OpiniJateng.com-Harga bahan pangan bukan sekadar angka yang tercantum di pasar. Perubahannya dapat memengaruhi pengeluaran harian, terutama bagi keluarga yang harus membagi anggaran untuk kebutuhan dapur, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan lainnya.
Salah satu komoditas yang menarik perhatian adalah cabai rawit merah. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang diberitakan RRI dan ANTARA, harga rata-rata cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran secara nasional mencapai Rp105.300 per kilogram pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur belanja, terutama ketika harga sejumlah bahan makanan mengalami perubahan. Namun, harga nasional tidak selalu sama dengan harga di pasar tradisional maupun toko kelontong di setiap daerah.
Bagi masyarakat Jawa Tengah, memeriksa harga di pasar terdekat menjadi langkah penting sebelum menentukan anggaran belanja mingguan.
Cabai Mahal, Bukan Berarti Menu Keluarga Harus Berubah Drastis
Cabai merupakan bahan yang sering digunakan untuk membuat sambal, bumbu tumisan, hingga berbagai masakan rumahan. Ketika harganya tinggi, pengeluaran dapur bisa bertambah jika jumlah pembelian tidak disesuaikan.
Ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan keluarga untuk mengatasi situasi tersebut.
1. Beli Cabai Sesuai Kebutuhan
Membeli cabai dalam jumlah besar belum tentu lebih hemat, terutama jika bahan tersebut mudah membusuk sebelum digunakan.
Sesuaikan jumlah pembelian dengan kebutuhan memasak selama beberapa hari. Cara ini membantu mengurangi risiko bahan terbuang sekaligus menjaga pengeluaran tetap terkendali.
2. Sesuaikan Menu Tanpa Mengorbankan Gizi
Ketika harga cabai sedang tinggi, keluarga dapat mengurangi penggunaannya dan memilih bumbu alternatif sesuai jenis masakan.
Bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, atau rempah lain dapat dimanfaatkan untuk memperkuat cita rasa. Sementara itu, kebutuhan protein tetap bisa dipenuhi melalui telur, tahu, tempe, ikan, atau sumber protein lain sesuai anggaran.
3. Bandingkan Harga Sebelum Berbelanja
Jangan langsung membeli seluruh kebutuhan di satu tempat tanpa membandingkan harga. Pasar tradisional, warung, dan toko bahan pangan bisa memiliki harga berbeda.
Meski demikian, perhitungkan juga ongkos transportasi dan waktu perjalanan. Berbelanja lebih jauh demi selisih harga kecil belum tentu menghasilkan penghematan.
Beras dan Minyak Goreng Tetap Perlu Masuk Perhitungan
Selain cabai, beras dan minyak goreng merupakan kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam perencanaan anggaran rumah tangga.
Beras menjadi bahan pangan pokok bagi banyak keluarga, sedangkan minyak goreng digunakan untuk mengolah beragam menu sehari-hari. Pengeluaran untuk kedua komoditas tersebut perlu dihitung berdasarkan konsumsi rumah tangga, bukan sekadar mengikuti kebiasaan belanja sebelumnya.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membuat daftar kebutuhan mingguan. Pisahkan kebutuhan utama, seperti beras, telur, dan bahan protein, dari kebutuhan tambahan yang jumlahnya masih bisa disesuaikan.
Dengan begitu, keluarga dapat menentukan prioritas tanpa harus mengorbankan kebutuhan penting lainnya.
Empat Kebiasaan yang Membantu Belanja Dapur Lebih Hemat
Buat Anggaran Sebelum Pergi ke Pasar
Tentukan batas pengeluaran dan susun daftar belanja berdasarkan menu yang akan dimasak. Cara ini membantu mengurangi pembelian impulsif.
Manfaatkan Bahan Pangan Lokal
Pilih sayuran dan bahan pangan yang sedang tersedia melimpah di daerah sekitar. Selain memberikan variasi menu, langkah ini dapat menjadi alternatif ketika harga bahan tertentu sedang tinggi.
Simpan Bahan Pangan dengan Benar
Pisahkan bahan yang mudah rusak dan simpan sesuai karakteristiknya. Penyimpanan yang tepat membantu menjaga kualitas bahan sekaligus mengurangi pemborosan.
Evaluasi Pengeluaran Setiap Minggu
Catat pengeluaran untuk bahan makanan dan bandingkan dengan anggaran yang sudah dibuat. Dari catatan tersebut, keluarga dapat mengetahui komoditas yang paling banyak menyerap biaya dan menentukan bagian yang masih bisa dihemat.
Pantau Harga Pangan, Jangan Hanya Mengandalkan Informasi Nasional
Data harga pangan nasional berguna untuk melihat gambaran umum kondisi pasar. Namun, masyarakat sebaiknya tetap memeriksa harga aktual di wilayah masing-masing sebelum mengambil keputusan belanja.
Informasi dapat dibandingkan melalui PIHPS Nasional Bank Indonesia dan laporan harga pangan dari instansi terkait. Perbedaan wilayah, kualitas komoditas, dan jenis pasar dapat menyebabkan harga yang dibayarkan konsumen berbeda dari angka rata-rata nasional.
Bagi keluarga di Jawa Tengah, kebiasaan memantau harga lokal dan merencanakan menu mingguan bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga anggaran tetap sehat.


