SMK Negeri 1 Susukan Banjarnegara Gelar Fashion Show Hari Batik 2026, Dorong Kreativitas Generasi Muda

Katri Lestari
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!

OPINI JATENG – SMK Negeri 1 Susukan, Kabupaten Banjarnegara, menggelar Lomba Fashion Show Hari Batik 2026 dengan tema “Pesona Batik Nusantara dalam Kreasi Muda” pada Selasa, 13 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap warisan budaya Indonesia sekaligus mengembangkan kreativitas dan kepercayaan diri melalui dunia pendidikan.

Perlombaan yang berlangsung pukul 09.00–10.30 WIB tersebut melibatkan perwakilan murid dari setiap kelas. Masing-masing kelas diwajibkan mengirimkan sedikitnya dua peserta. Sebelum perlombaan dimulai, peserta mengikuti registrasi ulang dan pengambilan nomor dada pada pukul 08.30–09.00 WIB.

Baca juga: Virelia’s Love for Vintage: How Retro Style is Dominating Modern Fashion

Mengusung tema “Pesona Batik Nusantara dalam Kreasi Muda”, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menampilkan beragam kreasi busana batik yang menarik, rapi, dan sesuai dengan karakter serta usia mereka.

Fashion Show sebagai Sarana Pendidikan dan Pengembangan Karakter

Lomba fashion show tidak hanya menjadi ajang unjuk penampilan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran di luar kelas. Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh pengalaman untuk mengembangkan kreativitas, melatih keberanian tampil di depan umum, serta membangun rasa percaya diri.

Dalam perspektif pendidikan, kegiatan tersebut sejalan dengan pendekatan pembelajaran yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi secara menyeluruh. Aspek pengetahuan budaya, keterampilan berekspresi, kedisiplinan, dan kemampuan berkomunikasi dapat diasah melalui pengalaman langsung.

Siswa juga berkesempatan mengenal keberagaman motif dan karakter batik Nusantara. Pemahaman ini penting agar generasi muda tidak hanya mengenakan batik sebagai busana, tetapi juga mengenali nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Melalui kegiatan kreatif seperti ini, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang yang mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan kompetensi siswa.

Lima Guru Bertugas sebagai Dewan Juri

Untuk melakukan penilaian terhadap penampilan peserta, Lomba Fashion Show Hari Batik 2026 di SMK Negeri 1 Susukan melibatkan lima orang guru sebagai dewan juri, yakni Ines Septiya Rini, S.Pd.; Tunggul Wiratama, S.Pd.; Anis Listiani, S.Pd.; Ginanjar Lintang Suminar, S.Pd.; serta Moh Mumfasil, S.Pd., M.Pd.

Penilaian dibagi menjadi empat kriteria utama dengan bobot yang telah ditentukan.

Pertama, keserasian busana dan tema dengan bobot 30 persen. Aspek ini mencakup perpaduan warna, keharmonisan desain, serta kerapian busana batik yang dikenakan peserta.

Kedua, teknik catwalk dan ekspresi dengan bobot 30 persen. Penilaian meliputi kepercayaan diri, keluwesan saat berjalan, kesesuaian tempo dengan irama musik, serta ekspresi ketika berada di atas panggung.

Baca juga: Batik Lasem Rembang, Trend Batik Masa Kini

Ketiga, penampilan keseluruhan atau general impression dengan bobot 20 persen. Aspek ini mencakup kerapian pakaian, keserasian aksesori, tata krama, dan etika panggung.

Keempat, kreativitas dengan bobot 20 persen. Penilaian diarahkan pada inovasi dalam memadukan busana batik serta keunikan peserta dalam menerjemahkan tema ke dalam penampilan.

Pembagian kriteria tersebut memberikan gambaran bahwa penampilan terbaik tidak hanya ditentukan oleh busana yang menarik. Kreativitas, kemampuan berekspresi, kerapian, dan sikap selama mengikuti perlombaan juga menjadi bagian penting dari penilaian.

Menjaga Batik Tetap Relevan di Kalangan Generasi Muda

Batik merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Salah satu tantangan pelestarian budaya adalah menghadirkan batik dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan generasi sekarang tanpa menghilangkan nilai dan karakteristiknya.

Melalui tema “Pesona Batik Nusantara dalam Kreasi Muda”, siswa didorong untuk mengeksplorasi perpaduan busana batik secara kreatif. Inovasi dapat dilakukan melalui pemilihan warna, model busana, serta aksesori yang sesuai, dengan tetap memperhatikan kerapian, kesopanan, dan karakter peserta didik.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada pengenalan teori. Budaya dapat diperkenalkan melalui pengalaman langsung yang menyenangkan, partisipatif, dan memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi.

Bagi sekolah, kegiatan semacam ini juga menjadi sarana membangun lingkungan pendidikan yang menghargai kreativitas sekaligus menanamkan kepedulian terhadap identitas budaya bangsa.

Menghargai Proses dan Membangun Kepercayaan Diri Siswa

Dari sisi humanis, setiap peserta memiliki kesempatan untuk belajar melalui pengalaman mengikuti kompetisi. Keberanian tampil di hadapan penonton, kesiapan mengikuti aturan, dan kesungguhan dalam mempersiapkan penampilan merupakan bagian dari proses pengembangan diri.

Kompetisi yang sehat perlu memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan potensi terbaiknya tanpa mengabaikan pentingnya saling menghormati. Penilaian yang mengacu pada kriteria yang jelas juga dapat membantu peserta memahami aspek yang perlu dipertahankan maupun dikembangkan.

Dengan demikian, manfaat kegiatan tidak hanya terletak pada hasil akhir atau penentuan pemenang. Pengalaman berpartisipasi, belajar menerima penilaian, dan menghargai kemampuan peserta lain juga menjadi bagian dari pembentukan karakter.

Melalui Lomba Fashion Show Hari Batik 2026, SMK Negeri 1 Susukan Banjarnegara menghadirkan ruang bagi siswa untuk memadukan kreativitas, pendidikan karakter, dan apresiasi budaya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kecintaan generasi muda terhadap batik Nusantara sekaligus mendorong mereka menjadi pribadi yang percaya diri, kreatif, dan menghargai warisan budaya Indonesia.

Baca juga:

Semarang Fashion Trend 2022: Angkat Wastra Jawa dalam Panggung Mode

Pendidikan di Banjarnegara Mengkhawatirkan: Kekurangan Guru dan Minimnya Fasilitas Jadi Sorotan

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *