OPINIJATENG.COM – Pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) di sekolah dasar membuka peluang baru bagi pendidikan Indonesia. Namun, penerapannya menghadapi tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghadirkan teknologi ke ruang kelas.
Kesiapan Sekolah Masih Menjadi Tantangan
Penelitian Fadhilah Darma Sulistyo dan Janiscus Pieter Tanesab dalam Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan mengungkapkan bahwa penerapan pembelajaran koding dan AI di sekolah dasar masih menghadapi kendala. Penelitian pada tiga SD negeri di Kota Depok menunjukkan bahwa kebijakan yang sama dapat berjalan berbeda karena setiap sekolah memiliki dukungan yang tidak seragam.
Keterbatasan buku dan panduan pembelajaran, pelatihan guru yang belum merata, serta minimnya pendampingan menjadi persoalan utama. Karena itu, keberhasilan pembelajaran digital membutuhkan dukungan yang lebih menyeluruh, bukan sekadar kebijakan dari pemerintah pusat.
Guru Membutuhkan Pendampingan Nyata
Guru memegang peranan penting dalam mengenalkan teknologi kepada siswa. Namun, sekolah perlu menyediakan materi ajar yang jelas, pelatihan sesuai kebutuhan, dan panduan penilaian yang mudah diterapkan.
Jika dukungan tersebut tidak merata, setiap sekolah berpotensi mengembangkan pembelajaran dengan kualitas berbeda. Kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan pendidikan, terutama antara sekolah yang memiliki fasilitas memadai dan sekolah dengan sumber daya terbatas.
Pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan pengawas sekolah perlu memperkuat pendampingan agar guru dapat menerapkan pembelajaran sesuai kondisi siswa.
Teknologi Harus Mendukung Cara Berpikir Anak
Pembelajaran koding dan AI seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat digital. Sekolah juga perlu mengembangkan logika, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta sikap kritis siswa terhadap teknologi.
Dengan dukungan yang tepat, pembelajaran ini berpotensi menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi perkembangan zaman. Namun, pemerintah perlu memastikan setiap sekolah memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi pendidikan digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Kesiapan guru, kualitas materi, dan pendampingan berkelanjutan menjadi fondasi agar inovasi pendidikan benar-benar memberikan manfaat bagi siswa.


