Bukan Sekadar Hobi! Program UNESCO dan SEVENTEEN Buktikan Kreativitas Anak Muda Bisa Mengubah Dunia

Paskah Hariyani
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
Ilustrasi peserta kegiatan UNESCO x SEVENTEEN dalam perayaan kreativitas dan kesejahteraan generasi muda di markas UNESCO pada 25 Juni 2026.

OPINIJATENG.COM – Kreativitas anak muda sering kali dianggap sebatas hobi, mulai dari membuat video, menari, menggambar, menulis, hingga mengembangkan komunitas. Padahal, jika mendapatkan dukungan yang tepat, ide-ide tersebut bisa berkembang menjadi gerakan nyata yang membantu menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat.

Hal inilah yang ingin diperkuat UNESCO bersama grup K-pop SEVENTEEN melalui program Going Together – For Youth Creativity and Well-Being. Program tersebut memberikan dukungan kepada anak muda yang memiliki gagasan kreatif untuk membawa perubahan positif di lingkungan mereka.

Pada Juni 2026, UNESCO mengumumkan tahap lanjutan program tersebut melalui Global Youth Grant Scheme – Scale-Up Phase. Sebanyak 10 proyek anak muda terpilih mendapatkan pendanaan tambahan dan pendampingan untuk memperluas dampak kegiatan mereka.

Langkah ini menjadi pengingat bahwa anak muda tidak hanya membutuhkan ruang untuk berekspresi, tetapi juga kesempatan, bimbingan, dan akses terhadap sumber daya agar ide mereka bisa berkembang.

Kreativitas Anak Muda Tak Harus Berhenti di Media Sosial

Di era digital, anak muda memiliki banyak cara untuk mengekspresikan diri. Media sosial menjadi tempat untuk membagikan karya, membangun komunitas, hingga memperkenalkan gagasan kepada publik yang lebih luas.

Namun, kreativitas tidak selalu harus berakhir pada popularitas atau jumlah pengikut. Karya kreatif juga bisa menjadi sarana untuk menjawab persoalan yang ada di sekitar.

Program UNESCO dan SEVENTEEN memperlihatkan bagaimana seni, literasi, pendidikan, dan aktivitas komunitas dapat digunakan untuk mendorong perubahan sosial.

Dalam program tersebut, sejumlah inisiatif menggabungkan kreativitas dengan isu penting, seperti kesehatan mental, kesetaraan pendidikan, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa anak muda memiliki potensi untuk menjadi penggerak perubahan, bukan sekadar penerima manfaat dari berbagai program pembangunan.

Dari Seni hingga Literasi, Ini Contoh Ide Anak Muda yang Berdampak

Program lanjutan UNESCO dan SEVENTEEN menghadirkan berbagai proyek dengan pendekatan yang berbeda sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

1. Seni untuk Melawan Diskriminasi

Di Meksiko, Aaron Matias Salazar Rios mengembangkan proyek Color y Coraje. Inisiatif ini menggunakan seni sebagai sarana untuk membahas rasisme dan mendorong akses pendidikan yang lebih setara.

Proyek tersebut telah memberikan dampak positif kepada lebih dari 500 anak muda. Pada tahap pengembangan, program ini menargetkan tambahan 300 siswa dan melibatkan 40 guru melalui kegiatan lokakarya serta penyediaan panduan pembelajaran.

Contoh ini memperlihatkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga bisa menjadi sarana pendidikan dan pembentukan kesadaran sosial.

2. Kreativitas untuk Menjaga Lingkungan

Di Ghana, Adigao Alvin Wenia memimpin Seeds For Change, sebuah inisiatif yang memadukan pendidikan iklim, seni daur ulang, dan kegiatan bercerita.

Program tersebut telah melibatkan lebih dari 300 siswa. Pada fase pengembangan, proyek ini menargetkan keterlibatan lebih dari 500 siswa serta pelatihan bagi 50 Climate Fellows untuk memperkuat edukasi lingkungan di kalangan sebaya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kampanye lingkungan dapat dikemas melalui aktivitas kreatif yang dekat dengan kehidupan anak muda.

3. Membuka Ruang Aman Lewat Seni

Di Kanada, Linda Wu menginisiasi proyek ThriveTogether untuk membantu mengatasi isolasi sosial dan memperkuat kesejahteraan mental anak muda.

Kegiatan yang dilakukan secara langsung maupun daring telah melibatkan lebih dari 180 anak muda. Kampanye media sosial proyek tersebut juga menjangkau lebih dari 18.000 orang.

Pada tahap pengembangan, proyek ini direncanakan menghadirkan lokakarya seni bersama mitra kesehatan seniman di Toronto, sekaligus menghasilkan pameran komunitas dan publikasi kreatif.

Ketiga contoh tersebut memperlihatkan bahwa satu gagasan sederhana dapat berkembang menjadi kegiatan yang bermanfaat ketika dirancang berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat.

Apa yang Bisa Dipelajari Anak Muda Indonesia?

Program internasional tersebut juga relevan bagi generasi muda Indonesia yang memiliki beragam potensi, mulai dari seni tradisional, musik, film pendek, desain digital, hingga gerakan sosial berbasis komunitas.

Di berbagai daerah, ide kreatif sebenarnya bisa dimulai dari persoalan sederhana. Anak muda dapat membuat dokumentasi budaya lokal, mengembangkan perpustakaan komunitas, mengadakan kelas seni bagi anak-anak, atau menginisiasi gerakan pengurangan sampah.

Kuncinya bukan selalu pada besarnya modal, melainkan kemampuan mengenali masalah, menyusun rencana, membangun kerja sama, dan mengukur manfaat kegiatan.

Dukungan dari sekolah, kampus, pemerintah daerah, komunitas, dunia usaha, serta lembaga pendanaan juga berperan penting agar inisiatif tersebut tidak berhenti setelah satu kegiatan selesai.

Selain itu, anak muda perlu dibekali kemampuan mengelola proyek, menyusun anggaran, berkomunikasi, dan mengevaluasi hasil. Dengan demikian, kreativitas dapat tumbuh menjadi program yang berkelanjutan.

Bukan Hanya Soal Pendanaan, tetapi Kesempatan untuk Berkembang

Salah satu pelajaran penting dari program UNESCO dan SEVENTEEN adalah bahwa dukungan kepada anak muda tidak cukup hanya berupa bantuan dana.

Program ini juga memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas agar para penerima dukungan mampu memperluas jangkauan kegiatan serta menjaga keberlanjutan proyek mereka.

Sebanyak 100 proyek yang didukung melalui program tersebut pada 2025 tersebar di 64 negara. Menurut UNESCO, inisiatif-inisiatif itu telah menjangkau lebih dari 21.000 penerima manfaat secara langsung dan melibatkan lebih dari 1,2 juta orang melalui kanal daring.

Pada tahap Scale-Up, sepuluh proyek terpilih memperoleh kesempatan untuk memperbesar dampaknya sepanjang 2026.

Artinya, gagasan kreatif membutuhkan ekosistem yang mendukung. Pendanaan dapat membantu memulai kegiatan, sedangkan pendampingan, kolaborasi, dan kemampuan mengelola program membantu menjaga keberlangsungannya.

Saatnya Mengubah Ide Menjadi Aksi Nyata

Kreativitas anak muda memiliki nilai lebih ketika mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Sebuah video dapat menjadi sarana edukasi, karya seni dapat menyuarakan persoalan sosial, dan komunitas kecil dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih luas.

Inisiatif UNESCO dan SEVENTEEN memberikan gambaran bagaimana ide yang dipimpin anak muda dapat memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menjangkau lebih banyak orang.

Bagi generasi muda Indonesia, pesan yang bisa diambil cukup jelas: jangan menunggu ide menjadi sempurna untuk mulai bergerak. Mulailah dengan mengenali persoalan di sekitar, mengajak orang lain berkolaborasi, dan membangun kegiatan yang manfaatnya bisa dirasakan bersama.

Sebab, kreativitas bukan hanya tentang menghasilkan karya yang menarik perhatian. Lebih dari itu, kreativitas juga merupakan kemampuan untuk menemukan jalan keluar, membangun kepedulian, dan menciptakan perubahan positif di tengah masyarakat.

Sumber referensi: UNESCO, UNESCO x SEVENTEEN Global Youth Grant Scheme – Scale Up Phase Enhanced Support for Youth Creativity and Well-Being.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *