Bukan Cuma Nongkrong! Komunitas Cosplay dan Fotografi Surabaya Buktikan Anak Muda Bisa Berkarya

Paskah Hariyani
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
Ilustrasi komunitas cosplay yang menjadi ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan kreativitas dan berbagi minat terhadap anime serta gim. Salin caption

OpiniJateng.com – Anak muda Surabaya punya cara sendiri untuk mengubah hobi menjadi karya. Sebagian merancang kostum karakter anime dan gim, lalu tampil di panggung kompetisi. Sebagian lainnya membawa kamera ke jalanan, merekam kehidupan kota, dan memamerkan hasil jepretan di galeri seni.

Dua aktivitas itu tumbuh melalui komunitas yang memberi ruang bagi anak muda untuk belajar, bertukar pengalaman, dan mengembangkan kreativitas. Di Surabaya, komunitas cosplay COSURA dan Unit Kegiatan Mahasiswa Aktivitas Fotografi (UKM AFO) Universitas Negeri Surabaya menjadi contoh bagaimana kegemaran bisa berkembang menjadi kegiatan produktif.

COSURA, Tempat Penggemar Anime Mengasah Kreativitas

Setiap Jumat sore pukul 17.00, Bundaran Taman Bungkul menjadi salah satu titik berkumpul anggota COSURA. Mereka datang dengan kostum karakter anime, gim, atau film, sekaligus berbagi pengalaman tentang dunia cosplay.

Cosplay bukan sekadar mengenakan kostum. Penggemarnya juga mempelajari tata rias, penataan rambut palsu atau wig, pembuatan aksesori, hingga cara membawakan karakter di atas panggung.

COSURA bahkan menggelar kompetisi untuk memberi ruang bagi anggotanya menunjukkan kemampuan. Pada 10 Oktober 2026, komunitas ini mengadakan lomba coswalk bertema karakter gim Honkai: Star Rail di Ciputra World Surabaya. Kompetisi tersebut menawarkan total hadiah Rp8 juta dengan lima kategori penilaian. <Cite refs={[“turn454530view0”]}/>

Dari pertemuan rutin hingga panggung kompetisi

Aktivitas COSURA tidak berhenti pada pertemuan mingguan. Komunitas ini juga tampil dalam berbagai acara dan pertunjukan, termasuk kegiatan di luar Surabaya.

Ruang berkumpul seperti ini memberi kesempatan kepada anggota untuk saling membantu, terutama ketika menyiapkan kostum atau berlatih penampilan. Anggota yang lebih berpengalaman dapat berbagi pengetahuan, sementara anggota baru memperoleh kesempatan untuk belajar.

Dengan dukungan komunitas, cosplay berkembang menjadi kegiatan yang memadukan kreativitas, keterampilan teknis, dan keberanian tampil di hadapan publik.

Komunitas Fotografi Mengajak Anak Muda Membaca Kehidupan Kota

Jika COSURA mengekspresikan kreativitas melalui kostum dan karakter, UKM Aktivitas Fotografi Universitas Negeri Surabaya mengandalkan kamera untuk menangkap cerita di sekitar mereka.

Pada 13–15 Februari 2026, UKM AFO menggelar pameran fotografi bertajuk Arcana Dwipantara di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, kompleks Balai Pemuda. Pameran tersebut menampilkan 50 karya dari peserta kelas Hunting Baru dan Hunting Dasar. <Cite refs={[“turn454530view0”]}/>

Belajar fotografi bukan hanya soal teknik

Karya-karya yang tampil mengangkat beragam potret kehidupan, mulai dari aktivitas pasar tradisional, interaksi masyarakat di ruang publik, pekerja informal, hingga dinamika perkotaan Surabaya.

Tema tersebut menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya menuntut kemampuan mengoperasikan kamera. Seorang fotografer juga perlu mengamati lingkungan, memahami situasi, dan menentukan sudut pandang yang mampu menyampaikan cerita.

Ketua pelaksana pameran, Abel, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi puncak proses belajar selama satu semester. AFO ingin anggotanya mengembangkan kepekaan visual dan sosial, bukan sekadar menguasai teknik fotografi. <Cite refs={[“turn454530view0”]}/>

Pameran pun menjadi kesempatan bagi anggota untuk menguji kemampuan sekaligus menerima respons dari pengunjung. Pengalaman itu dapat membantu mereka memahami kekuatan karya dan menentukan arah pengembangan berikutnya.

Komunitas Menjadi Ruang Belajar di Luar Kelas

COSURA dan AFO bergerak di bidang berbeda, tetapi keduanya memiliki kesamaan. Mereka menyediakan lingkungan bagi anak muda untuk belajar melalui praktik, bertukar gagasan, dan membangun relasi dengan orang yang memiliki minat serupa.

Di komunitas cosplay, anggota dapat belajar merancang kostum, merias karakter, hingga membawakan pertunjukan. Sementara itu, komunitas fotografi memberi ruang untuk mengasah kemampuan visual, membaca realitas sosial, dan mempresentasikan karya kepada publik.

Kegiatan semacam ini juga melatih keterampilan yang berguna di luar hobi, seperti kerja sama, komunikasi, manajemen waktu, dan keberanian menerima masukan.

Kreativitas Anak Muda Butuh Ruang untuk Tumbuh

Perkembangan komunitas kreatif menunjukkan bahwa anak muda membutuhkan ruang untuk mencoba dan mengembangkan minatnya. Dukungan komunitas, kampus, penyelenggara acara, serta ruang seni dapat membantu mereka mengubah gagasan menjadi karya nyata.

Tentu, kreativitas tidak selalu langsung menghasilkan prestasi atau pendapatan. Proses belajar, kegagalan, dan latihan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Namun, ketika anak muda memiliki lingkungan yang mendukung, hobi dapat menjadi pintu masuk menuju keterampilan yang lebih matang. Dari kostum buatan sendiri hingga foto yang dipamerkan di galeri, setiap karya memperlihatkan proses belajar yang layak diapresiasi.

Surabaya pun menunjukkan bahwa aktivitas anak muda tidak selalu berhenti pada urusan berkumpul. Melalui komunitas cosplay dan fotografi, mereka bisa membangun jejaring, mengembangkan kemampuan, dan memperkaya kehidupan kreatif kota.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *