1 April 2026 22:52

Prof Ahmad Rofiq: MTQMN Ke-XVII Upaya Kemendikbudristek Mencetak Generasi Qurani dan Talenta Emas

0
Prof Ahmad Rofiq _

Prof Ahmad Rofiq

OPINIJATENG.COM – Kemendikbudristek menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Mahasiswa Nasional (MTQMN) Ke-XVII di Universitas Brawijaya, Malang, Jatim 3-10 November 2023.

MTQMN merupakan event dua tahunan yang digelar oleh Kemendikbudristek dalam upaya pengembangan talenta mahasiswa di bidang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

Tema yang diusung pada MTQMN tahun 2023 di Unibraw Malang adalah “Aktualisasi Nilai Qurani dalam Mencetak Talenta Emas Indonesia”.

Kebetulan saya diamanati sebagai ketua majelis cabang Fahmil Quran yang ternyata pesertanya cukup menggembirakan. Ada 47 regu dibagi dalam 12 sesi, di hari pertama yang tampil dan 48 atau 12 sesi di hari kedua.

Melihat tampilan mereka sebagai sampling bagaimana wajah perguruan tinggi umum melalui perspektif MTQMN ini, imaginasi saya melayang-layang pada masa depan 15-20 tahun wajah Indonesia, yang dalam mars MTQ diharapkan terwujud negeri yang gemah ripah loh jinawi tenterem kerto raharjo nir sambikolo, atau negeri yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur akan bisa terwujud.

BACA JUGA:El Nino Picu Gagal Panen,Turunnya Produksi Padi Jawa Tengah

Negeri yang sedang mensyukuri bonus demografi ini, harus memiliki kesadaran akademik dan spiritual yang dipandu oleh nilai-nilai dan rambu-rambu Alquran yang mampu mewujud dalam prilaku sehari-hari, agar keadilan dan kepastian hukum yang bersubtansikan kemashlahatan rakyat bisa terwujud dengan baik.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang oleh para pendiri (founding fathers) bangsa telah diletakkan fondasi dasar melalui Pancasila dan UUD 1945, ternyata di lapangan sedang menghadapi ujian yang sangat berat.

Menurut guru bangsa Gus Mus, dalam puisi satirenya mengatakan, ada Republik rasa Kerajaan. Bahkan kata banyak orang yang punya keberanian, ada mafia hukum. Ketua MKMK, Jimly Asshidiqie mengatakan masih adanya mafia peradilan di Indonesia. Hal itu ia sampaikan saat sidang dugaan pelanggaran kode etik Ketua MK Anwar Usman dan para hakim konstitusi.

Ada dua belas macam cabang yang dimusabaqahkan, yang meliputi tilawah, tartil, qiraat sab’ah, hifdhil qur’an 10, 20, dan 30 juz, khath, fahmil, syarhil, karya tulis Alquran, debat Bahasa Arab, debat Bahasa Inggris, desain aplikasi computer, dan musabaqah pembacaan maulid Nabi.

Generasi Qur’ani

Kegiatan MTQMN ini memang digelar dua tahun sekali, tentu manfaatnya sangat besar, utamanya di dalam ikhtiar mencetak generasi qur’ani. Secara sederhana dapat diformulasikan, sebagai generasi Khaira ummah, yang siap menjalankan tugas-tugas keumatan, yakni amar makruf, nahi munkar, dengan tetap berpijak pada keimanan kepada Allah Sang Maha Pencipta, Pengasih dan Penyayang, dan pengatur semua kehidupan ini.

Generasi qur’ani akan terpandu hidup dan kehidupannya oleh nilai dan spirit Alquran yang merupakan panduan akhlak Rasulullah saw, baik di dalam kehidupan keagamaan, yang meliputi akidah, praktik kehidupan sehari-hari, dan melahirkan akhlak, yang banyak disimplikasi menjadi budi pekerti yang mestinya lebih unggul, karena berdasarkan panduan dan bimbingan wahyu, yakni Alquran.

BACA JUGA:Munas Ke-3 ISMI, Ilham Habibie: Ekonomi Umat Bisa Maju jika Para Pengusaha Bersatu

Generasi qur’ani, tentu sangat menyadari akan pentingnya nilai-nilai kebhinnekaan dan kebangsaan, karena Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, kemudian Allah jadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, adalah untuk saling mengenal, dan saling bersaudara, dan saling tolong menolong dengan penuh kasih sayang.

Itulah kenapa Alquran dimaksudkan sebagai ajaran yang rahmatan lil alamin, kasih sayang bagi seluruh penduduk alam raya. Karena itu, generasi qur’ani, memiliki rasa kebangsaan (nasionalisme) yang memanifestasikan kecintaannya kepada agama dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat.

Generasi qur’ani mengedepankan kehidupan beragama yang moderat, menghormati pilihan agama orang lain, mengedepankan persaudaraan sejati, dan saling tolong menolong dengan sesama, tanpa membedakan agama dan kepercayaan masing-masing.

BACA JUGA:Jihad Santri Jayakan Negeri

Karena itu, bermusabaqah juga melatih dan membangun budaya persaudaraan, saling menghormati kompetensi, profesionalisme dan kapasitas keilmuan orang lain dengan sportif dan fairness.

Selamat bermusabaqah, para mahasiswa perguruan tinggi umum yang ke-XVII, semoga mampu memancarkan radiasi positif, di dalam menyiapkan generasi muda yang berkualitas, berkarakter akhlak Alquran, dan memiliki karakteristik keberagaman yang meyakini pilihan agama dan ritual peribadatan yang diikuti, namun sekaligus menghormati pilihan dan keberagamaan orang lain. Allah a’lam.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version