Opinijateng.com – Wisata kuliner kini menjadi salah satu daya tarik yang mampu menghidupkan kawasan wisata. Namun, keberhasilan sebuah destinasi seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya pengunjung atau ramainya tempat untuk berfoto. Ada pertanyaan yang lebih penting: seberapa besar manfaatnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitarnya?
Wisata Ramai Belum Tentu Menyejahterakan
Kawasan wisata yang dipadati pengunjung memang memberikan peluang ekonomi. Akan tetapi, keramaian tidak otomatis menjamin pedagang lokal memperoleh pendapatan yang stabil.
Biaya sewa lapak, harga bahan baku, persaingan usaha, hingga perubahan jumlah pengunjung dapat memengaruhi keuntungan mereka. Karena itu, pengembangan wisata kuliner perlu dirancang agar manfaat ekonominya tidak hanya berhenti pada pengelola destinasi.
Contohnya terlihat pada pengembangan Taman Kuliner Doho di Embung Doho, Wonogiri, yang diresmikan pada 7 Oktober 2026. Kawasan tersebut dikembangkan untuk mendukung aktivitas wisata sekaligus menyediakan ruang berjualan bagi UMKM lokal.
Baca Juga : Promosi Ramai, Penjualan Sepi? Ini Strategi Marketing yang Perlu Diubah Pelaku UMKM
Langkah ini menunjukkan bahwa fasilitas wisata dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi masyarakat. Namun, keberlanjutannya tetap bergantung pada pengelolaan, promosi, dan keterlibatan warga.
UMKM Harus Menjadi Bagian dari Pengalaman Wisata
Wisatawan tidak selalu datang hanya untuk menikmati pemandangan. Mereka juga mencari makanan khas, suasana lokal, dan pengalaman yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.
Di sinilah UMKM memiliki peran penting. Produk kuliner tradisional, jajanan khas daerah, hingga minuman racikan warga dapat menjadi identitas sebuah destinasi.
Karena itu, pemerintah daerah dan pengelola wisata perlu memberikan ruang yang adil bagi pedagang lokal. Penataan lapak, kebersihan, informasi harga, akses pembayaran digital, serta promosi melalui media sosial dapat membantu usaha kecil bersaing secara sehat.
Baca Juga : Digital Marketing Bukan Sekadar Jualan Online, Ini Cara UMKM Kecil Menarik Pelanggan Tanpa Bakar Uang
Selain itu, pelatihan pengemasan produk dan pelayanan konsumen juga penting. Tujuannya bukan menghilangkan ciri khas usaha rumahan, melainkan membuatnya lebih siap menghadapi kebutuhan wisatawan.
Ukuran Keberhasilan Harus Lebih dari Jumlah Pengunjung
Pengembangan wisata kuliner sebaiknya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas atau penyelenggaraan acara. Dampaknya perlu dievaluasi melalui perkembangan omzet pedagang, keberlangsungan usaha, keterlibatan tenaga kerja lokal, dan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Di Jawa Tengah, pendekatan ini berpeluang diterapkan pada berbagai destinasi berbasis alam, desa wisata, pasar tradisional, maupun sentra kuliner.
Pada akhirnya, wisata yang baik bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan ruang yang memberi kesempatan bagi masyarakat untuk tumbuh bersama.
Jika pengunjung pulang membawa pengalaman menyenangkan, sementara pedagang memperoleh penghasilan yang layak, di situlah wisata kuliner benar-benar memberi arti bagi ekonomi lokal.



