Terhindar dari Stroke, Darah Tinggi, dan Serangan Jantung? Lakukan Saran Prof Ahmad Rofiq Berikut Ini
Jangan Sia-siakan Shalat Kita dengan Menebar Fitnah
OPINIJATENG.COM – Anda ingin terhindar dari stroke, darah tinggi, dan serangan jantung?
Coba lakukan saran dari Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof Ahmad Rofiq ini.
“Memaafkan orang lain tidak mudah. Padahal memaafkan sangat bermanfaat bagi kesehatan,” kata Prof Ahmad Rofiq.
Berikut penjelasan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Wilayah Jawa Tengah Prof Ahmad Rofiq ketika menyampaikan hikmah halal bihalal di Masjid Baitussalam, Jalan Taman Karonsih Raya, Ngaliyan, Semarang, Kamis malam, 19 Mei 2022.
Mengapa memaafkan bisa menghindarkan diri dari penyakit darah tinggi, stroke, dan serangan jantung?
“Memaafkan membutuhkan kelapangan hati, kesabaran, dan keikhlasan. Namun, memaafkan jauh lebih baik daripada terus menyimpan rasa marah, kecewa, ataupun dendam. Marah, dendam, atau iri itu hanya menghabiskan energi,” jelasnya.
Nakal Belum Tentu Kriminal, Resensi Novel Ketapel Karya Wardjito Soeharso
BACA JUGA:
Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini menambahkan bahwa memaafkan sangat bermanfaat bagi kesehatan.
Dengan memaafkan, maka rasa marah dan tekanan yang mengganggu emosi pun dapat diredakan.
Pikiran menjadi lebih tenang dan jauh dari stres.
“Memaafkan membuat kita terhindar dari penyakit jantung, darah tinggi, bahkan stroke.”
Prof Ahmad Rofiq yang juga Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah menambahkan, jika menyimpan rasa marah dan dendam, wajah kita akan kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya.
“Silakan bercermin, siapa tahu wajah kita tampak lebih tua, itu berarti kita masih menahan rasa marah,” katanya.
Pada kesempatan itu Ahmad Rofiq juga menjelaskan tentang asal usul halal bihalal yang hanya terjadi di Indonesia.
BACA JUGA:Menanti Kepedulian Industri Pengolahan Menengah Besar
Hal itu, kata dia, berawal dari KH Abdul Wahab Hasbullah yang memperkenalkan istilah halalbihalal pada Bung Karno, Presiden RI saat itu, sebagai bentuk silaturahmi antarpemimpin partai politik yang saat itu selalu konflik dan bertikai.
“Atas saran dari KH Wahab, saat Hari Raya Idul Fitri tahun 1948 Bung Karno mengundang para tokoh politik ke Istana Negara untuk acara silaturahmi yang bertajuk Halalbihalal. Tradisi yang sangat baik ini berlanjut sampai sekarang,” ujarnya.
Prof Ahmad Rofiq yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, juga mengingatkan mengenai pentingnya zakat fitrah dibayarkan tepat waktu.
Dalam kaitan ini, ia menceritakan tentang Utsman yang lupa membayar zakat fitrah dan datang pada Nabi Muhamad untuk melapor, “Wahai Rasulullah saw, saya lupa membayar zakat fitrah sebelum sholat Id, dan saya telah membayar kafarat dengan memerdekakan seorang budak (hamba)”?
Nabi Muhammad saw justru menjawab, “Wahai Utsman, sekiranya kamu memerdekakan seratus orang hamba, sungguh tidak dapat menyamai pahala zakat fitrah sebelum sholat Id.”
Zakat, kata Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat ini, dapat membentuk sifat dan sikap zuhud, tidak materialis, tidak hedonis, dan tidak konsumeristik secara berlebihan terhadap materi. Seseorang yang berpenghasilan lebih dari 85 gram emas, wajib mengeluarkan zakat sebanyak 2,5% diserahkan kepada amil.
BACA JUGA:Waspada Penyakit yang Tak Bisa Disembuhkan, Prof Ahmad Rofiq: Buang Semua Penyakit Hati
Sedangkan Ketua Yayasan Baitussalam Didik Suwarsono dalam sambutannya secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Prof Ahmad Rofiq yang di tengah kesibukannya berkenan hadir dan memberikan hikmah halal bihalal kepada jamaah Masjid Baitussalam.
Selain itu, Didik juga mengucapkan terima kasih kepada segenap pengurus Masjid Baitussalam dan bidang-bidang di bawah naungan yayasan, seperti TPQ, Elwazis, Grup Darun Nisa, dan Remaja Masjid, yang terus berkarya tanpa kenal lelah untuk kemajuan bersama.***
