15 Juni 2026 21:21
Prof Rofiq dan Wagub Taj Yasin

Prof Ahmad Rofiq dan Wagub Jateng Gus Taj Yasin Maemoen

OPINIJATENG.COM – Alhamdulillah, kita diberi kesempatan oleh Allah menerima kehadiran bulan penuh rahmah, maghfirah, dan berkah.

Ramadhan 1443 H. Bulan yang disediakan khusus bagi hamba-hamba Allah yang beriman, agar dapat menyiapkan pintu khusus ke surga, bernama Rayyan, yang akan dilewati hanya oleh hamba-hamba Allah yang puasa di bulan Ramadhan dengan ikhlas dan khusyu’. 

BACA JUGA: Kejaksaan Negeri Banjarnegara Berikan Penyuluhan Hukum Melalui Program Jaksa Menyapa, Begini Selengkapnya

Marilah kita terus berikhtiar menjadi hamba Allah yang memahami dan mau bersyukur ke hadirat Allah SWT.

Dengan bersyukur kita niatkan untuk merawat iman dan meningkatkan kualitas taqwa kita.

Taqwa inilah satu-satunya bekal kita guna mempersiapkan masa depan yang lebih indah dan abadi di hari akhir nanti.

Shalawat serta salam, mari kita sanjungkan ke haribaan baginda Rasulullah Muhammad SAW, figur teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi kita sebagai umat beliau.

Semoga kita bisa mengikuti beliau dan mendapat syafaat di hari kiamat nanti.

Satu minggu lagi, kita kehadiran “tamu istimewa” yang dinanti oleh kaum Muslim di seluruh dunia, bulan penuh pengampunan, kasih sayang, dan dibebaskannya manusia dari api neraka.

BACA JUGA: Menantikan Wisata dan Kuliner Halal di Kota Semarang

Tanggal 1 Ramadhan 1443 H ini berpotensi terjadi perbedaan.

Bagi yang mengikuti madzhab wujudul hilal (adanya bulan sabit) mengawali pada Sabtu, 2 April 2022 H, dan bagi yang mengikuti madzhab imkanur ru’yah (kemungkinan dilihat) besar kemungkinan mengawali puasa 3 April 2022 setelah keputusan siding itsbat Kementerian Agama. Masing-masing memiliki dasar dan keyakinan, maka marilah saling menghormati.

Dasarnya, perintah Rasulullah saw: “Berpuasalah kalian karena melihat bulan, maka apabila terhalang awan, sempurnakanlah (Sya’ban) tiga puluh hari” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa, seperti diwajibkan pada orang-orang yang sebelum kalian, agar mereka bertaqwa (kepada Allah)” (QS. Al-Baqarah (2): 183).

Allah mewajibkan hamba-hambanya yang beriman puasa Ramadhan, adalah untuk mensucikan diri, hati, dan pikiran mereka dari segala macam kotoran dan residu, baik dosa-dosa fisik lahiriyah maupun psikhis ruhaniyah.

BACA JUGA: Kabat Gembira! Jelang Lebaran, Ganjar Cairkan Insentif Pengajar Agama

Karena kita sebagai manusia diciptakan oleh Allah ditugasi menjadi khalifah-Nya di muka bumi ini.

Sebagaimana QS Shaad: 26, “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.

Apabila akan dating bulan suci Ramadhan, bagi hamba -hamba yang beriman berbahagialah untuk menyambutnya.

Rasulullah saw menegaskan: “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi.

Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya.

Pintu-pintu surga dibuka padanya.

Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup.

Setan-setan dibelenggu.

Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi”. (Riwayat Muslim).

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga.

BACA JUGA: Mega Gigih Septina: Decluttering bagi Kesehatan Mental

Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu.

Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan).

Puasa akan mengarahkan nafsu manusia yang selalu menyuruh manusia melakukan kejahatan, agar bisa menjadi nafsu yang diberi rahmat oleh Allah.

Inilah yang disebut dengan al-nafs al-muthmainnah yang akan dipanggil dan disapa oleh Allah untuk “kembali kepada Tuhan dan memasuki surge-Nya” (QS. Al-Fajr:27).

Menurut Syeikh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari, nafsu selamanya akan mengajak, memprovokasi ke dalam keburukan (ammaratun bi s-su’) dan condong kepada hawa nafsu. Maka jika kalian memilih dua hal dan bertentangan dengan keinginan nafsu kalian, itu pertanda kebaikan bagi kalian. Allah mengingatkan: “Janganlah kamu ikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”.

BACA JUGA: Bisakah Takdir Berubah? Ini Penjelasannya

Ketika Allah SWT memberi kita kelebihan kegemerlapan kekayaan duniawi, kekuatan jabatan dan kemasyhuran, maka sejak itu pula “jebakan” yang akan melalaikan kalian dari ibadah dan tafakkur kepada Allah, selalu menggerogoti, dan akan berganti dengan kedzaliman dan kesombongan, dan menutup pahala akhirat.

Namun sebaliknya, ketika Allah “menghalangi” kalian dari kelezatan duniawi yang memerosokkan kalian, dan Allah melimpahkan kalian pertolongan dan Allah akan membalas kehidupan akhirat.

Menurut Ibn ‘Athaillah, adalah “kebodohan” jika manusia membenci dan tidak menerima dengan ikhlas atas pembagian rizqi dan pemberian Allah. Di sinilah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Buaian hawa nafsu, menjadi musuh besar. Karena itu Rasulullah menyebutnya sebagai “jihad besar atau jihad akbar”.

Dan panglimanya adalah hati atau qalbu. Karena hati inilah sentral pengendali dalam diri manusia.

BACA JUGA: Minyak Goreng di Ekspor dengan Kamuflase Sayuran

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa apabila qalbu ini baik, maka anggota tubuh yang lainnya akan baik, sebaliknya apabila qalbu ini buruk, maka yang lainnya akan ikut buruk.

Karena itulah, Allah ‘Azza wa Jalla memberi kesempatan kita umur panjang, menjemput dan menjumpai bulan suci Ramadhan yang tahun ini kemungkinan akan nada perbedaan dalam mengawalinya.

Semoga dengan ibadah puasa yang kita laksanakan ini, mampu menjalaninya dengan ikhlas dan khusyu’, guna mengendalikan diri kita dari buaian hawa nafsu, yang setiap saat menyergap kita untuk mengikuti jalan Allah SWT, dan mengikuti jalan kesesatan. 

Dengan puasa Ramadhan, kita semua berharap dapat menghapus segala macam dosa, dosa lahiriyah dan dosa hati yang tidak Nampak.

Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan, Selamat bergembira menyambut bulan suci Ramadhan, semoga Allah senantiasa menolong dan meringankan hati kita untuk menjalani puasa Ramadhan. Amin ya Rabbal alamin.   
 
*)Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Guru Besar Hukum Islam UIN Walisongo Semarang, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, DPS BPRS Bina Finansia Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Pengurus Pusat  Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dan Ketua Forum Antarumat Beragama Peduli Kesejahteraan Keluarga dan Kependudukan (FAPSEDU) Jawa Tengah.***   

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *