Bukan Sekadar Panggung Hiburan! Festival Soetedja Hidupkan Kembali Warisan Budaya Banyumas

Paskah Hariyani
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
Festival Soetedja menghadirkan pertunjukan seni dan budaya untuk memperkenalkan serta melestarikan warisan lokal Banyumas

OPINIJATENG.COM – Warisan budaya tidak cukup hanya dikenang. Masyarakat perlu mengenal, menyaksikan, dan memberi ruang agar kesenian daerah tetap hidup di tengah perubahan zaman. Semangat itulah yang mewarnai Festival Taman Budaya Soetedja x Banyumas Aesthetic Soetedja bertajuk Serayu Mendayu #3 di Purwokerto, 21–25 Oktober 2026.

Festival selama lima hari ini mempertemukan beragam ekspresi seni dan budaya Banyumas dalam satu ruang. Pertunjukan tradisional, teater, musik, pantomim, sastra, film, pameran seni rupa, hingga permainan tradisional menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Agenda tersebut bukan sekadar menawarkan hiburan. Festival juga membuka kesempatan bagi seniman, komunitas budaya, dan masyarakat untuk berinteraksi sekaligus mengenal kembali kekayaan lokal Banyumas.

Festival Soetedja Satukan Beragam Ekspresi Seni Banyumas

Kolaborasi Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB), dan para pelaku seni menghadirkan kegiatan dengan format yang beragam.

Penyelenggara memanfaatkan area dalam gedung dan ruang luar Taman Budaya Soetedja untuk menampung berbagai pertunjukan serta pameran. Konsep tersebut memberi ruang bagi kesenian tradisional maupun karya kreatif yang berkembang di kalangan generasi muda.

Dari Lengger hingga Ebeg, Tradisi Tetap Punya Panggung

Sejumlah kesenian lokal menjadi bagian penting dalam rangkaian festival. Tari Banyumasan, calung, bongkel, begalan, hingga ebeg memperlihatkan kekayaan tradisi yang tumbuh di wilayah Banyumas.

Festival juga menghadirkan pertunjukan teater, pantomim, musik, dan kegiatan sastra. Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus membatasi diri pada satu bentuk pertunjukan.

Sebaliknya, tradisi dapat terus berkembang melalui ruang perjumpaan dengan gagasan dan kreativitas baru, tanpa kehilangan akar budayanya.

Mendoan, Mino, dan Dolanan Lawas Ikut Mengenalkan Identitas Banyumas

Kekayaan Banyumas tidak hanya hadir melalui panggung kesenian. Kuliner dan permainan tradisional juga menjadi bagian dari warisan lokal yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat.

Mendoan dan mino, misalnya, memiliki tempat tersendiri dalam identitas kuliner Banyumas. Sementara itu, permainan tradisional menghadirkan kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal bentuk hiburan yang pernah dekat dengan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Melalui pameran Warisan Budaya Takbenda (WBTB), aktivitas permainan tradisional, dan kegiatan pendukung lainnya, festival memperluas cara masyarakat menikmati kebudayaan. Pengunjung tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga dapat mengenal tradisi melalui pengalaman yang lebih beragam.

Seni dan Budaya Perlu Dekat dengan Generasi Muda

Keterlibatan pelajar, mahasiswa, komunitas, serta pelaku seni menjadi salah satu unsur penting dalam keberlanjutan budaya daerah.

Lomba musik, lokakarya, pertunjukan, dan apresiasi karya memberikan ruang bagi generasi muda untuk belajar sekaligus menunjukkan kreativitas. Pendekatan ini dapat membantu kesenian lokal menjangkau penonton yang lebih luas.

Tantangannya, pengenalan budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan festival. Sekolah, komunitas, sanggar, dan ruang publik perlu ikut menjaga agar tradisi tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Taman Budaya Soetedja Jangan Hanya Ramai Saat Festival

Festival Soetedja juga membawa pesan penting tentang fungsi ruang kebudayaan. Gedung kesenian tidak cukup hanya menjadi tempat penyelenggaraan acara besar. Ruang tersebut perlu aktif melalui pertunjukan, latihan, diskusi, pameran, dan kegiatan komunitas secara berkala.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Banyumas, Ani, menekankan pentingnya memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat. Ia juga berharap kegiatan kebudayaan dapat berlangsung rutin, bukan hanya ketika festival digelar.

Harapan itu menjadi pekerjaan bersama bagi pemerintah daerah, seniman, komunitas, dan masyarakat. Keberadaan fasilitas kebudayaan akan memberi manfaat lebih besar ketika masyarakat mengenal, mengakses, dan memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Festival Budaya Bisa Memperkuat Ekosistem Kreatif Banyumas

Sekretaris DKKB, Djarot, menjelaskan bahwa penggabungan Festival Taman Budaya Soetedja dan Banyumas Aesthetic dilakukan karena keduanya memiliki ranah kegiatan yang berdekatan. Kolaborasi tersebut diharapkan membantu masyarakat mengikuti berbagai agenda seni dalam satu rangkaian.

Pengembangan festival juga membuka peluang bagi komunitas untuk membangun jejaring, memperkenalkan karya, dan menjangkau penonton baru. Dalam jangka panjang, kegiatan budaya yang konsisten dapat memperkuat ekosistem kreatif daerah.

Namun, keberhasilan tidak cukup diukur dari ramainya pengunjung selama lima hari. Keberlanjutan program, keterlibatan generasi muda, ruang tampil bagi seniman, serta tumbuhnya apresiasi masyarakat juga perlu menjadi perhatian.

Festival Soetedja telah menghadirkan beragam kekayaan budaya Banyumas dalam satu perhelatan. Tantangan berikutnya adalah menjaga semangat tersebut tetap menyala setelah panggung festival usai. Sebab, warisan budaya akan terus hidup bukan hanya karena pernah dipertunjukkan, melainkan karena masyarakat terus merawat dan mewariskannya.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *