OPINIJATENG.COM – Kota yang nyaman bukan hanya hasil dari pembangunan jalan, gedung, dan fasilitas umum. Di baliknya, ada kebutuhan masyarakat yang harus dipahami, termasuk suara anak muda yang setiap hari berhadapan dengan persoalan ruang publik, lingkungan, kreativitas, hingga kesempatan mengembangkan diri.
Gagasan tersebut menjadi relevan ketika kegiatan Cerita Kota Cerita Kita by APEKSI Muda digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, pada 4 September 2026. Kegiatan ini mempertemukan perspektif generasi muda dengan berbagai isu perkotaan, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara anak muda, komunitas, dan pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan kota.
Namun, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar terselenggaranya sebuah kegiatan: sejauh mana suara anak muda benar-benar memengaruhi keputusan yang menentukan kehidupan mereka di kota?
Kota Bukan Hanya Milik Mereka yang Duduk di Ruang Pengambil Keputusan
Selama ini, pembangunan kota sering kali lebih mudah dilihat melalui perubahan fisik. Jalan diperbaiki, taman dibangun, kawasan ditata, dan fasilitas publik diperbarui. Semua itu penting, tetapi belum tentu menjawab seluruh kebutuhan masyarakat.
Anak muda, misalnya, membutuhkan ruang yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga bisa digunakan untuk berkegiatan, berkarya, berdiskusi, dan membangun komunitas. Mereka membutuhkan akses terhadap fasilitas publik yang terjangkau, lingkungan yang sehat, serta kesempatan untuk mengembangkan potensi.
Sayangnya, kebutuhan tersebut tidak selalu terlihat apabila proses perencanaan hanya bertumpu pada sudut pandang pemerintah atau kelompok tertentu.
Di sinilah partisipasi generasi muda menjadi penting. Mereka bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan bagian dari masyarakat yang memahami persoalan kota melalui pengalaman sehari-hari.
Anak muda yang menggunakan transportasi umum, menghabiskan waktu di ruang publik, mengembangkan usaha kreatif, atau terlibat dalam komunitas memiliki pengalaman yang dapat memperkaya perencanaan pembangunan.
Karena itu, melibatkan mereka seharusnya tidak berhenti pada undangan menghadiri forum atau menyampaikan pendapat. Gagasan yang muncul juga perlu dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.
Dari Forum Diskusi Menuju Perubahan Nyata
Kegiatan seperti Cerita Kota Cerita Kita memiliki nilai penting karena membuka kesempatan bagi generasi muda untuk bertemu, bertukar pandangan, dan memahami persoalan perkotaan dari perspektif yang lebih luas.
Akan tetapi, keberhasilan forum semacam ini tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta, dokumentasi kegiatan, atau ramainya percakapan selama acara berlangsung.
Ukuran yang lebih berarti adalah apa yang terjadi setelah kegiatan selesai.
Apakah gagasan peserta ditindaklanjuti? Apakah komunitas mendapatkan dukungan untuk menjalankan program? Apakah ada ruang komunikasi lanjutan dengan pemerintah? Dan apakah masyarakat dapat melihat perubahan dari ide yang sebelumnya disampaikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar kegiatan partisipatif tidak berakhir sebagai agenda seremonial.
Pemerintah daerah dapat membuka jalur tindak lanjut melalui forum konsultasi rutin, program kolaborasi dengan komunitas, maupun mekanisme pengajuan gagasan yang transparan. Setiap usulan juga perlu mendapatkan kejelasan mengenai proses penilaian, kemungkinan pelaksanaan, serta alasan apabila belum dapat direalisasikan.
Dengan cara itu, anak muda tidak hanya merasa didengar, tetapi juga memahami bagaimana aspirasi mereka diproses.
Ruang Publik Harus Menjadi Tempat Bertumbuh, Bukan Sekadar Pajangan Kota
Salah satu persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda adalah ketersediaan ruang publik yang benar-benar bisa digunakan masyarakat.
Taman kota, pelataran, trotoar, dan ruang terbuka memiliki fungsi lebih luas daripada mempercantik wajah kota. Tempat-tempat tersebut dapat menjadi ruang pertemuan komunitas, pertunjukan seni, kegiatan olahraga, diskusi publik, hingga pengembangan kreativitas.
Kegiatan di Solo yang berlangsung di kawasan Pura Mangkunegaran juga mengingatkan bahwa ruang kota memiliki dimensi sosial dan budaya. Sebuah tempat tidak hanya memiliki nilai dari bentuk fisiknya, tetapi juga dari aktivitas, interaksi, dan pengalaman yang tumbuh di dalamnya.
Karena itu, perencanaan ruang publik perlu mempertimbangkan siapa yang dapat mengaksesnya, kegiatan apa yang diperbolehkan, dan bagaimana masyarakat dapat memanfaatkannya secara berkelanjutan.
Bagi anak muda, ruang publik yang terbuka dan inklusif bisa menjadi tempat untuk mengembangkan gagasan tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas komersial. Bagi kota, keberadaan ruang semacam itu dapat memperkuat hubungan sosial dan menghidupkan ekosistem kreatif lokal.
Tentu saja, pemanfaatannya tetap perlu memperhatikan kebersihan, keamanan, aksesibilitas, dan kepentingan masyarakat yang beragam.
Anak Muda Juga Perlu Membuktikan Gagasannya
Partisipasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Generasi muda juga memiliki peran untuk memastikan bahwa gagasan yang disampaikan tidak berhenti sebagai kritik atau wacana.
Persoalan sampah, misalnya, dapat direspons melalui gerakan komunitas yang konsisten. Keterbatasan ruang kreatif bisa dijawab dengan pemetaan lokasi yang berpotensi digunakan bersama. Sementara itu, kebutuhan informasi publik dapat didorong melalui inisiatif digital yang membantu masyarakat memahami persoalan di lingkungannya.
Langkah-langkah kecil tersebut tidak menggantikan tanggung jawab pemerintah. Sebaliknya, inisiatif warga dapat menjadi bukti kebutuhan di lapangan sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih terarah.
Anak muda juga perlu membangun budaya berdiskusi berdasarkan data, mendengarkan kelompok yang memiliki pengalaman berbeda, dan mengevaluasi dampak program yang dijalankan.
Dengan demikian, keterlibatan generasi muda tidak hanya ditandai oleh keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga kemampuan mengubah gagasan menjadi tindakan yang bermanfaat.
Masa Depan Kota Ditentukan oleh Kualitas Kolaborasi
Kota yang berkembang bukan berarti kota yang seluruh persoalannya telah selesai. Kota yang baik justru menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mengenali masalah, menyampaikan kebutuhan, dan bekerja sama mencari jalan keluar.
Melalui Cerita Kota Cerita Kita, APEKSI Muda menghadirkan ruang pertemuan bagi perspektif generasi muda mengenai kehidupan perkotaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat kolaborasi tersebut dapat berlanjut menjadi keterlibatan yang lebih konsisten.
Pemerintah perlu membuka akses partisipasi yang nyata. Komunitas harus memiliki kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan dan mengembangkan inisiatif. Sementara itu, anak muda perlu terlibat secara aktif, kritis, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, membangun kota bukan hanya tentang menentukan bagaimana sebuah wilayah akan terlihat beberapa tahun mendatang. Lebih dari itu, pembangunan harus menjawab pertanyaan tentang siapa yang dapat hidup dengan nyaman, siapa yang memperoleh kesempatan, dan siapa yang dilibatkan dalam menentukan arah perubahan.
Anak muda tidak cukup hanya menjadi penonton pembangunan kota. Mereka perlu mendapat ruang untuk ikut merancang, menguji, dan mengawal perubahan. Sebab, kota yang benar-benar menjadi milik bersama adalah kota yang tidak hanya mendengarkan cerita warganya, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk menentukan kelanjutannya.



