OpiniJateng.com-Penerapan teknologi digital dalam dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebut pembelajaran coding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) baru diterapkan di sekitar 25 persen sekolah di Indonesia. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan satuan pendidikan dalam menghadapi perubahan kebutuhan kompetensi pada era digital.
Kebijakan pembelajaran coding dan AI menjadi salah satu langkah untuk membekali siswa dengan keterampilan yang relevan. Namun, penerapannya membutuhkan lebih dari sekadar memasukkan teknologi ke dalam kurikulum. Sekolah juga perlu menyiapkan tenaga pendidik, perangkat pembelajaran, serta akses internet yang memadai.
Pemerataan Akses Menjadi Tantangan Pendidikan Digital
Pembelajaran coding dan AI membuka peluang bagi siswa untuk mengenal teknologi sejak dini. Melalui materi tersebut, siswa dapat mempelajari cara berpikir logis, menyelesaikan masalah, memahami algoritma, hingga menggunakan teknologi secara bijak.
Meski demikian, tidak semua sekolah memiliki kondisi yang sama. Sekolah di wilayah perkotaan mungkin lebih mudah mengakses komputer dan jaringan internet. Sebaliknya, sejumlah sekolah di daerah masih menghadapi keterbatasan perangkat dan infrastruktur pendukung.
Perbedaan fasilitas ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Jika sekolah tidak memperoleh dukungan yang seimbang, penerapan pendidikan digital berisiko memperlebar kesenjangan kesempatan belajar antarsiswa.
Kesiapan Guru Tidak Bisa Diabaikan
Selain fasilitas, kemampuan guru menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran coding dan AI. Guru membutuhkan pelatihan yang sesuai agar mampu menjelaskan materi teknologi dengan metode yang mudah dipahami siswa.
Pemerintah dan penyelenggara pendidikan perlu memastikan pelatihan berjalan secara berkelanjutan. Pendampingan juga penting agar guru tidak sekadar mengenalkan aplikasi, tetapi mampu mengarahkan siswa untuk memahami manfaat, risiko, dan etika penggunaan AI.
Jangan Sampai Pendidikan Digital Hanya Menjadi Program
Capaian penerapan di sekitar 25 persen sekolah menunjukkan bahwa pengembangan pembelajaran coding dan AI masih membutuhkan proses. Pemerintah perlu memperhatikan kesiapan setiap sekolah sebelum memperluas pelaksanaannya.
Evaluasi berkala dapat membantu mengidentifikasi kendala, mulai dari kekurangan perangkat hingga kebutuhan peningkatan kompetensi guru. Dukungan tersebut juga perlu menyesuaikan kondisi sekolah di berbagai wilayah Indonesia.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan digital tidak cukup diukur dari jumlah sekolah yang menerapkan coding dan AI. Kualitas pembelajaran, kemampuan siswa, serta pemerataan akses harus menjadi bagian penting dari evaluasi.
Dengan perencanaan yang matang dan dukungan yang merata, pembelajaran coding dan AI berpeluang menjadi bekal penting bagi generasi muda. Tantangannya adalah memastikan setiap siswa memperoleh kesempatan yang adil untuk memahami teknologi, bukan hanya mereka yang bersekolah dengan fasilitas lengkap.


