Jihad Santri Jayakan Negeri

Prof Ahmad Rofiq
OPINIJATENG.COM – Bagi santri berjihad dan menjadi pahlawan yang berada di garda depan dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai “harga mati” dilaksanakan tanpa pamrih.
Judul di atas, yakni: Jihad Santri Jayakan Negeri, penulis ambil dari tema peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-8 tahun 2023. Dasar Penetapan Hari Santri Nasional ini adalah Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan, melalui Resolusi Jihad yang dipimpin langsung oleh KH Hasyim Asy’ary adalah bagian dari kewajiban agama, wajib ‘ain atau kewajiban individual, yang tidak bisa diwakilkan. Karena kemerdekaan adalah anugerah terbesar dalam ajaran Islam. Karena itu, sejak Rasulullah saw menerima mandat nubuwah, maka memerdekakan hamba sahaya, merupakan misi penting dalam menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang sejati.
Menurut GusMen – atau Gus Yaqut Cholil Qoumas — ada enam pelajaran penting dari logo peringatan HSN 2023 yang diperingati secara serentak, hari Ahad, 22 Oktober 2023.
1) Bendera Merah Putih dan Api yang Berkobar. Ini mengandung makna semangat nasionalisme. Salah satu ciri yang melekat pada diri santri adalah mencintai Tanah Air (hubbub al-wathan).
2) Jaringan Digital. Ini mengandung makna transformasi teknologi digital. Santri juga turut melakukan transformasi teknologi digital. Rujukannya adalah kaidah al-muhafadhah ‘ala l-qadim al-shalih wa l-akhdzu bi l-jadid al-ashlah artinya “memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik”.
3) Empat Pilar. Gambar ini bermakna empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
4) Titik Berwarna Kuning di Atas Empat Pilar. Ini mengandung makna santri siaga menjaga empat pilar kebangsaan.
5) Simbolisasi Huruf Nun. Bentuk huruf nun yang menyerupai tempat tinta adalah simbol pengetahuan, dan
6) Goresan Tinta. Ini mengandung makna jihad santri zaman ini adalah mengembangkan ilmu pengetahuan pesantren dengan kemajuan teknologi demi kejayaan negeri.
Momentum peringatan Hari Santri Nasional ke-8, menyisakan pekerjaan rumah dan sekaligus tantangan bagi para santri, agar terus menyiapkan diri menjadi calon-calon Ulama masa depan, yang selain mereka menjadi faqih/fuqaha’ fi d-din (sangat faham ilmu agama), ‘alim (berilmu banyak), ‘amil (pengamal ilmu agama), ‘abid (penghamba kepada Allah), wara’ (hidup wira’i dan berhati-hati terhadap hal makruh), dan al-‘arif biLlah (makrifat/mengenal Allah dengan baik), juga sekaligus mahir dalam ilmu umum, hukum, sosial, politik, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Manfaat Tersembunyi Air Es, Dahsyat Bisa Begini….
Proses dan pematangan santri menjadi ‘Alim atau Ulama, membutuhkan waktu yang cukup lama, penguasaan khazanah kitab kuning/turats yang banyak, bertingkat, dari yang dasar ibtida’i, tsanawi, ‘aliyah, dan bahkan ma’had ‘aly. Dan bahkan bisa setingkat doktor, meskipun di dalam tradisi pesantren gelar itu tidak penting karena kealiman – atau ‘allamah – seseorang, tidak dilihat dengan bertenggernya gelar, akan tetapi dari kefaqahahan (pemahaman ilmu fiqh), kealiman, kehidupan yang wira’i, kedekatannya kepada Allah dan juga masyarakat, sekaligus kezuhudannya terhadap materi duniawi. Karena orientasi hidup ulama, adalah untuk menebar ilmu, kasih sayang, dan menjadi pelita bagi masyarakatnya.
Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang waktu itu memang menghadapi penjajah secara fisik, perlu terus digelorakan dan ditransformasikan menjadi jihad bil ‘ilmi, bil fikri, dan jihad bil mal. Meskipun yang terakhir agak aneh, tetapi jika mengikuti model para ulama terdahulu, rata-rata para ulama banyak yang kaya, karena selain mengaji dan mengajarkan ilmu kepada para santri, mereka juga berdagang. Persis seperti yang dicontohkan Rasulullah saw sebelum menerima risalah nubuwwah.
Santri hari ini adalah Ulama masa depan. Jika perlu para santri sudah saatnya ada yang diamanati oleh para Kyai, untuk mengambil peran politik, agar supaya politik tidak dikuasai oleh orang-orang yang jahat. Tentu yang diposisikan sebagai ulama, jangan mudah tergoda oleh berbagai rayuan duniawi yang sangat transaksional. Sekali hal ini terjadi, maka marwah keulamaannya juga akan hancur berkeping-keping.
Allah ‘azza wa jalla, sudah mempercayakan bahwa hanya para Ulama-lah yang takut kepada Allah, juga para Ulama merupakan salah satu pilar tegaknya kehidupan di dunia ini. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Kalau saja tidak ada ilmu/fatwa/nasihat ulama, sungguh akan rusaklah orang-orang yang bodoh”. Ulama juga bertugas memberi nasihat kepada Umara’, agar di dalam memimpin negara dan pemerintahan senantiasa berlaku adil. Karena apabila, Umara memimpin secara tidak adil atau dhalim, maka sungguh antara sesama manusia saling “memangsa” satu sama lain.
Baca Juga: Cukup Klik One Touch di Android Kamu, Data BPS Jateng Ada di Genggaman
Selamat Hari Santri Nasional ke-8, 2023, Santri Berjihad, Jayalah Negeri. Hadana Allah wa iyyakum, la sabil al-haqq wa shirath al-mustaqim, Allah a’lam bi sh-shawab.
*)Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Wakil Ketua Harian Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Pusat, Ketua Bidang Pendidikan DP Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Ketua II Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW-DMI) Jawa Tengah, Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung Semarang, Anggota DPS BPRS Bina Finansia Semarang, dan Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang.***
