19 April 2026 22:15

Prof Ahmad Rofiq: Mengotori Kekuasaan dengan Berbuat Dzalim, di Akhirat Bisa Bergelar Al-Muflis

0
Prof Ahmad Rofiq Australia

Prof Ahmad Rofiq

OPINIJATENG.COM – Di akhir Bulan Syawal 1443 H, tepatnya tanggal 25 Syawal, menjelang tutup catatan di bulan Syawal yang merupakan bulan prestasi, kita perlu melakukan muhasabah.

Bicara kefitrian, apakah kita sudah mampu mewujudkan nilai-nilai kefitrian – laksana bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim ibunya – di dalam mengisi catatan amal di bulan Syawal?

Apakah kita sudah bisa dan mampu menambah amalan baik kita ataukah masih terus asyik dengan melestarikan suudhan (buruk sangka), memfitnah tanpa melakukan tabayun, mengumbar kedengkian dengan semangat permusuhan yang tidak pernah selesai?

BACA JUGA:Prof Dr S Martono Msi Calon Terkuat Rektor Unnes Periode 2022-2026

Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mati dan hidup manusia adalah untuk berkompetisi secara fair dan jujur, mana di antara kita yang lebih baik amal perbuatannya (QS. Al-Mulk (67): 2).

Agar jalannya kompetisi itu adil dan fair, maka Allah memberikan rambu dan panduan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Manusia sendiri, di dalam dirinya, terdapat potensi kebaikan dan keburukan sekaligus.

“Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Al-Syams (91): 7-10).

BACA JUGA:DMI dan GusJiGangpreneurship

Apabila jiwa itu terkontaminsasi oleh bisikan atau informasi-informasi yang tidak benar, maka jiwa itu pun berubah menjadi kotor juga.

Jiwa yang kotor, akan menutup jiwanya sendiri, menjadi gelap (dzulm) dan ini berpotensi berpotensi melakukan kedzaliman kepada orang yang tidak disenanginya.

Karena kata dzulm, dzalim, dan yadzlimun yang artinya gelap, berbuat aniaya/dzalim, dan mereka berbuat kedzaliman, memiliki akar kata yang sama, artinya kegelapan atau kedzaliman.  

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany (470–561 H) atau (1077–1166 M) yang nama lengkapnya Abdul Qadir bin Abi Shalih ‘Abdullah bin Janki Dausat al-Jailany al-Syafi’iy al-Hanbaly dalam karya Futuhu l-Ghaib (Kitab Pembuka Rahasia Kegaiban) (2021:137-138) pada poin ke-37 membahas tentang “Kedengkian Melahap Kebajikan”.

BACA JUGA:Kakanwil Kemenag Resmikan Pembangunan TPQ Plus Al-Qodar Sendangmulyo Semarang

Beliau mengingatkan: “Wahai orang yang beriman, kenapa kamu iri dan dengki kepada tetangga – dan saudaramu – yang hidup senang, yang mendapat curahan rahmat dari Tuhannya? Tidakkah kamu tahu kedengkian itu melemahkan imanmu, menjatuhkan kedudukanmu di hadapan Tuhanmu, dan membuatmu dibenci oleh-Nya? Bukankah kamu telah mendengar sabda Nabi saw bahwa Allah berfirman: “Seseorang yang iri hati adalah musuh rahmat Kami (Allah)!” (h. 137).

“Belumkah kamu dengar sabdanya: “Sesungguhnya kedengkian melahap habis kebajikan, layaknya api melahap kayu bakar. Lantas mengapa kamu iri kepadanya, wahai orang yang malang? Apakah kamu menganggap bagiannya itu sebagai bagianmu? Jika kamu mendengkinya lantaran karunia Allah, yang ia dapatkan, berarti kau menyalahi firman-Nya”:
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan di antara mereka rezeki mereka di kehidupan dunia ini. Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar satu sama lain saling mempergunakan. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan” (QS. Az-Zukhruf (43): 32).

BACA JUGA: Terhindar dari Stroke, Darah Tinggi, dan Serangan Jantung? Lakukan Saran Prof Ahmad Rofiq Berikut Ini

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany yang meneruskan: “Jika kamu mendengki orang lain, berarti kamu mendzaliminya. Kamu medzalimi orang yang diberi karunia oleh Tuhannya. Padahal karunia itu dikhususkan kepadanya, bukan untuk yang lain.”

Siapakah yang lebih dzalim, serakah, dan bodoh selain dirimu? Dengan kata lain, kedengkianmu adalah kedzalimanmu. Dan itu, boleh jadi orang yang kamu dengki, tidak pernah memikirkan apa yang menjadi kedengkianmu.

Subhanallah, diksi kalimat yang digunakan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jailany yang dikenal sebagai Sulthan al-Auliya’ itu, sangat lugas dan vulgar.

Oleh karena itu, mari kita berikhtiar untuk sebisa mungkin membuang sejauh-jauhnya perasaan iri dengki itu, jangan sampai mendera hati, fikiran, dan perasaan kita.

BACA JUGA:Nakal Belum Tentu Kriminal, Resensi Novel Ketapel Karya Wardjito Soeharso

Karena itu semua akan melahap dan menghanguskan semua kebaikan kita, karena pada hakikatnya, ketika kita iri dengki dan mendzalimi orang lain, baik secara langsung atau dengan menebar kedengkian, dan melakukan upaya-upaya sistematis untuk menjatuhkan orang yang sedang mendapatkan rahmat dari Allah, berarti kamu sedang mendzalimi dirimu sendiri.

Rasulullah saw mengingatkan, “Sesama orang yang beriman, itu laksana satu tubuh. Apabila sebagian anggota tubuh menderita sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakit” (Muslim, 4685).

Khususnya bagi saudaraku yang sedang diamanati “kekuasan” atau jabatan.

Rasulullah saw mengingatkan kita: “Orang Islam (yang benar) adalah orang yang mampu menjaga orang lain dari rasa sakit akibat kedzaliman/kedengkian lisan dan tangan (kekuasaan)-nya” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim). 

“Karena itu, banyak orang yang telah melaksanakan ibadah shalat, puasa, membayar zakat, melaksanakan haji, akan tetapi karena dia masih terus rajin memelihara kedengkian, kedzaliman, memfitnah, dan mengumpat orang lain, pada gilirannya, dia menjadi orang yang bangkrut,” ujarnya.

BACA JUGA:Orang Cerdas Punya Kebiasaan Unik, Ini Faktanya?

Inilah yang oleh Rasulullah saw disebut dengan al-muflis.

“Semoga Allah melindungi kita dari sifat iri dan dengki, yang memang sangat potensial mendera hati, fikiran, dan perasaan kita, terutama bagi saudaraku yang merasa sedang “berkuasa” baik dalam jabatan kedinasan maupun keswastaan/keormasan.”

Hasbunâ Allâh wa ni’ma l-wakîl ni’ma l-maulâ wa ni’ma n-nashîr.

Lâ haula wa lâ quwwata illâ biLlâhi l-‘aliyyi l-‘adhîm.*** 

*)Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA. Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana dan FSH UIN Walisongo Semarang, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat IAEI Pusat.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *