OpiniJateng.com – Dieng Culture Festival (DCF) menyimpan peluang ekonomi besar bagi masyarakat Banjarnegara. Ribuan wisatawan yang datang ke kawasan Dieng membuka pasar bagi pedagang makanan, penjual oleh-oleh, pemilik homestay, hingga pelaku usaha kopi lokal. Namun, tingginya aktivitas wisata belum otomatis menjamin seluruh pelaku usaha kecil menikmati manfaat ekonomi secara merata.
Festival budaya seharusnya tidak hanya menghidupkan panggung pertunjukan dan menarik perhatian wisatawan. Pemerintah daerah juga perlu memastikan kegiatan tersebut mampu menggerakkan usaha warga, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi desa.
Dieng Culture Festival Bisa Menggerakkan Ekonomi Warga
Dieng Culture Festival 2026 berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di kawasan Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Festival ini memadukan pertunjukan budaya, daya tarik alam, dan kegiatan ekonomi yang melibatkan pelaku usaha lokal.
Laporan ANTARA Jateng menyebut penyelenggara menghadirkan Ekspo UMKM di Venue Arjuna dan Festival Kopi Dieng di Venue Gatotkaca. Kedua agenda tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha untuk menawarkan produk kepada pengunjung.
Kesempatan ini dapat meningkatkan penjualan makanan khas, kopi lokal, kerajinan, dan berbagai produk unggulan Banjarnegara. Pemilik penginapan, pengemudi transportasi lokal, serta pemasok kebutuhan wisatawan juga berpeluang memperoleh tambahan pendapatan.
Meski demikian, pelaku UMKM membutuhkan lebih dari sekadar keramaian. Mereka perlu mendapatkan akses lokasi berjualan yang strategis, informasi kegiatan yang jelas, serta kesempatan promosi yang setara agar mampu bersaing selama festival.
Perputaran Uang Puluhan Miliar Harus Berdampak Nyata
Laporan ANTARA Jateng menyebut Bank Indonesia mencatat perputaran uang di kawasan Dataran Tinggi Dieng selama festival pada 2025 mencapai lebih dari Rp40 miliar. Angka tersebut memperlihatkan besarnya potensi ekonomi yang mengikuti aktivitas pariwisata Dieng.
Namun, masyarakat perlu melihat angka itu secara kritis. Perputaran uang tidak sama dengan keuntungan bersih pedagang. Pengeluaran wisatawan juga tersebar ke berbagai kebutuhan, mulai dari penginapan dan transportasi hingga makanan serta tiket kegiatan.
Karena itu, pemerintah daerah perlu memperhatikan siapa saja yang menikmati manfaat ekonomi dari festival. Jangan sampai usaha berskala besar mendominasi peluang, sementara pedagang kecil kesulitan memperoleh tempat berjualan atau menjangkau pengunjung.
Pemerintah dan penyelenggara dapat memperluas partisipasi UMKM lokal melalui pendaftaran terbuka, penataan stan yang adil, promosi produk unggulan, serta pendampingan usaha. Langkah tersebut dapat membantu masyarakat mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi pariwisata.
UMKM Harus Tetap Menghasilkan Setelah Festival Berakhir
Salah satu tantangan usaha musiman terletak pada keberlanjutan penjualan. Ketika festival selesai dan jumlah wisatawan menurun, pedagang berisiko kehilangan sebagian besar calon pembeli.
Pelaku UMKM perlu mengubah kunjungan wisatawan menjadi peluang pasar jangka panjang. Mereka dapat memanfaatkan media sosial, katalog digital, layanan pemesanan daring, dan pengiriman produk ke luar daerah.
Misalnya, penjual kopi Dieng dapat menawarkan paket oleh-oleh kepada wisatawan sekaligus membuka layanan pemesanan ulang. Pedagang makanan khas juga dapat mempromosikan produknya melalui konten digital agar pelanggan tetap mengenal usahanya setelah pulang.
Pemerintah daerah dapat mendukung strategi tersebut melalui pelatihan pemasaran digital, peningkatan kualitas kemasan, penguatan identitas produk lokal, dan perluasan akses pasar. Dengan cara ini, manfaat DCF tidak hanya bertahan selama beberapa hari, tetapi juga membantu usaha warga tumbuh sepanjang tahun.
Jangan Abaikan Kebersihan dan Kenyamanan Wisatawan
Pertumbuhan pariwisata juga menuntut pengelolaan kawasan yang lebih baik. Kemacetan, penumpukan sampah, keterbatasan parkir, dan informasi tarif yang tidak jelas dapat mengurangi kenyamanan pengunjung.
Pemerintah daerah, penyelenggara, dan masyarakat perlu bekerja sama mengatasi persoalan tersebut. Pengelola dapat memperbaiki pengaturan arus kendaraan, menambah titik pengumpulan sampah, memperjelas informasi tarif, serta menjaga kebersihan kawasan wisata.
Pelayanan yang baik akan memperkuat kepercayaan wisatawan dan mendorong kunjungan ulang. Kondisi ini sekaligus memberi peluang lebih besar bagi pedagang, pengelola penginapan, dan usaha lokal lainnya.
Ukur Keberhasilan Festival dari Manfaat bagi Warga
Dieng Culture Festival memiliki potensi besar untuk memperkuat ekonomi Banjarnegara. Namun, pemerintah daerah tidak cukup hanya mengandalkan jumlah pengunjung dan nilai transaksi selama acara berlangsung.
Pemerintah juga perlu mengevaluasi jumlah UMKM yang terlibat, perkembangan penjualan produk lokal, peluang kerja yang muncul, dan keberlanjutan usaha setelah festival berakhir.
Dengan evaluasi tersebut, penyelenggara dapat memperbaiki program pada pelaksanaan berikutnya. Masyarakat pun memiliki peluang lebih besar untuk menikmati manfaat pariwisata secara langsung.
Dieng Culture Festival seharusnya menjadi lebih dari sekadar agenda budaya tahunan. Festival ini perlu membuka jalan bagi UMKM untuk berkembang, memperkuat ekonomi desa, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banjarnegara secara berkelanjutan.


