Demo Dawet Ayu Mewarnai Jambore Kwarran Banjarnegara 2025
Jasmine Shabria putri Bupati Banjarnegara sekaligus siswa kelas V SD Negeri 1 Krandegan menyimak dengan antusias proses pembuatan dawet ayu Banjarnegara
OPINI JATENG.COM. Jambore Kwartir Ranting Banjarnegara hari ke-2 dengan kegiatan menyenangkan untuk menambah wawasan dan melatih berbagai keterampilan untuk menambah skill dan kecakapan dalam berbagai hal.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan yaitu peserta mengikuti demo membuat minuman khas Dawet Ayu Banjarnegara yang didemonstrasikan oleh Ibu Andisi pegiat minuman tradisional dawet ayu dari Desa Wanasari, Argasoka Banjarnegara.
Kegiatan bertempat di aula Kelurahan Argasoka diawali dengan pengarahan dari Lurah Argasoka, Fajar Kasmuri yang menyampaikan manfaat mengenalkan tentang budaya Banjarnegara dalam bentuk makanan dan minuman tradisional.
Fajar menjelaskan sekilas tentang sejarah dawet ayu Banjarnegara dan mengenalkan bahan-bahan yang digunakan kepada peserta jambore.
“Dawet ayu merupakan minuman asli khas Banjarnegara.Dawet dibuat dari rebusan tepung beras. Warna hijaunya berasal dari pewarna alami dari perasan daun pandan. Pemanisnya dari gula kelapa, dan santannya alami dari perasan buah kelapa segar.”jelasnya.
Dia menambahakan, saat ini dawet ayu Banjarnegara mudah ditemukan di berbagai kota. Perpaduan yang tepat antara cendol beraroma pandan, santan yang dipadu dengan gula aren dan durian merupakan cita rasa khas dawet ayu Banjaarnegara.
Dulu ada cerita bahwa nama “Ayu” (cantik) berasal dari seorang penjual dawet yang memiliki paras cantik, atau dari istri penjual yang juga cantik.
Wiwi Sugi Astuti,S.Pd.SD.selaku Ketua Koordinator kegiatan menjelaskan peserta dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok demonstrasi proses membuat makanan tradisional tempe bertempat di aula Kecamatan Banjarnegara dan kelompok mendemonstrasikan proses membuat minuman tradisional dawet ayu.
Menurut Kak Wiwik panggilan akrabnya, dawet ayu sebagai bagian integral dari budaya Banjarnegara yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang mencerminkan komoditas dan keunikan khas Banjarnegara.
“Keunikan cita rasa khas inilah sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Banjarnegara yang harus dilestarikan, karena itu peserta diharapkan turut andil dalam melestarikan budaya lokal Banjarnegara,”katanya.
“Kegiatan ini bertujuan agar peserta lebih mengenal makanan dan minum tradisional dan mengenalkan produk kearifan lokal Banjarnegara,serta melatih keterampilan, kecakapan dalam mengolah bahan yang ada di Banjarnegara,”imbuhnya.
Peserta jambore di sela-sela proses pembuatan dawet ayu sangat antusias menanyakan bahan-bahan yang digunakan sampai takaran yang pas bahkan peserta berebut untuk mencoba langsung cara membuat dawetnya secara bergantian.
Salah satu peserta, Jasmine Sabhria Qisya yang merupakan putri Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, kelas 5 SD Negeri 1 Krandengan sangat antusias menyimak proses pembuatan dawet ayu dan pertama kali mencicipi hasilnya.
“Wah,..dawet ayu Banjarnegara segeeeerrrr……”ungkapnya dengan ekspresi lucu menggemaskan.
Peserta Jambore dibekali berbagai keterampilan untuk menambah wawasan dan pengalaman yang berharga bagi mereka sebagai bekal saat terjun di masyarakat dan memiliki skill yang menjadi bekal hidup di masa depan.
Kegiatan tersebut selain membekali peserta dengan keterampilan sekaligus meningkatkan karakter tentang kemandirian, kepemimpinan, bertanggung jawab kerja sama tim, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.
Dalam Jambore diharapkan peserta ditempa menjadi pribadi yang tangguh, cerdas, peduli, dan berjiwa pemimpin. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks sebagai generasi muda yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan spiritual dan memiliki skill yang terampil di segala bidang.***





