Demo Warga Dataran Tinggi Dieng Menolak Pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB)
Aksi penolakan proyek pengeboran PT. Geodipa oleh Afas
OPINIJATENG.COM – Dieng 25 Januari 2022, proyek pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang dilakukan oleh PT. Geo Dipa Energi Unit 2 meuai banyak protes dan penolakan keras oleh warga desa Karangtengah kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara.
17 Januari 2022, menjadi hari dimulainya aksi unjuk rasa oleh warga desa Karangtengah dengan mengadakan aksi poster penolakan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) PT. Geo Dipa di Dieng.
Penolakan tersebut merupakan respon dari adanya rencana penambahan masterplan unit 2 PLTP Dieng yang lokasinya hanya berjarak 2 meter dari permukiman warga.
BACA JUGA : Sering Longsor, Dieng Krisis Konservasi
Aksi tersebut juga merupakan respon atas rusaknya sumber kehidupan mereka dari mulai air, udara, tanaman, tanah hingga kenyamanan akibat operasional PLTP.
Terhitung hingga saat ini, sudah ada sekitar 31 wellpad (petak/tapak sumur), yang disetiap wellpad-nya terdapat 2-4 sumur bor panas bumi.
Penolakan PLTP Dieng tidak hanya muncul dari masyarakat Karang Tengah, tetapi juga dari desa-desa lain yang menjadi konsesi dan terdampak akibat aktivitas PLTP tersebut, salah satunya adalah Desa Bakal yang terancam sumber mata airnya akibat rakusnya kebutuhan air PLTP, yaitu 40 liter/detik (perkiraan) atau sekitar 6500 – 15.000 liter air untuk setiap MWh.
Keberadaan PLTP di tengah-tengah mayoritas masyarakat Dieng yang menggantungkan hidup pada pertanian, jelas akan merampas hidup mereka.
BACA JUGA : Tanda-tanda Allah sedang Menghapus Dosa-dosamu, Salah Satunya Kamu Merasa Sedih
Bahkan salah satu warga Desa Bakal mengatakan dengan tegas “Tanpa listrik kami bisa hidup, tapi tanpa air kita bisa mati”.
Menurut Rizal salah seorang pemuda dari desa Bakal kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara yang menyuarakan tentang apresiainya tekait dampak yang akan terjadi, jika proyek pengeboran ini terus di laukan maka resiko seprti hilangnya sumber mata air yang dimanfaatkan untuk warga sekitar desa Bakal, juga dampak lain seperti potensi kecelakaan berupa ledakan pengeboran gas bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Saat ini masyarakat desa Karantengah dan desa Bakal masih mempertahankan aksi unjuk rasanya hingga mendapat respon pemberhentian dari pihak PT. Geo Dipa.
