OPINIJATENG.COM – Festival budaya kerap menjadi magnet bagi masyarakat. Pertunjukan musik, tarian tradisional, kuliner khas, hingga aktivitas komunitas mampu menghadirkan suasana meriah sekaligus mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam satu ruang publik.
Namun, keberhasilan sebuah festival seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya pengunjung yang datang. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni kesempatan bagi seniman untuk berkarya, pelaku usaha lokal untuk mendapatkan penghasilan, serta budaya daerah untuk terus dikenal generasi muda.
Persoalan tersebut tergambar dalam penelitian berjudul Pengelolaan Seni Pertunjukan dalam Festival Ca’ma Ca’ma: Studi pada Ruang Ekspresi Budaya Urban di Makassar yang diterbitkan dalam Jurnal Pakarena pada Desember 2025.
Penelitian tersebut mengkaji Festival Ca’ma Ca’ma yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kota Makassar. Kegiatan ini memadukan seni pertunjukan, musik, tari kontemporer berbasis tradisi, serta promosi kuliner khas Sulawesi Selatan.
Festival itu memperlihatkan bahwa budaya tradisional dapat hadir berdampingan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan. Akan tetapi, penelitian tersebut juga menemukan sejumlah persoalan dalam pengelolaan teknis acara.
Festival Budaya Bisa Menjadi Ruang Kreativitas Anak Muda
Salah satu tantangan pelestarian budaya adalah bagaimana membuat tradisi tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Generasi muda saat ini memiliki banyak pilihan hiburan. Mereka dapat menikmati musik, film, dan pertunjukan melalui perangkat digital tanpa harus keluar rumah. Karena itu, festival budaya perlu menawarkan pengalaman yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memberikan ruang bagi keterlibatan langsung.
Festival seperti Ca’ma Ca’ma menunjukkan potensi tersebut melalui perpaduan pertunjukan seni dan kuliner. Budaya tidak hanya ditampilkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dihadirkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Pendekatan ini penting bagi daerah lain, termasuk di Jawa Tengah. Berbagai kesenian lokal dapat dikemas secara kreatif tanpa harus kehilangan identitas aslinya.
Tari tradisional, musik daerah, teater rakyat, kerajinan, dan kuliner khas bisa menjadi bagian dari festival yang dekat dengan kehidupan anak muda. Kuncinya adalah memberikan kesempatan kepada komunitas lokal untuk terlibat dalam perencanaan maupun pelaksanaan acara.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai pelaku seni, pengelola acara, pembuat konten, hingga penggerak komunitas budaya.
Ketika Festival Ramai, Mengapa Kenyamanan Seniman Tetap Penting?
Penelitian mengenai Festival Ca’ma Ca’ma juga mengungkap persoalan yang sering luput dari perhatian publik, yaitu kesiapan fasilitas bagi para pelaku seni.
Dalam temuan penelitian tersebut, ketiadaan ruang tunggu atau backstage yang memadai menyulitkan seniman mempersiapkan penampilan. Selain itu, penataan area makan yang kurang fungsional turut menjadi catatan dalam penyelenggaraan acara.
Hal ini menunjukkan bahwa kemeriahan festival belum tentu sejalan dengan kualitas pengelolaannya.
Panggung yang megah dan jumlah pengunjung yang besar memang dapat menarik perhatian. Namun, penyelenggara juga perlu memastikan seniman memiliki ruang untuk berganti kostum, mempersiapkan diri, menyimpan perlengkapan, dan beristirahat sebelum tampil.
Kenyamanan tersebut bukan fasilitas tambahan yang bisa diabaikan. Seniman merupakan bagian utama dari festival budaya, sehingga kebutuhan mereka harus menjadi pertimbangan sejak tahap perencanaan.
Selain itu, penataan ruang pengunjung, jalur keluar-masuk, fasilitas kebersihan, serta antisipasi cuaca juga perlu diperhitungkan. Perencanaan yang matang dapat membantu mengurangi risiko sekaligus meningkatkan pengalaman semua pihak yang terlibat.
UMKM Lokal Jangan Hanya Menjadi Pelengkap Acara
Festival budaya juga memiliki peluang untuk mendorong perputaran ekonomi masyarakat. Ketika pengunjung datang, pedagang makanan, perajin, penyedia jasa, hingga pelaku usaha kreatif berpotensi memperoleh manfaat.
Namun, manfaat ekonomi tersebut tidak akan muncul secara otomatis hanya karena sebuah acara ramai.
Penyelenggara perlu merancang penempatan stan yang mudah diakses, menyediakan ruang usaha yang layak, serta memberikan informasi yang jelas mengenai biaya dan ketentuan bagi peserta. Promosi terhadap produk lokal juga dapat dilakukan sebelum, selama, dan setelah festival berlangsung.
Pelaku UMKM sebaiknya dilibatkan sejak tahap perencanaan. Dengan begitu, mereka tidak sekadar menjadi pengisi area komersial, tetapi turut menjadi bagian dari identitas acara.
Di sisi lain, penyelenggara dapat mengevaluasi dampak ekonomi festival melalui jumlah usaha lokal yang terlibat, transaksi yang tercatat, serta peluang kerja sama yang terbentuk setelah kegiatan selesai.
Ukuran keberhasilan seperti ini memberikan gambaran lebih utuh dibandingkan sekadar menghitung jumlah pengunjung atau menilai kemeriahan panggung.
Pemerintah Daerah Perlu Mengubah Cara Mengukur Keberhasilan Festival
Festival budaya membutuhkan dukungan anggaran, sumber daya manusia, koordinasi, dan perencanaan teknis yang baik. Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan bahwa penyelenggaraan acara tidak berhenti pada agenda seremonial tahunan.
Salah satu pelajaran dari penelitian Festival Ca’ma Ca’ma adalah pentingnya memperkuat tahapan riset, desain, dan perencanaan sebelum acara dilaksanakan.
Penyelenggara perlu memahami kebutuhan seniman, karakteristik pengunjung, kapasitas lokasi, serta potensi risiko yang mungkin muncul. Evaluasi setelah acara juga perlu dilakukan agar kekurangan yang sama tidak terus berulang.
Untuk daerah di Jawa Tengah, pendekatan ini dapat diterapkan dalam penyelenggaraan festival seni, pertunjukan tradisional, agenda pariwisata, maupun kegiatan kebudayaan berbasis komunitas.
Pemerintah dapat membangun kolaborasi dengan sanggar seni, sekolah, komunitas pemuda, pelaku UMKM, dan pengelola destinasi wisata. Kolaborasi tersebut berpotensi memperluas manfaat kegiatan sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap budaya lokal.
Festival yang Baik Meninggalkan Dampak, Bukan Sekadar Kenangan
Pada akhirnya, festival budaya seharusnya menjadi ruang yang mempertemukan kreativitas, identitas daerah, dan peluang ekonomi masyarakat.
Pengunjung memang penting, tetapi mereka bukan satu-satunya pihak yang perlu diperhatikan. Seniman membutuhkan fasilitas yang layak, pelaku UMKM membutuhkan kesempatan usaha, dan masyarakat membutuhkan ruang untuk mengenal sekaligus mengembangkan kebudayaannya.
Festival yang dikelola dengan baik dapat menghadirkan pengalaman menyenangkan sekaligus membuka peluang kolaborasi jangka panjang.
Karena itu, ukuran keberhasilan festival budaya perlu diperluas. Bukan hanya seberapa ramai acaranya, melainkan juga seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh orang-orang yang membuat acara itu hidup.
Jika prinsip tersebut diterapkan secara konsisten, festival budaya tidak hanya menjadi agenda hiburan sesaat. Kegiatan itu dapat berkembang menjadi investasi sosial dan ekonomi yang memperkuat identitas daerah sekaligus memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk berkarya.
Sumber referensi: Muchlis, Nur Farah Fajriaty, dan rekan-rekan penulis, “Pengelolaan Seni Pertunjukan dalam Festival Ca’ma Ca’ma: Studi pada Ruang Ekspresi Budaya Urban di Makassar,” Jurnal Pakarena, Vol. 10, No. 2, Desember 2025.



