Opini Jateng – Suasana asri di pinggir Kali, Dusun Balaran, Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, menjadi saksi suksesnya kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) Hizbul Wathan (HW) SD Muhammadiyah Danaraja.
Kegiatan Kenaikan Tingkat Melati I dan II yang digelar pada 9–10 Oktober 2026 ini diikuti siswa kelas V dan VI. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar sesuai surat resmi Nomor 168/IV.4.AU/F/2026.
Lebih dari sekadar perkemahan, kegiatan ini menjadi sarana pendidikan karakter bagi para siswa. Melalui pembelajaran di alam terbuka, peserta diajak mengenal arti kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, serta penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan Perjusa diisi dengan berbagai agenda edukatif dan keagamaan, mulai dari Sholat Istisqa, materi public speaking oleh Daffa Akram Anas, S.Psi, pelatihan pertolongan pertama oleh PKU Muhammadiyah Merden, hingga latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) bersama Koramil Purwanegara.
Kegiatan berlanjut dengan pentas seni, renungan malam, api unggun, serta berbagai aktivitas luar ruang seperti outbound, semaphore, dan tali-temali. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan upacara pelantikan Pandu Hizbul Wathan tingkat Melati pada Sabtu (10/10/2026).

Pembina HW: Dukungan Wali Murid Menjadi Kunci Kesuksesan
Pembina Hizbul Wathan SD Muhammadiyah Danaraja, Siti Waryati, S.Pd., menegaskan bahwa Perjusa merupakan wadah pembentukan karakter bagi para Pandu HW. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga dilatih untuk menjadi pribadi yang beriman, disiplin, berani, dan mandiri.

“Alhamdulillah, Perkemahan Jumat Sabtu Qobilah SD Muhammadiyah Danaraja di Dusun Balaran, Merden, 9-10 Oktober 2026 telah terlaksana dengan lancar. Dalam dua hari satu malam, peserta ditempa melalui materi Sejarah HW, Public Speaking, Penanganan Luka Fraktur, PBB, Pentas Seni, Refleksi, Sholat Tahajud, serta Olahraga dan Outbond. Kegiatan ini menjadi wadah untuk membentuk karakter Pandu HW yang beriman, disiplin, berani, dan mandiri,” jelasnya.
Siti Waryati juga menyampaikan apresiasi kepada para wali murid yang telah memberikan kepercayaan dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, dukungan orang tua memiliki peran penting dalam proses pendidikan anak, terutama ketika anak diberikan kesempatan untuk belajar mandiri di luar lingkungan keluarga.
“Saya sangat terkesan dengan semangat juang peserta yang luar biasa dan dukungan penuh dari wali murid. Kepercayaan, doa, dan keikhlasan Ayah Bunda melepas putra-putrinya untuk berkemah adalah kunci utama kesuksesan acara ini. Tanpa dukungan dari rumah, pembentukan kemandirian anak tidak akan maksimal.”
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam menyukseskan Perjusa, mulai dari Koramil Purwanegara, PKU Muhammadiyah Merden, PCM Merden, masyarakat Dusun Balaran, hingga para wali murid.
“Terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada semua pihak yang berkolaborasi: Koramil Purwonegoro, PKU Muhammadiyah Merden, PCM Merden, masyarakat Dusun Balaran, dan khususnya para wali murid. Semoga sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat ini terus terjaga untuk pendidikan anak-anak kita. Fastabiqul Khairat!” pungkasnya.
Semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan menjadi pesan penting dari kegiatan ini. Pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga dan lingkungan masyarakat agar nilai-nilai positif dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Belajar di Alam Terbuka, Menanamkan Kemandirian dan Nilai Religius
Pembina HW lainnya, Sabar Setiyorini, S.Pd.I., mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan Perjusa tahun ini. Menurutnya, suasana alam terbuka di pinggir Kali, dusun Balaran memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa.
“Alhamdulillah senang sekali karena perjusanya lancar, apalagi dilaksanakan di alam terbuka di pinggir kali dengan suasana yang asri,” ungkap Sabar Setiyorini kepada Opini Jateng, Sabtu (10/10/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan perkemahan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar secara langsung melalui pengalaman bersama teman-teman mereka. Nilai kemandirian, kerja sama, kedisiplinan, dan tanggung jawab tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi juga dipraktikkan dalam aktivitas sehari-hari selama perkemahan.

Di sisi lain, kegiatan keagamaan seperti salat, refleksi, dan tahajud menjadi bagian penting dalam menanamkan kesadaran spiritual kepada peserta. Harapannya, pendidikan yang diperoleh selama Perjusa dapat membentuk keseimbangan antara kecakapan diri, kepedulian sosial, dan akhlak yang baik.
“Melalui perjusa anak-anak mendapat kesempatan untuk belajar mandiri, bekerjasama, disiplin dan bertanggung jawab. Semoga anak-anak pulang dengan tidak hanya membawa cerita seru tetapi juga bisa membawa nilai-nilai kebaikan yang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Terimakasih nggih bu, sudah mendukung kegiatan ini,” tambahnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan pendidikan tidak hanya diukur dari kelancaran acara, tetapi juga dari nilai dan kebiasaan baik yang dibawa pulang oleh para peserta.
Capek, tetapi Menjadi Kenangan Berharga
Kesan mendalam juga dirasakan oleh para peserta Perjusa. Kaifana, salah satu siswa kelas VI, mengungkapkan kebahagiaannya karena dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.
“Acara ini memang capek tapi membawa pengalaman baru dan menjadikan kenangan tersendiri di kemudian hari,” ujar Kaifana.
Pengalaman mengikuti perkemahan menjadi kesempatan bagi siswa untuk keluar dari rutinitas belajar di kelas, berinteraksi dengan teman-teman, serta menghadapi berbagai tantangan bersama. Dari pengalaman tersebut, anak-anak dapat belajar menghargai kebersamaan, menyelesaikan tugas, dan membangun rasa percaya diri.

Kelelahan selama mengikuti kegiatan menjadi bagian dari proses belajar yang diharapkan meninggalkan kesan positif bagi para peserta. Kenangan yang terbentuk bukan hanya tentang api unggun, permainan, atau aktivitas di alam terbuka, melainkan juga tentang persahabatan, tanggung jawab, dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Melalui Perjusa Hizbul Wathan di pinggir Kali Balaran, SD Muhammadiyah Danaraja menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dikembangkan melalui perpaduan pengalaman alam, pembinaan kepanduan, kebersamaan, dan nilai-nilai keislaman.
Harapannya, para siswa tidak hanya pulang membawa cerita menyenangkan, tetapi juga membawa bekal kebaikan yang dapat diterapkan di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab, tujuan pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya menambah pengetahuan, melainkan juga menumbuhkan pribadi berakhlak mulia, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama.



