By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Anak Muda Jangan Cuma Didengar, Saatnya Dilibatkan dalam Menentukan Masa Depan Kota
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
GagasanJateng

Anak Muda Jangan Cuma Didengar, Saatnya Dilibatkan dalam Menentukan Masa Depan Kota

Paskah Hariyani
Last updated: 11 Oktober 2026 21:06 21:06
By Paskah Hariyani
7 Min Read
Share
Foto ilustrasi seorang perempuan berbicara di hadapan peserta pertemuan formal di restoran.
Ilustrasi suasana pertemuan formal yang diisi dengan diskusi dan penyampaian pendapat di sebuah restoran.
SHARE

OPINIJATENG.COM – Kota yang nyaman bukan hanya hasil dari pembangunan jalan, gedung, dan fasilitas umum. Di baliknya, ada kebutuhan masyarakat yang harus dipahami, termasuk suara anak muda yang setiap hari berhadapan dengan persoalan ruang publik, lingkungan, kreativitas, hingga kesempatan mengembangkan diri.

Contents
Kota Bukan Hanya Milik Mereka yang Duduk di Ruang Pengambil KeputusanDari Forum Diskusi Menuju Perubahan NyataRuang Publik Harus Menjadi Tempat Bertumbuh, Bukan Sekadar Pajangan KotaAnak Muda Juga Perlu Membuktikan GagasannyaMasa Depan Kota Ditentukan oleh Kualitas Kolaborasi

Gagasan tersebut menjadi relevan ketika kegiatan Cerita Kota Cerita Kita by APEKSI Muda digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, pada 4 September 2026. Kegiatan ini mempertemukan perspektif generasi muda dengan berbagai isu perkotaan, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara anak muda, komunitas, dan pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan kota.

Namun, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar terselenggaranya sebuah kegiatan: sejauh mana suara anak muda benar-benar memengaruhi keputusan yang menentukan kehidupan mereka di kota?

Kota Bukan Hanya Milik Mereka yang Duduk di Ruang Pengambil Keputusan

Selama ini, pembangunan kota sering kali lebih mudah dilihat melalui perubahan fisik. Jalan diperbaiki, taman dibangun, kawasan ditata, dan fasilitas publik diperbarui. Semua itu penting, tetapi belum tentu menjawab seluruh kebutuhan masyarakat.

Anak muda, misalnya, membutuhkan ruang yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga bisa digunakan untuk berkegiatan, berkarya, berdiskusi, dan membangun komunitas. Mereka membutuhkan akses terhadap fasilitas publik yang terjangkau, lingkungan yang sehat, serta kesempatan untuk mengembangkan potensi.

Sayangnya, kebutuhan tersebut tidak selalu terlihat apabila proses perencanaan hanya bertumpu pada sudut pandang pemerintah atau kelompok tertentu.

Di sinilah partisipasi generasi muda menjadi penting. Mereka bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan bagian dari masyarakat yang memahami persoalan kota melalui pengalaman sehari-hari.

Anak muda yang menggunakan transportasi umum, menghabiskan waktu di ruang publik, mengembangkan usaha kreatif, atau terlibat dalam komunitas memiliki pengalaman yang dapat memperkaya perencanaan pembangunan.

Karena itu, melibatkan mereka seharusnya tidak berhenti pada undangan menghadiri forum atau menyampaikan pendapat. Gagasan yang muncul juga perlu dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.

Dari Forum Diskusi Menuju Perubahan Nyata

Kegiatan seperti Cerita Kota Cerita Kita memiliki nilai penting karena membuka kesempatan bagi generasi muda untuk bertemu, bertukar pandangan, dan memahami persoalan perkotaan dari perspektif yang lebih luas.

Akan tetapi, keberhasilan forum semacam ini tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta, dokumentasi kegiatan, atau ramainya percakapan selama acara berlangsung.

Ukuran yang lebih berarti adalah apa yang terjadi setelah kegiatan selesai.

Apakah gagasan peserta ditindaklanjuti? Apakah komunitas mendapatkan dukungan untuk menjalankan program? Apakah ada ruang komunikasi lanjutan dengan pemerintah? Dan apakah masyarakat dapat melihat perubahan dari ide yang sebelumnya disampaikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar kegiatan partisipatif tidak berakhir sebagai agenda seremonial.

Pemerintah daerah dapat membuka jalur tindak lanjut melalui forum konsultasi rutin, program kolaborasi dengan komunitas, maupun mekanisme pengajuan gagasan yang transparan. Setiap usulan juga perlu mendapatkan kejelasan mengenai proses penilaian, kemungkinan pelaksanaan, serta alasan apabila belum dapat direalisasikan.

Dengan cara itu, anak muda tidak hanya merasa didengar, tetapi juga memahami bagaimana aspirasi mereka diproses.

Ruang Publik Harus Menjadi Tempat Bertumbuh, Bukan Sekadar Pajangan Kota

Salah satu persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda adalah ketersediaan ruang publik yang benar-benar bisa digunakan masyarakat.

Taman kota, pelataran, trotoar, dan ruang terbuka memiliki fungsi lebih luas daripada mempercantik wajah kota. Tempat-tempat tersebut dapat menjadi ruang pertemuan komunitas, pertunjukan seni, kegiatan olahraga, diskusi publik, hingga pengembangan kreativitas.

Kegiatan di Solo yang berlangsung di kawasan Pura Mangkunegaran juga mengingatkan bahwa ruang kota memiliki dimensi sosial dan budaya. Sebuah tempat tidak hanya memiliki nilai dari bentuk fisiknya, tetapi juga dari aktivitas, interaksi, dan pengalaman yang tumbuh di dalamnya.

Karena itu, perencanaan ruang publik perlu mempertimbangkan siapa yang dapat mengaksesnya, kegiatan apa yang diperbolehkan, dan bagaimana masyarakat dapat memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Bagi anak muda, ruang publik yang terbuka dan inklusif bisa menjadi tempat untuk mengembangkan gagasan tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas komersial. Bagi kota, keberadaan ruang semacam itu dapat memperkuat hubungan sosial dan menghidupkan ekosistem kreatif lokal.

Tentu saja, pemanfaatannya tetap perlu memperhatikan kebersihan, keamanan, aksesibilitas, dan kepentingan masyarakat yang beragam.

Anak Muda Juga Perlu Membuktikan Gagasannya

Partisipasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Generasi muda juga memiliki peran untuk memastikan bahwa gagasan yang disampaikan tidak berhenti sebagai kritik atau wacana.

Persoalan sampah, misalnya, dapat direspons melalui gerakan komunitas yang konsisten. Keterbatasan ruang kreatif bisa dijawab dengan pemetaan lokasi yang berpotensi digunakan bersama. Sementara itu, kebutuhan informasi publik dapat didorong melalui inisiatif digital yang membantu masyarakat memahami persoalan di lingkungannya.

Langkah-langkah kecil tersebut tidak menggantikan tanggung jawab pemerintah. Sebaliknya, inisiatif warga dapat menjadi bukti kebutuhan di lapangan sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih terarah.

Anak muda juga perlu membangun budaya berdiskusi berdasarkan data, mendengarkan kelompok yang memiliki pengalaman berbeda, dan mengevaluasi dampak program yang dijalankan.

Dengan demikian, keterlibatan generasi muda tidak hanya ditandai oleh keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga kemampuan mengubah gagasan menjadi tindakan yang bermanfaat.

Masa Depan Kota Ditentukan oleh Kualitas Kolaborasi

Kota yang berkembang bukan berarti kota yang seluruh persoalannya telah selesai. Kota yang baik justru menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mengenali masalah, menyampaikan kebutuhan, dan bekerja sama mencari jalan keluar.

Melalui Cerita Kota Cerita Kita, APEKSI Muda menghadirkan ruang pertemuan bagi perspektif generasi muda mengenai kehidupan perkotaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat kolaborasi tersebut dapat berlanjut menjadi keterlibatan yang lebih konsisten.

Pemerintah perlu membuka akses partisipasi yang nyata. Komunitas harus memiliki kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan dan mengembangkan inisiatif. Sementara itu, anak muda perlu terlibat secara aktif, kritis, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, membangun kota bukan hanya tentang menentukan bagaimana sebuah wilayah akan terlihat beberapa tahun mendatang. Lebih dari itu, pembangunan harus menjawab pertanyaan tentang siapa yang dapat hidup dengan nyaman, siapa yang memperoleh kesempatan, dan siapa yang dilibatkan dalam menentukan arah perubahan.

Anak muda tidak cukup hanya menjadi penonton pembangunan kota. Mereka perlu mendapat ruang untuk ikut merancang, menguji, dan mengawal perubahan. Sebab, kota yang benar-benar menjadi milik bersama adalah kota yang tidak hanya mendengarkan cerita warganya, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk menentukan kelanjutannya.

You Might Also Like

Wakhid Jumali Dorong Organisasi NU Terima Dana Hibah Aspirasi Anggota DPRD Provinsi Jateng
Kurniati: Doa dan Dukungan Orang Tua menjadi Kunci Kesuksesan
Syarat ASN Mudik Lebaran 2025 Naik Mobnas
Warga Desa Glempang Kecamatan Maos Tewas Tersambar Petir
Makna Halal Bi Halal dan Implementasinya
TAGGED:Anak MudaAPEKSI Mudakreativitas anak mudaOpinijatengpartisipasi masyarakatpembangunan kotaruang publikSolo
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Sekelompok anak muda berdiskusi bersama di kafe untuk mempererat solidaritas dan membangun komunitas. Dari Warung Kopi ke Peluang Nyata, Mengapa Tongkrongan Anak Muda Tak Boleh Diremehkan?
Next Article Foto ilustrasi masyarakat berkumpul dan berdiskusi di pendopo tradisional Jawa dengan ornamen budaya dan alat musik. Budaya Lokal Tak Cukup Dipentaskan, Anak Muda Perlu Ruang untuk Menghidupkannya
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Penari tradisional mengenakan busana batik merah saat menampilkan tarian di tengah hutan pinus.
Budaya Lokal Kalah Viral? Saatnya Anak Muda Jawa Tengah Menguasai Algoritma dengan Cerita Sendiri
Gagasan Jateng
Foto ilustrasi seniman muda melukis mural berwarna-warni pada festival seni di ruang terbuka.
Anak Muda Tidak Kekurangan Ide, tetapi Apakah Kota Sudah Memberi Mereka Ruang?
Gagasan Jateng
Foto ilustrasi masyarakat berkumpul dan berdiskusi di pendopo tradisional Jawa dengan ornamen budaya dan alat musik.
Budaya Lokal Tak Cukup Dipentaskan, Anak Muda Perlu Ruang untuk Menghidupkannya
Gagasan Jateng
Sekelompok anak muda berdiskusi bersama di kafe untuk mempererat solidaritas dan membangun komunitas.
Dari Warung Kopi ke Peluang Nyata, Mengapa Tongkrongan Anak Muda Tak Boleh Diremehkan?
Gagasan Jateng
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?