OPINIJATENG.COM – Tidak semua anak muda yang terlihat ceria sedang baik-baik saja. Di balik unggahan media sosial, aktivitas sekolah, pekerjaan, dan rutinitas sehari-hari, ada kemungkinan seseorang sedang berjuang menghadapi tekanan yang tidak mudah diceritakan kepada orang lain.
Sayangnya, ketika anak muda mulai mengungkapkan kesedihan atau kelelahan emosional, respons yang mereka terima terkadang justru berupa tuntutan untuk lebih kuat, lebih sabar, atau berhenti memikirkan masalah.
Padahal, menjaga kesehatan mental bukan sekadar persoalan kemampuan seseorang menghadapi tekanan. Lingkungan yang mau mendengarkan tanpa menghakimi juga berperan penting dalam membantu anak muda melewati masa sulit.
Persoalan inilah yang membuat ruang aman untuk bercerita perlu mendapat perhatian lebih besar, baik di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, maupun komunitas.
Ketika Tuntutan untuk Selalu Produktif Menjadi Beban
Tekanan yang dialami anak muda tidak selalu datang dari persoalan besar. Tugas yang menumpuk, konflik keluarga, pertemanan, kekhawatiran mengenai masa depan, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memengaruhi kondisi emosional.
Media sosial juga bisa menambah beban ketika seseorang terus-menerus melihat pencapaian orang lain. Kehidupan yang terlihat sempurna di layar dapat membuat seseorang merasa tertinggal, meskipun kenyataan yang dialami setiap orang berbeda.
Gambaran tersebut pernah muncul dalam laporan UNICEF Indonesia pada 1 September 2020. Dalam jajak pendapat U-Report terhadap 600 peserta dari berbagai wilayah Indonesia pada Agustus 2020, sebanyak 53 persen responden mengaku merasakan tekanan untuk tetap produktif selama pandemi COVID-19.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa 33 persen responden mengalami penurunan konsentrasi saat mengikuti pembelajaran jarak jauh akibat stres. Sementara itu, 25 persen menyatakan lebih mudah merasa kesal, marah, atau terganggu.
Angka tersebut merupakan gambaran dalam konteks pandemi pada 2020, bukan data kondisi anak muda Indonesia saat ini. Namun, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa tuntutan produktivitas dapat menjadi beban ketika seseorang menghadapi tekanan tanpa dukungan yang memadai.
Karena itu, produktivitas seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan anak muda. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk beristirahat, memahami perasaan sendiri, dan mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Mengapa Anak Muda Membutuhkan Ruang Aman untuk Bercerita?
Ruang aman tidak selalu harus berbentuk ruangan khusus atau layanan konseling formal. Dalam kehidupan sehari-hari, ruang aman dapat hadir melalui percakapan dengan teman yang bisa dipercaya, orang tua yang bersedia mendengarkan, guru yang memahami kondisi murid, atau komunitas yang terbuka terhadap persoalan kesehatan mental.
Hal terpenting adalah seseorang merasa cukup nyaman untuk mengungkapkan perasaannya tanpa takut dipermalukan, diremehkan, atau langsung disalahkan.
Ketika anak muda berani bercerita, mereka tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, mereka hanya ingin didengarkan terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Respons sederhana seperti menanyakan apa yang sedang dirasakan, memberikan waktu untuk berbicara, dan tidak buru-buru menghakimi dapat membantu membangun kepercayaan.
Sebaliknya, kalimat seperti “kamu terlalu sensitif”, “masalahmu tidak seberapa”, atau “orang lain lebih susah” berisiko membuat seseorang enggan menceritakan kesulitannya kembali.
Mendengarkan bukan berarti harus menyelesaikan semua masalah orang lain. Sikap tersebut merupakan bentuk dukungan yang menunjukkan bahwa perasaan seseorang layak diperhatikan.
Dari UNICEF, Anak Muda Diberi Kesempatan Menjadi Penggerak
Pentingnya dukungan sebaya pernah menjadi bagian dari inisiatif UNICEF Indonesia bersama CIMSA atau Center for Indonesian Medical Students’ Activities melalui program Ruang PEKA pada masa pandemi COVID-19.
Dalam laporan yang diterbitkan pada September 2020, UNICEF menjelaskan penyelenggaraan diskusi daring yang melibatkan anak muda dan pakar untuk membicarakan kesehatan jiwa serta dukungan psikososial.
Kegiatan tersebut menghadirkan kesempatan bagi anak muda untuk menyampaikan pengalaman, mengajukan pertanyaan, dan memperoleh informasi mengenai cara menghadapi stres. Salah satu topik yang dibahas adalah cara mengatasi tekanan selama pandemi.
Pendekatan ini memiliki pesan penting: anak muda tidak cukup hanya ditempatkan sebagai penerima informasi. Mereka juga perlu dilibatkan dalam membicarakan persoalan yang memengaruhi kehidupan mereka sendiri.
Anak muda sering kali lebih memahami bahasa, kebiasaan, dan tantangan yang dihadapi teman sebayanya. Keterlibatan mereka dapat membantu menciptakan percakapan yang terasa lebih dekat dan relevan.
Meski demikian, dukungan dari teman sebaya bukan pengganti bantuan profesional. Teman dapat menjadi pendengar dan pendamping awal, sementara persoalan yang berat atau berkepanjangan membutuhkan penanganan sesuai kebutuhan.
Keluarga dan Sekolah Tidak Cukup Hanya Menuntut Anak Berprestasi
Lingkungan keluarga dan sekolah memiliki kesempatan besar untuk membangun budaya yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.
Di rumah, orang tua dapat memulai dengan membiasakan percakapan terbuka. Tidak semua pembicaraan harus berakhir dengan nasihat atau teguran. Memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan apa yang dirasakannya dapat membantu orang tua memahami situasi secara lebih utuh.
Di sekolah, guru dan pihak terkait dapat menyediakan ruang konsultasi, mendorong interaksi antarsiswa yang sehat, serta menangani perundungan secara serius. Edukasi mengenai kesehatan mental juga perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak menimbulkan stigma.
Sementara itu, komunitas anak muda dapat menjadi tempat untuk membangun hubungan sosial yang positif melalui kegiatan kreatif, olahraga, diskusi, maupun aktivitas bersama lainnya.
Tujuannya bukan menciptakan lingkungan yang bebas dari masalah. Konflik dan tekanan tetap bisa terjadi. Namun, anak muda perlu mengetahui bahwa mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Teman Mulai Bercerita?
Kepedulian terhadap kesehatan mental dapat dimulai dari tindakan sederhana. Ketika seorang teman mengungkapkan bahwa dirinya sedang tertekan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Pertama, dengarkan tanpa buru-buru menyela. Beri kesempatan kepada teman untuk menyampaikan pengalaman dan perasaannya sesuai kenyamanan mereka.
Kedua, hindari membandingkan masalah. Setiap orang memiliki pengalaman, kemampuan menghadapi tekanan, dan kondisi lingkungan yang berbeda.
Ketiga, tanyakan dukungan seperti apa yang dibutuhkan. Seseorang mungkin ingin didengarkan, ditemani, atau dibantu mencari informasi mengenai layanan profesional.
Keempat, jaga kepercayaan dan privasinya. Cerita pribadi tidak seharusnya dijadikan bahan candaan atau disebarkan kepada orang lain tanpa alasan yang tepat.
Terakhir, jangan ragu membantu mencari pertolongan ketika situasinya membutuhkan penanganan lebih lanjut. Jika seseorang mengungkapkan keinginan untuk melukai diri sendiri atau mengakhiri hidup, tanggapi dengan serius, jangan meninggalkannya sendirian jika ada bahaya langsung, dan segera hubungi tenaga profesional atau layanan darurat setempat.
Teman yang peduli tidak harus menjadi ahli kesehatan mental. Mereka cukup memulai dengan mendengarkan, menunjukkan kepedulian, dan membantu menghubungkan orang yang membutuhkan dengan bantuan yang sesuai.
Mengubah Cara Pandang terhadap Kesehatan Mental Anak Muda
Kesehatan mental tidak seharusnya baru dibicarakan ketika seseorang sudah kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Percakapan tentang perasaan, tekanan, dan kebutuhan akan bantuan perlu menjadi bagian wajar dari kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Anak muda juga tidak harus selalu terlihat kuat untuk dianggap mampu menghadapi kehidupan. Mengakui kelelahan, meminta bantuan, dan mengambil waktu untuk memulihkan diri bukan berarti gagal.
Inisiatif UNICEF dan CIMSA melalui Ruang PEKA pada 2020 memberikan salah satu contoh bagaimana ruang diskusi dapat membuka percakapan mengenai kesehatan jiwa. Gagasan tersebut tetap relevan sebagai inspirasi untuk membangun lingkungan yang lebih terbuka, meskipun program dan data yang dilaporkan berasal dari konteks pandemi.
Pada akhirnya, kepedulian terhadap kesehatan mental tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau unggahan media sosial. Kepedulian perlu hadir dalam cara kita mendengarkan, merespons, dan memperlakukan orang-orang di sekitar.
Sebab, terkadang langkah awal untuk membantu seseorang bukanlah memberikan jawaban atas semua persoalannya, melainkan membuatnya merasa aman untuk berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja,” tanpa takut dihakimi.



