng Agung Sam Poo Kong tetap memilik daya tarik sejarah yang tinggi.
Cheng Ho adalah Duta Perdamaian. Dia memimpin armada yang terdiri atas puluhan kapal besar nan mewah mengunjungi tempat-tempat di seluruh penjuru dunia. Hal itu terjadi pada Dinasti Ming, masa Kekaisaran Yong Le. Saat itu Laksamana Cheng Ho memimpin armada muhibah mengunjungi negara-negara di seberang lautan sebagai Duta Perdamaian.
Cheng Ho lahir di Kunyang 1371 dan wafat 1435 (sebagian sejarawan meyakini Cheng Ho dimakamkan di Kota Semarang, Ibu Kota Jawa Tengah, Indonesia).
Pada tahun 1405, pelayaran muhibah pertama kali dilakukan. Cheng Ho memimpin 62 kapal besar nan megah berangkat dari Pelabuhan Luijiagang, Suzhou, berlayar menuju negeri Champa (Burma atau Thailand), kemudian menuju ke Pulau Sumatera, mampir di Kota Palembang, dilanjutkan ke Pulau Jawa, Srilanka, dan Kalikut (India Barat).
Dalam 7 kali pelayaran besar, Laksama Cheng Ho memimpin rombongan puluhan kapal mewah nan besar, telah mengunjungi Selat Hormuz, Teluk Parsi, Aden, Afrika, Modagishu, Burana (Somalia), dan Malindi (Kenya).
Menurut Gavin Menzies dalam bukunya ”1421 The Year China Discovered The World” sejumlah kapal dari armada di bawah pimpinan Hong Bao telah mencapai benua Amerika tahun 1421.
Gavin yang bernama lengkap Rowan Gavin Paton Menzies adalah seorang penulis (sejarawan/peneliti) asal Inggris.
Dia adalah seorang pensiunan komandan kapal selam (sub-marine) Inggris berpangkat pensiunan letnan. Selama hidupnya dia menulis buku-buku yang mempromosikan klaim bahwa orang Cina berlayar ke Amerika sebelum Columbus.

Gavin lahir di London, Inggris, 14 Agustus 1937 dan meninggal 12 April 2020 dalam usia 83 tahun.
Dalam buku tersebut Gavin menyatakan bahwa Laksamana Cheng Ho meninggal tahun 1435 dalam perjalanan dari Kalikut.
Kemudian jenazahnya dibuang di laut. Namun teori Gavin tidak sinkron dengan sejumlah sejarawan yang menyatakan bahwa Laksamana Cheng Ho meninggal di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Beruntung pada 2005 wartawan opinijateng.com sempat bertemu di Marina Bay, Singapura saat ”Peringatan 600 Tahun Perjalanan Muhibah Zheng He Admiral di Asia.”
BACA JUGA:Sertifikasi Tanah Pertanian, antara Untung dan Rugi
Dalam sebuah wawancara yang cukup ”gayeng” Gavin menyatakan bahwa rombongan kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho memang tidak mampir ke Singapura, namun mereka melewati pesisir Singapura dalam perjalanan menuju Pulau Sumatera.
Gavin juga mengatakan bahwa saat armada yang terdiri atas puluhan kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho mendekati Benua Australia, sebagian besar kapal yang termasuk dalam armadanya hancur berkeping-keping dan terdampar di pantai negeri Koala tersebut karena dihantam badai tsunami.
Dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok ke Klenteng Agung Sam Poo Kong
Keberadaan Klenteng Agung Sam Poo Kong erat kaitannya dengan perayaan Tahun Baru China Imlek. Ya, setiap menjelang atau saat Tahun Baru China atau Imlek warga masyarakat banyak melakukan sembahyangan di dalam Klenteng Sam Poo Kong. Warga sembahyangan di pagi, siang, dan sore.
Setiap memeringati Tahun Baru China atau Imlek, berbagai komunitas kebudayaan Tionghoa dan kebudayaan Jawa turut meramaikan prosesi budaya arak-arakan Sam Poo dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok menuju Klenteng Agung Sam Poo Kong di Gedung Batu Semarang.
Ratusan warga masyarakat dan wisatawan memenuhi jalan-jalan rute arak-arakan Sam Poo. Prosesi budaya arak-arakan Sam Poo sendiri dilaksanakan memperingati kedatangan Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang.
Prosesi budaya yang tiap tahun dilaksanakan dipusatkan di dua lokasi, yaitu Klenteng Tay Kak Sie dan Klenteng Agung Sam Poo Kong. Kedua tempat tersebut saling berkaitan dan merupakan tempat bersejarah bagi Laksamana Cheng Ho.
BACA JUGA:Ironi Bus Listrik di Dua Kota Bakal Mangkrak, Alasannya Anggaran lagi Anggaran lagi
Tak hanya kesenian Barongsai, Liong, dan Joli, yang memeriahkan arak-arakan, beberapa kesenian yang ada di Jawa Tengah turut hadir dalam prosesi.
Warga rebutan mengangkat joli Kongco Sam Poo Tay Djie (Cheng Ho) di Klenteng Sam Poo Kong.
Kongco Sam Poo Tay Djie adalah joli simbol dari Laksamana Cheng Ho, yang juga merupakan dewa dagang. Rangkaian prosesi budaya tersebut biasanya diawali doa, pagelaran seni budaya, dan pesta kembang api di Klenteng Sam Poo Kong dan Tay Kak Sie.
Setelah itu prosesi puncak yaitu arak-arakan Kongco Sam Poo Tay Djie. Biasanya diawali pagi hari dengan rute dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok – Jalan Kranggan Timur – Jalan Depok – Jalan Pemuda – Tugu Muda – Jalan Sugijopranoto – Jalan Bojongsalaman – Jalan Simongan – hingga ke Klenteng Agung Sam Poo Kong.
Sedangkan semua yang diarak akan kembali ke Tay Kak Sie pada siang hari lewat jalur yang sama.***
