Opinijateng.com – Banyak pelaku usaha mengira pemasaran digital cukup dilakukan dengan membuat akun media sosial, mengunggah foto produk, lalu menunggu pembeli datang. Padahal, di tengah persaingan bisnis yang semakin ramai di internet, kehadiran online saja belum tentu membuat sebuah usaha dikenal, apalagi menghasilkan penjualan.
Digital marketing atau pemasaran digital kini menjadi salah satu cara bagi pelaku usaha untuk menjangkau konsumen secara lebih luas. Namun, tantangan sebenarnya bukan sekadar bagaimana sebuah produk muncul di layar ponsel, melainkan bagaimana membuat calon pembeli tertarik, percaya, dan akhirnya memilih produk tersebut.
Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), persoalan ini semakin penting. Mereka harus bersaing dengan banyak merek, termasuk perusahaan besar yang memiliki anggaran promosi jauh lebih kuat.
Meski demikian, keterbatasan modal bukan berarti usaha kecil tidak memiliki peluang. Strategi yang tepat, pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan, dan konsistensi dalam membangun kepercayaan dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan bisnis melalui kanal digital.
Mengapa Banyak Bisnis Sudah Online, tetapi Penjualannya Belum Maksimal?
Memiliki akun Instagram, TikTok, Facebook, atau toko di marketplace memang dapat membantu bisnis menjangkau konsumen. Akan tetapi, jumlah pengikut dan banyaknya unggahan tidak selalu berbanding lurus dengan penjualan.
Salah satu penyebabnya adalah konten yang dibuat hanya berisi promosi. Produk terus ditawarkan, diskon diumumkan berulang kali, tetapi calon pelanggan tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai manfaat maupun keunggulan produk.
Sebagai contoh, penjual makanan rumahan tidak harus selalu mengunggah foto menu beserta harga. Ia juga bisa membagikan proses pembuatan makanan, tips menyimpan produk, pilihan menu untuk keluarga, hingga cerita mengenai bahan yang digunakan.
Konten semacam ini membantu calon pembeli mengenal usaha tersebut sebelum memutuskan bertransaksi.
Kementerian Koperasi dan UKM melalui EnterpreneurHub juga pernah menekankan pentingnya memahami segmentasi pelanggan sebelum menentukan strategi branding dan pemasaran. Artinya, pelaku usaha perlu mengetahui siapa calon pembelinya, apa kebutuhannya, dan kanal digital mana yang paling sesuai untuk menjangkau mereka.
Digital Marketing Tidak Harus Mahal, tetapi Harus Tepat Sasaran
Kesalahpahaman lain dalam pemasaran digital adalah anggapan bahwa bisnis harus segera memasang iklan berbayar agar cepat berkembang.
Padahal, pelaku usaha dapat memulai pemasaran dengan memanfaatkan kanal gratis atau berbiaya rendah. Kuncinya adalah memilih strategi berdasarkan kebutuhan bisnis, bukan sekadar mengikuti tren.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.
1. Kenali Calon Pembeli Sebelum Membuat Konten
Sebelum membuat materi promosi, tentukan terlebih dahulu siapa konsumen yang ingin dijangkau.
Jika menjual makanan praktis, misalnya, calon pelanggan bisa berasal dari pekerja kantoran, mahasiswa, atau keluarga yang membutuhkan hidangan tanpa proses memasak yang panjang.
Setiap kelompok memiliki kebutuhan berbeda. Karena itu, pesan promosi juga perlu disesuaikan.
Pelaku usaha dapat mempelajari pertanyaan yang sering diajukan pelanggan, produk yang paling banyak diminati, serta alasan seseorang memilih atau tidak jadi membeli. Informasi sederhana tersebut bisa menjadi dasar untuk menyusun konten yang lebih relevan.
2. Gunakan Media Sosial untuk Membangun Kepercayaan
Media sosial bukan hanya tempat memajang katalog produk. Platform ini juga dapat digunakan untuk memperlihatkan karakter bisnis dan membangun hubungan dengan konsumen.
Pelaku UMKM bisa membagikan testimoni pelanggan dengan izin yang bersangkutan, memperlihatkan proses produksi, menjawab pertanyaan, atau menjelaskan cara menggunakan produk.
Misalnya, pemilik usaha kerajinan lokal dapat menunjukkan proses pembuatan produk dari awal hingga selesai. Konten tersebut memberikan gambaran tentang kualitas, keterampilan, dan usaha yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang.
Semakin jelas informasi yang diberikan, semakin mudah calon pembeli mempertimbangkan produk tersebut.
3. Buat Konten yang Menjawab Masalah Konsumen
Konten yang menarik tidak selalu harus mengikuti tren atau menggunakan efek visual yang rumit. Informasi yang bermanfaat justru bisa menjadi alasan orang berhenti menggulir layar.
Penjual perlengkapan kendaraan, misalnya, dapat membuat konten tentang cara merawat barang, kesalahan penggunaan yang sering terjadi, atau panduan memilih produk sesuai kebutuhan.
Sementara itu, usaha kuliner bisa membagikan tips menyimpan makanan agar kualitasnya tetap terjaga.
Strategi ini membantu bisnis membangun reputasi sebagai sumber informasi yang berguna, bukan sekadar akun yang terus meminta orang berbelanja.
4. Manfaatkan Mesin Pencari agar Bisnis Mudah Ditemukan
Selain media sosial, mesin pencari seperti Google juga dapat menjadi jalur untuk mendatangkan calon pelanggan.
Pelaku usaha dapat memanfaatkan optimasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO) melalui artikel, halaman produk, maupun profil bisnis yang dilengkapi informasi relevan.
Untuk bisnis lokal, informasi seperti alamat, jam operasional, nomor kontak, dan daftar produk perlu disajikan secara jelas. Pengelolaan profil bisnis di Google juga dapat membantu calon pelanggan menemukan lokasi usaha ketika mencari layanan di sekitar mereka.
Strategi ini tidak selalu memberikan hasil instan. Namun, konten yang relevan dan informasi bisnis yang terawat dapat menjadi aset pemasaran jangka panjang.
5. Jangan Terburu-buru Mengeluarkan Uang untuk Iklan
Iklan digital dapat membantu memperluas jangkauan promosi, tetapi penggunaannya sebaiknya didasarkan pada tujuan yang jelas.
Sebelum mengeluarkan anggaran, pelaku usaha perlu mengetahui produk mana yang paling diminati, siapa target konsumennya, dan tindakan apa yang diharapkan dari iklan tersebut.
Apakah konsumen diminta mengunjungi toko online, mengirim pesan, mengisi formulir, atau langsung membeli produk?
Tujuan yang jelas memudahkan evaluasi. Jika iklan memperoleh banyak penayangan tetapi tidak menghasilkan pertanyaan maupun transaksi, strategi tersebut perlu diperiksa kembali.
Memulai dengan anggaran terbatas dan melakukan pengujian secara bertahap dapat membantu mengurangi risiko pemborosan.
Jangan Hanya Mengejar Viral, Ukur Hasil yang Benar-Benar Penting
Konten viral memang berpotensi membuat bisnis dikenal banyak orang. Namun, popularitas tidak otomatis menghasilkan keuntungan.
Video yang ditonton ratusan ribu kali belum tentu mendatangkan pembeli, terutama jika penontonnya tidak sesuai dengan target pasar. Sebaliknya, konten dengan jangkauan lebih kecil bisa memberikan hasil lebih baik ketika dilihat oleh orang yang benar-benar membutuhkan produk.
Karena itu, evaluasi pemasaran digital sebaiknya tidak hanya berfokus pada jumlah tayangan, tanda suka, dan pengikut.
Pelaku usaha juga perlu memperhatikan jumlah pertanyaan dari calon pelanggan, kunjungan ke halaman produk, pesanan yang masuk, pembelian berulang, serta biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pelanggan.
Data tersebut membantu pemilik bisnis menentukan strategi mana yang layak dipertahankan dan mana yang perlu diperbaiki.
Website, Media Sosial, dan Marketplace Punya Peran Berbeda
Salah satu prinsip penting dalam digital marketing adalah memahami fungsi setiap kanal.
Media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan produk, membangun interaksi, dan menjaga kedekatan dengan pelanggan. Marketplace memudahkan proses transaksi karena sudah menyediakan sistem pembelian dan pembayaran. Sementara itu, website dapat menjadi pusat informasi resmi yang memuat profil bisnis, katalog, artikel, serta layanan pelanggan.
Ketiganya tidak harus langsung digunakan sekaligus. Pelaku usaha dapat memilih kanal yang paling sesuai dengan sumber daya dan kebiasaan konsumennya, kemudian mengembangkan saluran lain ketika kebutuhan bisnis meningkat.
Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga konsistensi informasi. Nama usaha, harga, deskripsi produk, dan kontak sebaiknya tidak membingungkan calon pembeli ketika mereka berpindah dari satu platform ke platform lainnya.
AI Bisa Membantu Pemasaran, tetapi Identitas Bisnis Tetap Penting
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga membuka peluang baru dalam pemasaran digital. Teknologi ini dapat membantu pelaku usaha menyusun ide konten, membuat draf deskripsi produk, merancang kalender unggahan, hingga merangkum pertanyaan yang sering diajukan pelanggan.
Kementerian Perdagangan pada September 2026 turut mendorong pemanfaatan AI untuk mendukung pemasaran produk UMKM, termasuk riset pasar, pembuatan konten, dan penyusunan strategi promosi.
Meski begitu, hasil yang dibuat AI tetap perlu diperiksa. Informasi mengenai produk, harga, bahan, dan manfaat harus sesuai dengan kenyataan. Pelaku usaha juga perlu memastikan bahwa gaya komunikasi yang digunakan tetap mencerminkan karakter mereknya.
AI sebaiknya diperlakukan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi, bukan pengganti pemahaman terhadap pelanggan.
Mulai dari Strategi Sederhana, Lalu Evaluasi Secara Konsisten
Pemasaran digital tidak harus dimulai dengan strategi yang rumit. Pelaku UMKM bisa menetapkan target sederhana selama satu bulan, misalnya memperbaiki profil bisnis, menerbitkan konten edukatif secara teratur, merespons pertanyaan pelanggan lebih cepat, dan mencatat sumber pesanan yang masuk.
Setelah itu, hasilnya dapat dievaluasi untuk mengetahui perubahan yang terjadi.
Jika konten tertentu menghasilkan banyak pertanyaan, format dan topiknya bisa dikembangkan. Jika sebuah platform tidak memberikan hasil yang berarti, pelaku usaha dapat memeriksa kembali kesesuaian audiens sebelum memutuskan untuk menghentikan atau mengubah strategi.
Pada akhirnya, keberhasilan digital marketing bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa sering bisnis mengunggah konten atau seberapa besar anggaran iklannya. Faktor yang tidak kalah penting adalah kemampuan memahami pelanggan, menyampaikan nilai produk secara jelas, dan menjaga kepercayaan dalam jangka panjang.
Bagi UMKM, langkah paling realistis bukan selalu menjadi bisnis yang paling ramai dibicarakan di internet, melainkan menjadi bisnis yang mudah ditemukan, dipercaya, dan diingat ketika konsumen membutuhkan produk atau layanan yang ditawarkan.



