By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Prof Tri Joko Raharjo Akan Membantu Guru SD Kota Semarang yang Ingin Kuliah S2 di Unnes
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Pendidikan

Prof Tri Joko Raharjo Akan Membantu Guru SD Kota Semarang yang Ingin Kuliah S2 di Unnes

Arifin
Last updated: 23 Juni 2022 16:31 16:31
By Arifin
5 Min Read
Share
Prof Tri Joko Raharjo, Kaprodi S2 PGSD Unnes berfoto bersama peserta kegiatan Penelitian Pascasarjana Unnes Semarang dengan tema Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia Tenaga Pendidik di SD Negeri Petompon 02, Gunungpati, Semarang, Rabu, 15 Juni 2022.
SHARE

OPINIJATENG.COM -Prof Tri Joko Raharjo, Kaprodi S2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unnes mengajak para guru sekolah dasar (SD) untuk meningkatkan kualitas diri dan strata pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni kuliah S2 (Magister).

“Akan tiba suatu masa di mana seluruh guru SD wajib S2 (Magister). Dan, itu insya Allah pasti terjadi. Karena zaman selalu berkembang. Kaum pendidik juga dituntut untuk terus menerus mengembangkan diri (sumber daya manusia – SDM),” jelas Prof Tri Joko Raharjo di hadapan kepala sekolah dan guru-guru SDN Petompon 02, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Rabu, 15 Juni 2022.

Pengembangan SDM bisa dengan mengikuti beragam kegiatan pendidikan dan pelatihan, peningkatan kompetensi prosesional, kualifikasi akademik guru, uji sertifikasi, dan perbaikan metode pembelajaran secara efektif, dan lain-lain.

BACA JUGA:Prof Martono Unggul dalam Pemilihan Rektor UNNES 2022-2026

“Selain itu meraih strata pendidikan yang lebih tinggi, dari semula S1 (sarjana) ke S2 (magister) atau S3 (doktoral) juga sangat penting. Untuk itu saya mengimbau dan saya ajak seluruh guru SD untuk meraih gelar S2 dengan kuliah di Pascasarjana Unnes,” katanya.

Lebih jauh Prof Tri Joko Raharjo menyitir pendapat para solih bahwa pendidikan dasar anak-anak dimulai dari keluarga. Ibu adalah sekolah pertama bagi bayi hingga balita.

“Al-Ummu madrasatul ula, iza adadtaha adadta syaban thayyibal araq (al-Hadist). Artinya, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya,” jelas Prof Tri pada kegiatan Penelitian Pascasarjana Unnes Semarang dengan tema Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia Tenaga Pendidik di SD Negeri Petompon 02 Gunungpati, Semarang.

Guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), dan guru SD adalah termasuk madrasatul ula di tingkat selanjutnya.

BACA JUGA:Piwulang Juara Kompetisi Film Pendek Islami Tingkat Jateng

“Kalau guru PAUD dan TK sudah banyak yang bergelar sarjana, Strata 1 (S1), maka guru-guru SD sudah selayaknya memiliki gelar Magister (S2). Bahkan dalam waktu dekat guru-guru SMP dan sederajat serta SMA sederajat juga sudah wajib bergelar magister.”

Prof Tri Joko Raharjo memotivasi dan mengajak ara guru SD di Kota Semarang dan seluruh Jawa Tengah untuk meningkatkan strata akademiknya dengan kuliah S2.

“Tidak harus linear. Meski pendidikan linier ke strata yang lebih tinggi itu lebih baik, karena berkesinambungan dari strata pendidikan sebelumnya. Silakan seluruh SD di Kota Semarang dan sekitarnya yang ingin kuliah S2 di Unnes berkonsultasi dengan saya. Kantor saya selalu terbuka lebar,” ujarnya.

4 Kompetensi Pendidik

Pada kesempatan itu, Prof Tri Joko Raharjo kembali mengingatkan 4 kompetensi pendidik. Yakni dalam hal kepribadian, profesional, pedagogi, dan sosial.

“Mengajar harus dengan hati (heart). Artinya seorang guru wajib mengajar sepenuh hati. Tidak asal mengajar dan tiap bulan gajian. Ini yang perlu diluruskan kembali. Jangan mengajar karena semata-mata untuk mendapat gaji bulanan. Mengajar dan mendidiklah anak-anak kita dengan hati yang tulus,” ujarnya.

BACA JUGA: Raudhah atau Taman Surga dan Aplikasi Eatrmarna, Prof Ahmad Rofiq: Manajemen Baru…

Mengajar dan mendidik harus dengan pikiran (mind).

“Mengajar dengan mind, pikiran, otak, berinovasi dengan metode-metode pembelajaran.”

Mengajar dengan tangan (hand). Artinya memberikan contoh dengan tangan. Selain itu guru harus sehat (health). Guru di depan murid harus selalu sehat. Kalau sedang tidak enak badan, segera ke dokter, istirahat.

“Sehingga saat tampil di depan anak-anak didiknya, nampak sehat dan segar,” tegasnya.

Guru, lanjut rof Tri, harus humanis (humanist) sehingga anak-anak didik nyaman ketika mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Terlebih lagi jika guru mengedepankan budaya (culture) lokal dan local culture dan local culture.

BACA JUGA: Raudhah atau Taman Surga dan Aplikasi Eatrmarna, Prof Ahmad Rofiq: Manajemen Baru…

“Ilmu pendidikan itu sangat komplet dan komprehensif. Makanya, jangan mendidik dengan pengetahuan saja. Kalau itu dilakukan para guru, mereka ditinggalkan siswanya. Sebab, google lebih pintar daripada guru.”

Sebaliknya, jika mengajar dan mendidik dengan budi pekerti, moral, dan adab (sikap), maka sampai matipun akan sangat bermanfaat dan tertanam di hati dan pikiran siswa. Hingga pada outputnya nanti anak-anak didiknya menjadi orang mulia dan sejahtera.

Sementara itu Kepala SDN Petompon 02 Gunungoati Semarang, Triyono SPd menyatakan terima kasih karena telah diberi ilmu yang sangat bermanfaat bagi seluruh guru di sekolahnya.

BACA JUGA:Minyak Goreng, BBM dan Inflasi

“Kami sangat termotivasi. Terutama tentang ajakan untuk segera meningkatkan strata pendidikan dari jenjang S1 ke S2,” ujarnya.

Salah seorang guru SDN Petompon 02, Meutia Anis SPd MPd menyatakan, “Prof Tri sangat inspiratif dan membangkitkan semangat kami, para guru SD, untuk lebih ikhlas dan semangat dalam mengajar,” katanya.***

You Might Also Like

SMK NU Ma’arif Kudus Siap Go International
Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 3 Halaman 20, 23, 24 Pembelajaran 3 Sub Tema 1 Keadaan Cuaca
Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 Halaman 44, 45, 49, 50, 53 Pembelajaran 5 Sub Tema 1 Pengalamanku di Rumah
Kunci Jawaban Tema 4 Kelas 3 Halaman 62, 63, 65 Pembelajaran 3 Sub Tema 2 Kewajiban dan Hakku di Sekolah
Baru! Aturan Pencairan Tunjangan Sertifikasi Guru PNS dan PPPK
TAGGED:Guru SDguru SD wajib S2Kaprodi PGSD Pascasarjana UnnesKaprodi S2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UnnesPascasarjana UnnesProf Tri Joko RaharjoUnnes Semarang
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Pengembangan Desa Wisata Berbasis Kearifan Lokal di Desa Waleng, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri
Next Article cover lagu Hati-Hati Jangan Sembarangan Cover Lagu, Denda Besar Menanti!
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Ilustrasi pemuda dan tokoh acara memegang bola sepak di atas panggung dengan pertunjukan seni tradisional dan lampu warna-warni.
Bukan Sekadar Panggung Hiburan, Anak Muda Butuh Ruang untuk Mengubah Ide Menjadi Peluang
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi penari jaran kepang mengenakan kostum tradisional merah dan emas sambil menari dengan properti kuda kepang di panggung festival.
Festival Budaya Jangan Cuma Ramai Pengunjung, Seniman dan UMKM Juga Harus Diuntungkan
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi penari tradisional mengenakan hiasan kepala berwarna emas dan membawa selendang kuning dalam pertunjukan budaya.
Budaya Lokal Bukan Sekadar Tradisi, Ini Peluang Besar bagi Ekonomi Kreatif dan Generasi Muda
Culture Jateng
Ilustrasi parade Cap Go Meh dengan peserta berbaju merah mengarak hiasan ritual di bawah deretan lampion merah.
Cap Go Meh Bukan Sekadar Festival Lampion, Ada Jejak Akulturasi Budaya yang Hidup di Indonesia
Culture Jateng
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?