Kedengkian Melahap Kebajikan
Prof Ahmad Rofiq
OPINIJATENG.COM- Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mati dan hidup manusia adalah untuk berkompetisi secara fair dan jujur, mana di antara kita yang lebih baik amal perbuatannya (QS. Al-Mulk (67): 2).
Agar kompetisi itu adil dan fair, maka Allah memberikan rambu dan panduan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Manusia sendiri, di dalam dirinya, terdapat potensi kebaikan dan keburukan sekaligus. “Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Al-Syams (91): 7-10).
Apabila jiwa itu terkontaminsasi oleh bisikan atau informasi-informasi yang tidak benar, apalagi tanpa melakukan tabayyun, maka jiwa itu pun dapat berubah menjadi kotor juga.
Jiwa yang kotor, akan menutup jiwa itu menjadi gelap (dzulm) dan ini berpotensi melakukan kedzaliman kepada orang yang tidak disenanginya. Karena kata dzulm, dzalim, dan yadzlimun yang artinya gelap, berbuat aniaya/dzalim, dan mereka berbuat kedzaliman, memiliki akar kata yang sama, artinya kegelapan atau kedzaliman.
Syeikh Abdul Qadir al-Jailany (470–561 H) atau (1077–1166 M) yang nama lengkapnya Abdul Qadir bin Abi Shalih ‘Abdullah bin Janki Dausat al-Jailany al-Syafi’iy al-Hanbaly dalam karya Futuhu l-Ghaib (Kitab Pembuka Rahasia Kegaiban) (2021:137-138) pada poin ke-37 membahas tentang “Kedengkian Melahap Kebajikan”.
Beliau mengingatkan: “Wahai orang yang beriman, kenapa kamu iri dan dengki kepada tetangga – dan saudaramu – yang hidup senang, yang mendapat curahan rahmat dari Tuhannya? Tidakkah kamu tahu kedengkian itu melemahkan imanmu, menjatuhkan kedudukanmu di hadapan Tuhanmu, dan membuatmu dibenci oleh-Nya? Bukankah kamu telah mendengar sabda Nabi saw bahwa Allah berfirman: “Seseorang yang iri hati adalah musuh rahmat Kami (Allah)”! (h. 137).
“Belumkah kamu dengar sabdanya: “Sesungguhnya kedengkian melahap habis kebajikan, layaknya api melahap kayu bakar. Lantas mengapa kamu iri kepadanya, wahai orang yang malang? Apakah kamu menganggap bagiannya itu sebagai bagianmu? Jika kamu mendengkinya lantaran karunia Allah, yang ia dapatkan, berarti kau menyalahi firman-Nya”: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan di antara mereka rezeki mereka di kehidupan dunia ini. Dan Kami telah meninggikan Sebagian mereka atas Sebagian yang lain beberapa derajat agar satu sama lain saling mempergunakan. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan” (QS. Az-Zukhruf (43): 32).
Syeikh Abdul Qadir al-Jailany meneruskan: “Jika kamu mendengki orang lain, berarti kamu mendzaliminya. Kamu mendzalimi orang yang diberi karunia oleh Tuhannya. Padahal karunia itu dikhususkan kepadanya, bukan untuk yang lain. Nah, siapakah yang lebih dzalim, serakah, dan bodoh selain dirimu? Dengan kata lain, kedengkianmu adalah kedzalimanmu. Dan itu, boleh jadi orang yang kamu dengki, tidak pernah memikirkan apa yang menjadi kedengkianmu.
Subhanallah, diksi kalimat yang digunakan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jailany yang dikenal sebagai Sulthan al-Auliya’ itu, sangat lugas dan vulgar.
Oleh karena itu, mari kita berikhtiar untuk sebisa mungkin membuang sejauh-jauhnya perasaan iri dengki itu, jangan sampai mendera hati, fikiran, dan perasaan kita.
Karena itu semua akan melahap dan menghanguskan semua kebaikan kita, karena pada hakikatnya, ketika kita iri dengki dan mendzalimi orang lain, baik secara langsung atau dengan menebar kedengkian, dan melakukan upaya-upaya sistematis untuk menjatuhkan orang yang sedang mendapatkan rahmat dari Allah, berarti kamu sedang mendzalimi dirimu sendiri.
Rasulullah saw mengingatkan, “Sesama orang yang beriman, itu laksana satu tubuh. Apabila sebagian anggota tubuh menderita sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sakit” (Muslim, 4685).
Pada giliran berikutnya, kedengkian itu akan menggerus keimanan dan menurunkan kualitas ketaqwaan. Bahkan bisa jadi akan berakibat menjadi termasuk kelompok orang-orang yang bangkrut atau muflis.
Na’ûdzu biLlâh. Semoga Allah melindungi kita dari sifat iri dan dengki, yang memang sangat potensial mendera hati, fikiran, dan perasaan kita.
Hasbunâ Allâh wa ni’ma l-wakîl ni’ma l-maulâ wa ni’ma n-nashîr. Lâ haula wa lâ quwwata illâ biLlâhi l-‘aliyyi l-‘adhîm.
*Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA. Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana dan FSH UIN Walisongo Semarang, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat IAEI Pusat.***
