By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Ketulusan Cinta
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Ruang Ekspresi

Ketulusan Cinta

Marzy Kris
Last updated: 16 Maret 2025 04:31 04:31
By Marzy Kris
4 Min Read
Share
Ilustrasi Ketulusan Cinta/S_Marzy
SHARE

OPINIJATENG.COM-Andrian duduk di teras rumah ibunya, memandangi hamparan sawah yang menguning di kejauhan. Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya, membawa serta kenangan pahit yang masih menghantuinya. Penyesalannya terhadap perlakuan kepada ibunya, Ningsih, masih terasa menusuk di hati. Setahun ia mengabaikan wanita yang telah melahirkannya demi mengejar cinta Elsa, yang kini telah menjadi masa lalu. Ia telah kembali, meminta maaf, dan berharap bisa menebus kesalahannya. Namun, perasaan bersalah itu masih belum sepenuhnya sirna.

Suatu malam, Andrian memberanikan diri untuk berbicara dengan ibunya. Ia menemukan Ningsih sedang duduk di ruang keluarga, merapikan pakaian anak-anaknya.

“Bu…,” panggilnya lirih.

Ningsih menoleh, menatap putranya dengan lembut. “Ada apa, Nak?”

Andrian menarik napas dalam. “Aku ingin minta maaf, Bu. Aku sudah banyak menyakiti Ibu. Aku meninggalkan Ibu demi seseorang yang bahkan tak mau menerima anak-anakku. Aku begitu buta hingga mengabaikan orang yang selalu mencintaiku tanpa syarat.”

Ningsih meletakkan pakaian yang dilipatnya, lalu menatap Andrian dengan mata berkaca-kaca. “Nak, seorang ibu tidak pernah menyimpan dendam pada anaknya. Ibu hanya ingin melihatmu bahagia. Kalau sekarang kau sadar dan ingin kembali, itu sudah cukup bagi Ibu.”

Andrian menundukkan kepala, menahan air mata yang hampir jatuh. “Tapi aku terlalu egois, Bu. Aku tak pernah berpikir betapa berat beban Ibu harus mengurus anak-anakku sendirian. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri.”

Ningsih tersenyum, lalu mengulurkan tangannya, menggenggam tangan putranya erat. “Tidak ada yang terlambat, Nak. Yang penting sekarang kau ada di sini, bersama anak-anakmu. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”

Andrian tak bisa menahan diri lagi. Ia meraih tangan ibunya dan mengecupnya penuh haru. “Terima kasih, Bu. Aku janji tidak akan mengecewakan Ibu lagi. Aku akan menjadi ayah yang lebih baik untuk anak-anakku.”

Ningsih mengusap kepala putranya dengan penuh kasih. “Ibu percaya padamu, Nak. Semoga Allah selalu membimbing langkahmu.”

Proses perceraian Andrian dengan Elsa di Pengadilan Agama masih berlangsung. Elsa tidak menerima begitu saja atas keputusan cerai Andrian. Ia menuntut tunjangan yang besar.

“Berikan saja, Nak,” kata Pak Dhanu, ayah angkatnya.

“Tapi Elsa sudah keterlaluan, Pak. Dia tak ada rasa Syukur,” ucap Andrian.

“Harta bisa dicari, yang terpenting sekarang kebahagianmu dan anak-anak,” ujar lelaki tua itu sambil meletakkan kacamata bacanya.

“Bapak yakin dalam satu tahun, kamu bisa mendapatkan lebih,” lanjut Pak Dhanu sambil mengisap cerutunya.

“Baik, Pak. Saya akan menuruti permintaan Elsa,” kata Andrian.

“Perbaiki hubunganmu dengan Tuhanmu, dengan ibumu, dan juga anak-anakmu. Anggap jalan hidupmu sebagai cobaan untuk mencapai kemuliaan,” nasehat Pak Dhanu.

Sejak saat itu, Andrian mulai aktif dalam kegiatan sosial bersama ayah angkatnya. Mereka membangun masjid dan sekolah-sekolah untuk masyarakat kurang mampu. Selain itu, Andrian juga mulai mendalami ilmu agama, mencoba memahami arti hidup yang sesungguhnya.

Hari demi hari, ia berusaha menata ulang kehidupannya. Ia bekerja sambil mengurus anak-anaknya yang selama ini dirawat oleh ibunya. Perlahan, ia merasa hidupnya lebih terarah. Namun, ada satu hal yang masih belum ia pikirkan: menikah lagi.

Banyak orang menyarankan agar ia mencari pendamping baru, seseorang yang bisa mendampinginya dan mengasuh anak-anaknya. Tetapi, Andrian masih ragu. Ia ingin memastikan bahwa hatinya benar-benar siap sebelum membuka lembaran baru.

Suatu sore, saat ia sedang bermain dengan anak-anaknya di teras rumah, ibunya duduk di dekatnya dan tersenyum hangat.

“Nak, jangan takut untuk kembali mencintai. Hidup ini masih panjang. Temukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia, tapi kali ini, pastikan dia bisa mencintaimu dan anak-anakmu dengan tulus.”

Andrian mengangguk, merenungi kata-kata ibunya. Ia tahu, perjalanannya masih panjang, tapi ia juga tahu, kali ini ia tidak akan berjalan sendiri. Ia telah menemukan kembali cinta yang sejati—cinta seorang ibu dan anak-anaknya. Ketulusan cinta mereka cukup sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik.***

You Might Also Like

Orang Ketiga-5
Puding Gula Merah, Bisnis Kuliner Modal Sak Iprit Untung Selangit
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 110
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 8
7 Kegiatan yang Selalu Dirindukan saat Bulan Ramadan, Salah Satunya Ngabuburit
TAGGED:cerita pendekcerpenketulusan cinta
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Silaturahmi PGRI Banjarnegara dengan Bupati: Komitmen Bersama Memajukan Pendidikan
Next Article Undip Semarang Gelar Karpet Merah bagi Para Penghafal Alquran
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Ibu mendampingi anak bermain balok kayu warna-warni di rumah sebagai aktivitas belajar yang menyenangkan.
Anak Sering Dimarahi Saat Berbuat Salah? 5 Cara Positive Parenting yang Bisa Dicoba Orang Tua di Rumah
Jateng Pendidikan
Ayah dan ibu berdiskusi tentang pola asuh anak di ruang keluarga sementara anak bermain balok.
Ayah Bilang Tidak, Ibu Bilang Boleh! Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Bikin Anak Bingung
Jateng Pendidikan
Ibu berhijab mendampingi anak laki-laki belajar menggunakan tablet di rumah dengan ilustrasi keamanan digital.
Anak Sulit Lepas dari HP? 5 Cara Digital Parenting yang Bisa Dimulai Orang Tua dari Rumah
Jateng Pendidikan
Ritual tari Seblang Bakungan dengan penari mengenakan busana adat dan selendang kuning
Festival Budaya Jangan Cuma Jadi Tontonan, Saatnya Tradisi Lokal Menghidupi Ekonomi Warga
Culture Jateng
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?