By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Nakal Belum Tentu Kriminal, Resensi Novel Ketapel Karya Wardjito Soeharso
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Ruang Ekspresi

Nakal Belum Tentu Kriminal, Resensi Novel Ketapel Karya Wardjito Soeharso

Arifin
Last updated: 13 Mei 2022 19:20 19:20
By Arifin
6 Min Read
Share
Ketapel, Novel Karya Wardjito Soeharso
SHARE

Judul : KETAPEL
Penulis : Wardjito Soeharso
Tebal : 395 halaman
Penerbit. : Rua Aksara, Yogyakarta
Cetakan pertama : Februari 2022

“Nakal belum tentu kriminal”

OPINIJATENG.COM – Joko dan Bambang adalah sahabat sepermainan saat di kampung.

Dua anak-anak yang harus menjadi terdakwa di persidangan pengadilan desa karena mencuri buah mangga tetangganya dengan menggunakan ketapel.

Dengan demikian mereka harus menerima hukuman dari para sesepuh dan aparat desa dalam bentuk kerja sosial.

Setelah dewasa, Joko memilih profesi sebagai wartawan suatu surat kabar harian di Kota Semarang.

BACA JUGA: Menanti Kepedulian Industri Pengolahan Menengah Besar

Hingga suatu ketika terjebak pada permainan kolusi tingkat atas saat mengadakan investigasi berita pada sebuah proyek pembangunan pelabuhan yang melibatkan dua perusahaan raksasa dan pejabat tinggi daerah.

Tanpa disadari, karena sudah terlibat terlalu jauh dalam permainan konflik kolusi tingkat atas, timbul ide kenakalan masa kanak-kanak saat bermain ketapel.

Ketapel tetap mengambil peranan penting meskipun kali ini sasaran bidik bukan lagi mangga tetangganya, tetapi mengambil bagian uang rakyat dalam pusaran permainan nakal para konglomerat.

Sistem pemerintahan yang bajingan akan melahirkan rakyat yang bajingan juga, hingga kita tidak tahu siapa-siapa yang lebih bajingan dari sekadar yang layak disebut bajingan.

Demikianlah hingga pada akhirnya Joko dan kawan-kawan berhasil menjadi bajingan kecil yang mengambil keuntungan dari para bajingan besar.

Hasil jarahan dari para bajingan besar, Joko dan kawan-kawan berhasil melegitimasi diri sebagai Maling (Pak) Budiman bagi rakyat kecil yang membutuhkan.

BACA JUGA:Waspada Penyakit yang Tak Bisa Disembuhkan, Prof Ahmad Rofiq: Buang Semua Penyakit Hati

Pada reuni Ketapel di kampung antara Joko dan Bambang setelah berpisah sekian tahun, kenyataannya masih sama. Mereka berdua ternyata masih sama-sama nakal.

“Nakal memang bibit kejahatan, tetapi jika pandai mengelola kenakalan akan jadi senjata untuk melawan kriminal”
Itulah gambaran sekilas apa yang menjadi kandungan dalam novel ini.

Saat membaca buku novel ini, saya sempat berpikir bahwa penulis mempunyai latar belakang seorang wartawan, minimal seorang responden suatu koran atau majalah, mengingat begitu detilnya berkisah seluk-beluk kinerja wartawan.

Mulai dari menganalisa isu, investigasi hingga telaah berita tuntas dipaparkan.

Tetapi setelah membaca biodata penulis, sedikit terperangah saat mengetahui ternyata tidak mempunyai latar belakang kewartawanan sama sekali.

Mungkin karena baru sekali ini membaca karya penulis yang sebenarnya sudah lama malang melintang di dunia sastra tanah air, sehingga saya agak awam untuk mengenal penulis.

Dalam ‘Ketapel’ penulis begitu mahir memaparkan rangkaian kisah yang saling berhubungan antara satu fragmen cerita ke fragmen cerita selanjutnya dengan sangat relevan.

Penggambaran karakter antar tokoh dalam novel ini cukup mewakili setiap peran masing-masing dalam setiap sesi peristiwa dan situasi yang diciptakan dalam alur kisah.

Sedikit kelemahan mungkin terjadi pada ‘repetisi’ dialog yang sebenarnya bisa dipaparkan lebih singkat dan mengisi dengan mode/trik paparan yang lebih mengembangkan plot cerita.

Kelebihan penulis dalam novel ini, sangat paiwai dalam menyisipkan kata-kata motivasi dan pesan-pesan bijak baik dari sisi intelektualitas ataupun yang bersumber dari kearifan lokal (local wisdom) dalam paparan atau sesi dialogis antar tokohnya.

BACA JUGA:Kelas Sosial dalam Zakat

Misalnya, “Nakal belum tentu kriminal, meskipun jika terjadi pembiaran bisa menjurus pada kejahatan”, “Idealisme tunduk pada kepentingan, integritas kian terkikis oleh keserakahan” atau “Sarjana harus kembali pulang untuk mengabdikan ilmu pada kampung halamannya”.

Dan masih banyak lagi kata-kata yang layak disimak dan dijadikan inspirasi bagi pembaca, utamanya kaum muda.

Gaya kepenulisan dengan tokoh pemuda yang memiliki antusiasme perubahan tatanan sosial budaya yang lebih mapan, ada kemiripan dengan gaya penulis pendahulu semacam Motinggo Busye atau Maria Fransiska era ’80an.

Yang membedakan adalah idealisme dan bidang pergerakan masing-masing tokoh menyesuaikan pada zamannya.

Membaca novel ini, mengingatkan saya pada legenda Brandal Lokajaya (Raden Syahid) putra seorang Adipati di Tuban yang menjadi perampok harta para petinggi kadipaten yang korup dan sewenang-wenang untuk dibagikan kepada rakyat jelata yang hidup kekurangan (Dalam Cerita Rakyat ‘Sunan Kalijaga’).

BACA JUGA:Dispermades PPKB Banjarnegara Gelar Sosialisasi Terkait Raperbup Sanksi Pelanggaran Disiplin Aparatur Pemerintah Desa

Apakah penulis sempat terinspirasi oleh legenda ini? Hanya penulis sendiri yang tahu pasti.

Tetapi apapun itu, tetap tidak mengurangi nilai novel ini sebagai khasanah bacaan yang tidak sekadar menghibur namun juga memuat pesan bijak juga memberikan gambaran tentang permainan para penguasa yang korup, ketimpangan sosial, dan konspirasi kolusi tingkat tinggi pada proyek-proyek negara.

Anda penasaran?

Segera dapatkan novelnya.

Balikpapan, 12 Mei 2022.

Biodata penulis:
Jo Prasetyo, biasa dipanggil Cak Jo. Dalam dunia kepenulisan juga disebut sebagai Sukma Perindu.
Lahir di Kediri, 10 Januari 1971. Menulis puisi sejak di bangku SMP.

Tahun ’90-an karyanya berupa puisi, cerpen, esai dan opinion publik sering dimuat koran mingguan di kota-kota pulau Sumatra.

Begitu juga pada antologi puisi bersama beberapa komunitas di Tanah Air.
Penulis sekarang berdomisili dan bekerja pada sebuah kontraktor di Kota Balikpapan, namun tetap menulis puisi dan menjadi pemerhati sastra.***

You Might Also Like

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 20
Kancil dan Buaya
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 82
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 83
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 65
TAGGED:Cak Joketapelnovelresensi novelWardjito Soeharso
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Menanti Kepedulian Industri Pengolahan Menengah Besar
Next Article Dianiaya 3 Orang di Jl Kelud Raya Semarang, Warga Gajahmungkur Sempat Masuk RS Kariadi, Ini Kronologinya…
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Kentang goreng berwarna keemasan dengan taburan garam dan rempah, disajikan bersama saus tomat.
Resep Kentang Goreng Krispi Tanpa Tepung, Rahasia Camilan Renyah untuk Temani Waktu Santai
Jateng News
Tumis buncis dengan wortel, irisan sosis, dan cabai merah yang disajikan dalam mangkuk cokelat.
Bingung Menyiapkan Menu Harian? Ini 7 Ide Tumisan Praktis yang Hemat Minyak dan Cocok untuk Keluarga
Jateng News
Martabak telur goreng berwarna keemasan dengan isian telur dan daun bawang, dipotong menjadi beberapa bagian.
Tak Perlu Beli di Pinggir Jalan, Martabak Telur Kulit Lumpia Ini Bisa Dibuat Sendiri di Rumah
Jateng News
Nasi goreng berbumbu dengan telur mata sapi, irisan cabai merah, daun bawang, dan sambal.
Tak Perlu Timbangan Dapur! Resep Nasi Goreng Takaran Sendok untuk Bekal Sekolah Anak
Jateng News
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?