Opinijateng.com – Telaga Merdada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, menyimpan potensi yang lebih besar daripada sekadar panorama alam. Di balik keindahan telaga yang dikelilingi perbukitan, terdapat persoalan lingkungan, kebutuhan air pertanian, dan peluang ekonomi warga yang saling berkaitan.
Kondisi tersebut membuat pembenahan Telaga Merdada menjadi penting. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mulai memanfaatkan surutnya air pada musim kemarau untuk membersihkan eceng gondok yang menutupi permukaan telaga. Upaya ini diharapkan dapat memulihkan daya tarik kawasan ketika musim penghujan tiba dan volume air kembali meningkat.
Mengutip pemberitaan ANTARA pada 4 Oktober 2026, Telaga Merdada dipersiapkan sebagai destinasi wisata penyangga Dieng. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan kunjungan wisatawan di luar kawasan yang selama ini lebih ramai dikunjungi.
Bukan Hanya Soal Pemandangan, Telaga Merdada Juga Menyangga Kehidupan Warga
Selama ini, wisata alam kerap dinilai dari keindahan lanskap, fasilitas, dan banyaknya pengunjung. Namun, Telaga Merdada mempunyai peran lain yang tidak kalah penting, yakni mendukung kebutuhan air masyarakat dan pertanian di sekitarnya.
Pada musim kemarau, air telaga dimanfaatkan petani untuk mengairi lahan, termasuk tanaman kentang yang menjadi salah satu komoditas pertanian penting di kawasan Dieng. Ketika sumber air lain menyusut, keberadaan telaga semakin berarti bagi petani yang berusaha mempertahankan tanamannya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan wisata tidak bisa dilakukan dengan mengabaikan fungsi utama telaga bagi masyarakat.
Pengelolaan yang baik perlu mempertemukan kepentingan pariwisata, pertanian, dan kelestarian lingkungan. Dengan begitu, Telaga Merdada tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga tetap memberikan manfaat bagi warga yang menggantungkan kehidupannya pada sumber daya alam tersebut.
Eceng Gondok Jadi Tantangan dalam Mengembalikan Daya Tarik Telaga
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pertumbuhan eceng gondok. Tanaman air ini dapat berkembang dengan cepat dan menutupi permukaan perairan apabila tidak dikendalikan.
Hamparan eceng gondok yang terlalu luas bukan hanya mengurangi keindahan panorama, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Karena itu, pembersihan menjadi langkah penting untuk mendukung pemulihan kawasan.
Meski demikian, pekerjaan tidak cukup berhenti pada pengangkatan tanaman yang menutupi permukaan air. Pengelola juga perlu memperhatikan penyebab pertumbuhannya, pengelolaan gulma setelah diangkat, serta pemantauan kondisi air secara berkala.
Pendekatan tersebut diperlukan agar kegiatan pembersihan tidak sekadar memperbaiki penampilan telaga untuk sementara waktu, tetapi menjadi bagian dari pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan.
Peluang Membuka Destinasi Alternatif di Kawasan Dieng
Pengembangan Telaga Merdada juga sejalan dengan rencana Pemerintah Kabupaten Banjarnegara untuk mengembangkan wisata Zona 2 Dieng.
Dalam informasi yang dipublikasikan pada 9 September 2026, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara menyebut kawasan Zona 2 memiliki sejumlah destinasi potensial, antara lain Telaga Merdada, Telaga Dringo, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, dan Telaga Sewiwi.
Pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk memperluas persebaran wisatawan dan mengurangi penumpukan pengunjung di destinasi Zona 1, terutama saat berlangsungnya acara besar seperti Dieng Culture Festival.
Jika dikelola secara konsisten, Telaga Merdada berpeluang menjadi pilihan bagi wisatawan yang mencari suasana alam, lanskap perbukitan, dan pengalaman berwisata yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Namun, daya tarik baru tidak cukup dibangun melalui promosi. Kebersihan, akses jalan, fasilitas dasar, informasi bagi pengunjung, serta kepastian pengelolaan kawasan turut menentukan pengalaman wisatawan.
Wisata Berkualitas Tidak Harus Mengorbankan Alam
Ada satu tantangan penting dalam pengembangan Telaga Merdada: bagaimana meningkatkan jumlah kunjungan tanpa mengurangi fungsi ekologisnya.
Penataan kawasan perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Fasilitas wisata sebaiknya dibangun sesuai kebutuhan, sementara pengelolaan sampah, kebersihan telaga, dan perlindungan kawasan harus menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.
Keterlibatan masyarakat lokal juga penting. Warga dapat memperoleh peluang ekonomi melalui usaha makanan, produk pertanian, jasa wisata, maupun kegiatan pendukung lainnya. Dengan begitu, manfaat pariwisata tidak hanya dirasakan pengelola destinasi, tetapi turut mengalir kepada masyarakat sekitar.
Di sisi lain, wisatawan juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan tidak merusak lingkungan selama berkunjung.
Masa Depan Telaga Merdada Ditentukan oleh Konsistensi Pengelolaan
Pembenahan Telaga Merdada menjadi kesempatan bagi Banjarnegara untuk mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengejar popularitas, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan.
Keberhasilan upaya tersebut nantinya perlu dilihat dari beberapa hal, mulai dari membaiknya kondisi perairan, terjaganya ketersediaan air bagi masyarakat, meningkatnya kenyamanan pengunjung, hingga terbukanya peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Telaga Merdada memiliki modal berupa lanskap alam dan kedekatannya dengan kawasan wisata Dieng. Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi itu dikelola secara bertanggung jawab.
Jika keseimbangan antara lingkungan, pertanian, dan pariwisata dapat dijaga, Telaga Merdada bukan hanya berpeluang menjadi destinasi alternatif di Banjarnegara, melainkan juga contoh bahwa wisata alam yang menarik harus tumbuh bersama masyarakat dan kelestarian lingkungannya.



