17 April 2026 13:55

Prof Ahmad Rofiq: Kasih Sayang Allah Sangat Terlihat di Bulan Sya’ban dan Ramadhan

0
Prof Ahmad Rofiq diwawancarai wartawan televisi

Prof Ahmad Rofiq

Oleh: Ahmad Rofiq*)

OPINI JATENG – Di antara 12 bulan dalam setahun penanggalan Islam, ada dua bulan di mana Allah menunjukkan bahwa dia sangat sayang dengan umat Muhammad SAW. Bulan itu adalah Sya’ban dan Ramadhan.

Bahkan di Bulan Sya’ban dan Ramadhan itu banyak peristiwa besar dan bersejarah.

Kata “Sya’ban” artinya bercabang-cabang. Karena pada bulan Sya’ban, amal perbuatan hamba yang baik dilipatgandakan pahalanya.

BACA JUGA:UKW Joglosemar, Cetak Insan Pers Melek Etika dan Skill

Pada malam Nishfu (pertengahan) Sya’ban, Allah “menampakkan” pada hamba ciptaan-Nya dengan limpahan maghfirah (pengampunan)-Nya, keberlimpahan kasih sayang-Nya, maka dilimpahkan pengampunan dan kasih sayang kepada hamba-hamba yang memohon ampunan dan mengharap kasih sayang-Nya, dikabulkan doa mereka, diluaskan mereka yang sedang dalam kesempitan, dibebaskan mereka dari api neraka, dan dicatat rezeki dan amalan mereka.

Kaum muslimin, menyambut bulan Sya’ban dengan banyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak membaca shalawat pada Rasulullah saw, karena pada bulan Sya’ban ayat yang menegaskan bahwa Allah dan para Malaikat-Nya senantiasa bershalawat, dan karena itu orang-orang yang beriman diperintahkan untuk juga senantiasa bershalawat dan mendoakan keselamatan pada Nabi Muhammad saw.

Pada bulan Sya’ban juga, Allah ‘Azza wa Jalla, mengalihkan arah kiblat dari yang semula Rasulullah saw menghadap ke Masjidil Aqsha Palestina (arah utara Madinah) menjadi menghadap ke arah Ka’bah di Masjidil Haram Mekah.

BACA JUGA:Prof Ahmad Rofiq: Ber-Tagline INSAN, LPPOM-MUI Jadi One Entity yang Siap…

Di Madinah, dilestarikan dengan sebuah masjid cukup megah, dinamakan Masjid Qiblatain.

Pada bulan Sya’ban juga, catatan amalan manusia dilaporkan kepada Allah.

Karena itulah, ketika ditanya Sahabat, mereka nyaman ketika rekaman catatan amalan beliau dilaporkan kepada Allah, beliau sedang berpuasa.

Beliau puasa Sya’ban satu bulan penuh.

Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khubawi dalam kitab Durrah al-Nashihin menjelaskan tentang Fadlilah Bulan Sya’ban (hal.207-208) mengutip QS. asy-Syura, 42:19-20 yang artinya: “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

BACA JUGA:MAKI: Menkeu Harus Menolak Pengunduran Diri Rafael

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat”.

Para Ulama memahami kata “lathifun bi ’ibadihi” dengan “yarhamu al-taibin wa al-mustaghfirin” artinya “memberi rahmat kepada orang-orang yang bertaubat dan memohon ampunan”.

Dosa dan Tabiat Manusia

Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada suara yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala, kecuali suara seorang hamba yang berlumuran dosa yang bertaubat kepada Allah Ta’ala. Maka Allah berfirman: “Aku penuhi permohonanmu hamba-Ku, mintalah kamu apa yang kamu kehendaki”.

Sebagai manusia biasa, nyaris tiada hari yang kita lalui tanpa menambah dosa, dosa kecil, yang sedang, hingga yang besar, mulai dari dosa hati, dosa sikap, dan dosa ucapan serta perbuatan.

BACA JUGA:Masjid Harus Bersih dari Kampanye Parpol, Caleg, dan Capres, Prof Imam Yahya: Jaga Independensi Masjid

Karena salah satu tabiat manusia, adalah selalu berbuat kekeliruan dan kesalahan. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw menyatakan : ”Setiap anak keturunan Adam itu sering berbuat keliru dan salah, dan sebaik-baik orang yang keliru atau salah adalah yang mau memperbaiki diri” (kullu Bani Adam khaththaun wa khairul khaththain al-tawwabun).

Penegasan Rasulullah saw tersebut, tidak digunakan sebagai legitimasi kita dalam berbuat kekeliruan dan kesalahan.

Allah SWT memberikan kesitimewaan kepada manusia dengan akal dan hatinya. Karena itulah, Allah memberikan ruang dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Dalam konteks inilah, indikator penting ketaqwaan seseorang adalah manakala dia dengan senang hati meminta dan memberi maaf kepada orang lain atas kemungkinan kekeliruan dan kesalahan yang dilakukannya.

Sementara dalam kekeliruan atau kesalahan yang bersifat vertikal, sebagai hubungan antara hamba dengan Khaliq (Pencipta)-Nya, maka untuk memutihkannya, dengan beristighfar memohon ampunan dan bertaubat atas semua dosa dan kesalahan.

BACA JUGA:Kawal Marwah Masjid via Moderasi Beragama, Memakmurkan Masjid dan Dimakmurkan Masjid

Rasulullah saw sendiri memberi contoh kepada kita, meskipun sebagai manusia suci (ma’shum), beliau selalu memohon ampunan dan bertaubat yang setiap malam menghabiskan sepertiga malam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Beliau mengingatkan, bahwa dalam diri kita ada segumpal darah, yang apabila ini baik, maka yang lain akan baik, dan apabila segumpal darah ini kerjanya tidak baik, maka yang lain akan tidak baik juga.

Inilah yang dinamakan qalbu (hati). Qalbu secara harfiah artinya berubah. Disebut qalbu karena sifatnya yang selalu berubah-ubah.

Ketika hati sedang gelap disebut dengan qalbu dhulmani, yang penampilannya akan membawa kegelapan dirinya dan menimpa orang lain, seperti: dengki, hasud, sombong, takabur, pamer atau riya, dan lain-lain.

Manakala hati itu terang, disebut dengan qalbu nurani, yang menerangi dirinya sendiri dan menjadi suluh terang bagi orang lain, seperti: sikap ramah, berkata baik dan indah, dan suka menolong orang lain.

BACA JUGA:Tuntutan Mahasiswa PGSD Unnes, Terkait Ambruknya Ruang Perkuliahan yang Seharusnya menjadi Prioritas Utama

Dalam kenyataannya, godaan duniawi dan dorongan nafsu, menjadikan hati yang terang itu terkalahkan dengan kegelapan yang menimpanya. Instrumen penting untuk mengasah hati dan pikiran manusia, adalah mendirikan shalat lima waktu secara khusyu’ dan istiqamah.

Allah SWT menyediakan ruang waktu dalam bulan Sya’ban ini sebagai bulan untuk memutihkan yang hitam, menerangkan yang gelap, dan membersihkan yang kotor. Sya’ban artinya bercabang-cabang, dan oleh karena itu, kita dianjurkan untuk membersihkan diri dengan bertaubat kepada-Nya.

Sya’ban akan segera berlalu meninggalkan kita. Ketika renungan ini ditulis, setelah jamaah Shubuh di Masjid Al-Iman Ngaliyan, tanggal menunjukkan angka 21 Sya’ban 1444 H atau 14 Maret 2023 M.

Marilah kita perbanyak shalawat pada Rasulullah saw, semoga amalan kita yang baik dilipargandakan, dan yang buruk diampuni oleh Allah.

BACA JUGA:Pentingnya Trauma Healing bagi Korban Gempa Cianjur

Marhaban ya Ramadhan, semoga hati dan fikiran kita dipenuhi kebahagiaan menyambut hadirnya bulan penuh kasih sayang, berkah, dan pengampunan. Allah a’lam bi sh-shawab.

*)Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA., Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah PP MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), dan Anggota DPS BPRS Binan Finansia Semarang.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *