OpiniJateng.com-Warisan budaya tidak harus selalu hadir dalam bentuk pertunjukan tradisional yang dipentaskan dengan cara lama. Di tangan seniman kreatif, sejarah, bahasa, kebiasaan keluarga, hingga hubungan manusia dengan alam bisa diolah menjadi karya yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Gagasan inilah yang mengemuka melalui kolaborasi seniman Indonesia, Malaysia, dan Singapura di Yogyakarta pada Oktober 2026. Melalui program Embracing Shared Heritage through Performing Arts, UNESCO bersama Temasek Foundation mempertemukan seniman dari tiga negara untuk mengembangkan karya pertunjukan yang berangkat dari kesamaan sejarah dan tradisi kawasan Asia Tenggara.
Bukan hanya soal tampil di atas panggung, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi cara untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi yang hidup di tengah perubahan teknologi dan gaya hidup modern.
Ketika Budaya Tidak Lagi Berhenti di Batas Negara
Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki sejarah panjang yang saling terhubung melalui perdagangan, migrasi, serta perjumpaan antarkomunitas. Hubungan tersebut ikut membentuk tradisi, bahasa, makanan, kesenian, dan identitas masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Namun, kedekatan sejarah itu tidak selalu terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat sering mengenal budaya berdasarkan identitas negaranya masing-masing, padahal banyak tradisi berkembang melalui proses pertukaran lintas wilayah selama berabad-abad.
Kolaborasi seni di Yogyakarta mencoba membuka perspektif yang lebih luas. Seniman dari tiga negara tidak hanya membawa identitas budaya masing-masing, tetapi juga mengeksplorasi cerita dan pengalaman yang memiliki keterkaitan.
Pendekatan ini menjadi menarik karena warisan budaya tidak diposisikan sebagai sesuatu yang kaku. Sebaliknya, tradisi dapat ditafsirkan ulang melalui pengalaman personal, bahasa artistik, dan kreativitas masa kini.
Dua Pertunjukan, Dua Cara Membaca Warisan Budaya
Program kolaborasi tersebut menghasilkan dua karya dengan pendekatan berbeda. Keduanya memperlihatkan bahwa warisan budaya bisa disampaikan melalui beragam tema dan pengalaman.
1. HUTAN, Mengajak Manusia Melihat Kembali Hubungannya dengan Alam
Karya Hutan mengangkat hutan sebagai ruang bersama yang menghubungkan manusia, alam, cerita, ingatan, dan kepercayaan masyarakat.
Tema ini relevan ketika hubungan manusia dengan lingkungan semakin sering menjadi pembahasan penting. Melalui seni pertunjukan, hubungan tersebut dapat disampaikan bukan hanya lewat penjelasan atau kampanye, tetapi juga melalui pengalaman artistik yang mengajak penonton merenung.
Karya ini juga memasukkan pendekatan untuk meningkatkan aksesibilitas bagi penonton neurodivergen. Artinya, proses berkesenian turut membuka ruang bagi pengalaman menonton yang lebih inklusif.
Pertunjukan Hutan dijadwalkan menjadi bagian dari Pesta Boneka pada 6–7 Oktober 2026 di Yogyakarta.
2. Rumah dari Lidah, Mengungkap Identitas Lewat Bahasa dan Ingatan
Berbeda dengan Hutan, karya Rumah dari Lidah atau House of Tongue menelusuri warisan Peranakan yang menghubungkan Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Karya ini mengangkat identitas yang terbentuk melalui perjalanan sejarah, migrasi, pertemuan budaya, serta pengalaman antargenerasi. Bahasa, makanan, dan ingatan keluarga menjadi bagian dari cerita yang dapat membantu masyarakat memahami bagaimana identitas berkembang.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa budaya bukan hanya tentang peninggalan masa lalu. Kebiasaan yang diwariskan dalam keluarga dan pengalaman hidup masyarakat juga menjadi bagian penting dari sejarah bersama.
Karya yang disutradarai Melati Suryodarmo ini dijadwalkan tampil dalam rangkaian Bedog Arts Festival pada 9–10 Oktober 2026 di Studio Banjarmili, Yogyakarta.
Mengapa Kolaborasi Seni Penting bagi Generasi Muda?
Di tengah maraknya konten digital, generasi muda memiliki banyak cara untuk mengenal budaya. Mereka dapat menemukan tarian tradisional melalui video pendek, mempelajari musik daerah melalui media sosial, atau mengenal sejarah lokal lewat karya visual.
Namun, akses terhadap informasi saja tidak selalu cukup untuk membuat budaya dipahami secara mendalam.
Kolaborasi seni menawarkan pengalaman berbeda. Seniman dapat menggali cerita dari masyarakat, berdiskusi dengan pelaku budaya, kemudian menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi karya yang dapat dirasakan penonton.
Ada beberapa pelajaran penting dari pendekatan ini.
Pertama, budaya dapat menjadi sumber ide kreatif. Tradisi tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang hanya cocok untuk museum atau acara seremonial. Sejarah lokal, permainan tradisional, cerita keluarga, dan kesenian daerah dapat menjadi inspirasi karya baru.
Kedua, perbedaan dapat membuka peluang kolaborasi. Ketika seniman bertemu dengan latar belakang berbeda, mereka berkesempatan menemukan perspektif baru sekaligus memahami pengalaman orang lain.
Ketiga, pelestarian budaya membutuhkan ruang bereksperimen. Generasi muda perlu memiliki kesempatan untuk mempelajari tradisi, mengembangkan interpretasi, dan menyampaikan kembali nilai budaya melalui pendekatan yang sesuai dengan zamannya.
Dengan cara ini, pelestarian tidak hanya berfokus pada menjaga bentuk kesenian agar tetap sama, tetapi juga memastikan nilai dan pengetahuannya terus dipahami.
Yogyakarta Menjadi Ruang Pertemuan Kreativitas Asia Tenggara
Pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi pertunjukan memberi konteks tersendiri bagi kolaborasi tersebut. Kota ini memiliki ekosistem seni dan budaya yang mempertemukan tradisi, komunitas kreatif, pendidikan, serta berbagai bentuk ekspresi kontemporer.
Melalui festival dan ruang pertunjukan, karya seni dapat bertemu dengan penonton dari latar belakang yang beragam. Pertemuan tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat budaya dari sudut pandang yang mungkin berbeda dari pengalaman mereka sendiri.
Program yang digagas UNESCO bersama Temasek Foundation ini juga tidak muncul secara instan. Inisiatif Embracing Shared Heritage through Performing Arts diluncurkan pada 2025 dan melibatkan pertukaran pengetahuan serta proses penciptaan bersama seniman dari ketiga negara.
Proses tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi budaya memerlukan waktu, dialog, dan kesediaan untuk belajar dari pengalaman masing-masing.
Bagi ekosistem kreatif di Indonesia, pendekatan semacam ini dapat menjadi inspirasi untuk memperluas kerja sama antarkomunitas, termasuk dengan melibatkan seniman muda, mahasiswa, dan pelaku budaya daerah.
Pelestarian Budaya Perlu Melibatkan Kreativitas, Bukan Sekadar Nostalgia
Warisan budaya akan sulit berkembang jika hanya dipandang sebagai kenangan masa lalu. Agar tetap relevan, budaya perlu memiliki ruang untuk diceritakan kembali, dipelajari, dan dihubungkan dengan persoalan kehidupan masa kini.
Kolaborasi seniman Indonesia, Malaysia, dan Singapura di Yogyakarta memperlihatkan salah satu cara untuk mewujudkannya. Seni menjadi medium untuk mempertemukan sejarah, pengalaman personal, dan gagasan baru tanpa harus menghilangkan keragaman identitas.
Pada akhirnya, menjaga budaya bukan semata-mata tugas lembaga kebudayaan atau seniman profesional. Masyarakat, komunitas lokal, sekolah, dan generasi muda juga memiliki peran dalam meneruskan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Ketika tradisi diberi ruang untuk berkembang melalui kreativitas, budaya tidak hanya bertahan sebagai peninggalan sejarah. Budaya juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya.
Sumber referensi: UNESCO, Artists from Indonesia, Malaysia and Singapore Bring Shared Heritage to the Stage in Yogyakarta, 7 Oktober 2026. https://www.unesco.org/en/articles/artists-indonesia-malaysia-and-singapore-bring-shared-heritage-stage-yogyakarta



