OPINIJATENG.COM – Siapa sangka jajanan sederhana berbahan singkong bisa menjadi pusat perhatian ribuan orang? Di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, ondol bukan sekadar makanan tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya yang menyatukan masyarakat melalui gelaran Kuduran Budaya.
Tradisi ini kembali menarik perhatian dalam penyelenggaraan ke-16 yang berlangsung di Lapangan Desa Wanayasa pada Minggu, 27 September 2026. Salah satu daya tarik utamanya adalah bentangan ondol sepanjang 1.000 meter yang dikerjakan secara gotong royong.
Sekitar 1.700 pengunjung datang untuk menyaksikan rangkaian kegiatan tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya tarik ketika dikemas secara kreatif dan melibatkan masyarakat secara langsung.
Namun, daya tarik Kuduran Budaya Wanayasa tidak berhenti pada kemeriahan acara. Di balik jajanan singkong yang dibentangkan sepanjang satu kilometer, terdapat cerita tentang kebersamaan, kreativitas generasi muda, dan peluang memperkenalkan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas.
Ondol, Jajanan Sederhana yang Menjadi Identitas Budaya
Ondol merupakan jajanan tradisional berbahan dasar singkong yang diolah menjadi bulatan-bulatan, kemudian digoreng hingga matang. Makanan sederhana ini dikenal pula dengan sebutan ondol-ondol di sejumlah daerah.
Di Wanayasa, ondol memperoleh ruang yang lebih besar melalui Kuduran Budaya. Makanan yang biasanya dinikmati sebagai camilan itu diangkat menjadi bagian utama sebuah perayaan rakyat.
Bentangan ondol sepanjang satu kilometer menjadi simbol kreativitas masyarakat dalam mengolah potensi lokal menjadi atraksi budaya. Keunikan tersebut sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin mengenal tradisi masyarakat Banjarnegara.
Langkah ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus bergantung pada pertunjukan seni berskala besar atau bangunan bersejarah. Kuliner tradisional pun dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan karakter sebuah daerah.
Ribuan Warga Terlibat, Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama
Kuduran Budaya Wanayasa juga memperlihatkan bagaimana sebuah acara dapat menjadi ruang kolaborasi masyarakat.
Pada penyelenggaraan 2026, kegiatan ini melibatkan 360 orang dalam berbagai tugas. Mereka terdiri atas para pembawa dan pembentang ondol, pelukis lingkaran area bentangan, penjaga lokasi, hingga warga yang bertanggung jawab menyiapkan makanan.
Sebanyak 17 siswi SMKN 1 Wanayasa tampil sebagai bidadari ondol. Sementara itu, 192 siswa SMPN 1 Wanayasa bertugas sebagai pembentang ondol, didukung puluhan peserta lain yang memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik.
Keterlibatan pelajar menjadi hal penting. Generasi muda tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga mengambil bagian dalam pelaksanaan tradisi yang tumbuh di lingkungan mereka.
Pola seperti ini dapat menjadi cara untuk mengenalkan warisan budaya secara langsung. Anak-anak dan remaja belajar bahwa tradisi bukan semata-mata cerita masa lalu, melainkan sesuatu yang dapat mereka rawat dan kembangkan bersama.
Tradisi Lokal Bisa Membuka Peluang Ekonomi Kreatif
Kuduran Budaya juga menyimpan peluang bagi pengembangan ekonomi kreatif masyarakat setempat.
Ketika sebuah festival mampu menarik pengunjung dari berbagai wilayah, kebutuhan terhadap makanan, minuman, suvenir, serta layanan pendukung wisata berpotensi ikut meningkat. Pelaku usaha kecil dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan produk mereka.
Ondol, misalnya, berpeluang dikembangkan menjadi produk oleh-oleh dengan kemasan yang lebih menarik tanpa meninggalkan ciri khasnya. Cerita mengenai tradisi Kuduran Budaya dapat menjadi nilai tambah yang membedakannya dari jajanan singkong biasa.
Meski demikian, manfaat ekonomi tidak muncul secara otomatis hanya karena sebuah acara ramai. Pengelolaan stan usaha, kebersihan, kenyamanan pengunjung, promosi produk lokal, dan kesinambungan kegiatan tetap perlu diperhatikan.
Jika direncanakan dengan baik, festival budaya dapat menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi warga sekaligus memperkuat posisi Wanayasa sebagai tujuan wisata berbasis kearifan lokal.
Bukan Hanya Festival, tetapi Cara Merawat Ingatan Kolektif
Kuduran Budaya menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat terus hidup ketika masyarakat memiliki ruang untuk merayakannya bersama.
Di tengah perubahan gaya hidup dan semakin mudahnya budaya populer masuk melalui media digital, kegiatan semacam ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal identitas daerahnya melalui pengalaman nyata.
Tradisi juga tidak harus dipertahankan dalam bentuk yang sepenuhnya kaku. Kreativitas dalam penyelenggaraan, penggunaan media digital untuk promosi, serta keterlibatan pelaku ekonomi kreatif dapat membantu budaya lokal menjangkau audiens yang lebih luas.
Hal yang perlu dijaga adalah makna dan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik tradisi. Festival sebaiknya tidak hanya berorientasi pada jumlah pengunjung, tetapi juga memastikan bahwa nilai kebersamaan dan pengetahuan lokal tetap diwariskan.
Wanayasa Punya Potensi Wisata yang Bisa Dikembangkan Lebih Luas
Kecamatan Wanayasa memiliki potensi wisata yang tidak terbatas pada kegiatan budaya. Desa Wisata Wanayasa juga menawarkan daya tarik alam, seperti Air Terjun Sipawon, serta kawasan Sikelir Land yang menjadi salah satu pilihan singgah wisatawan.
Kombinasi wisata alam dan budaya tersebut dapat menjadi modal untuk membangun pengalaman berwisata yang lebih beragam.
Pengunjung dapat mengenal makanan tradisional, menyaksikan kegiatan masyarakat, sekaligus menikmati suasana alam di kawasan pegunungan. Namun, pengembangan paket wisata semacam ini membutuhkan informasi yang jelas, akses yang memadai, serta koordinasi antara masyarakat, pelaku wisata, dan pemerintah setempat.
Promosi digital juga dapat berperan penting. Dokumentasi festival, cerita tentang proses pembuatan ondol, dan profil warga yang terlibat bisa menjadi materi yang menarik untuk memperkenalkan Wanayasa kepada calon wisatawan.
Pada akhirnya, Kuduran Budaya memberi pelajaran bahwa kekuatan pariwisata daerah tidak selalu berasal dari sesuatu yang megah atau mahal. Potensi besar dapat tumbuh dari hal sederhana yang memiliki cerita, dikerjakan bersama, dan dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat.
Ondol mungkin hanya jajanan berbahan singkong. Namun, ketika disatukan dengan kreativitas dan semangat gotong royong, makanan tradisional itu mampu menjadi simbol kebersamaan sekaligus pintu untuk memperkenalkan kekayaan budaya Wanayasa kepada lebih banyak orang.
Sumber referensi: Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Bentang Ondol Seribu Meter Puncaki Gelaran Ke-16 Kuduran Budaya Wanayasa (28 September 2026), serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Desa Wisata Wanayasa dan Festival Bentang Ondol Wanayasa.



