OpiniJateng.com – Gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menarik perhatian akademisi dari sejumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mereka menilai Luthfi menunjukkan pendekatan yang merakyat, humanis, serta membuka ruang kolaborasi dengan kalangan kampus untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Para akademisi menyampaikan penilaian tersebut dalam Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (Fordekiis) di Semarang, Sabtu (24/10/2026). Mereka menyoroti cara Ahmad Luthfi memahami persoalan daerah, menentukan langkah penyelesaian, dan menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai perhatian utama.
Akademisi Soroti Cara Ahmad Luthfi Menangani Persoalan Jateng
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, Finnah Fourqoniah, menilai Ahmad Luthfi mampu menjelaskan berbagai persoalan di Jawa Tengah sekaligus memaparkan langkah pemerintah untuk mengatasinya.
Finnah melihat pendekatan tersebut menunjukkan bahwa gubernur tidak hanya berbicara tentang program. Ahmad Luthfi juga memperlihatkan kepekaan terhadap kondisi masyarakat yang menjadi sasaran kebijakan.
Menurut Finnah, pemahaman terhadap persoalan di lapangan menjadi modal penting bagi pemerintah untuk menyusun program yang sesuai kebutuhan warga.
Wawan Mas’udi Tekankan Pentingnya Kolaborasi Kampus
Ketua Fordekiis, Wawan Mas’udi, juga menilai Ahmad Luthfi memiliki gaya kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat. Mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada itu menilai Luthfi menempatkan persoalan warga sebagai prioritas penyelesaian.
Wawan sekaligus menekankan pentingnya hubungan dua arah antara pemerintah dan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki hasil penelitian, inovasi, serta kapasitas keilmuan yang dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan lebih tepat sasaran.
Kolaborasi tersebut dapat membuka ruang bagi akademisi untuk menyampaikan hasil kajian dan memberikan masukan terhadap persoalan pembangunan daerah. Sebaliknya, pemerintah dapat menyampaikan kebutuhan nyata di lapangan agar kampus mengembangkan kajian yang relevan.
Akademisi Nilai Kepemimpinan Ahmad Luthfi Humanis
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar, Supriadi Torro, turut menyoroti pendekatan humanis Ahmad Luthfi. Ia menilai gubernur menghubungkan persoalan dengan solusi melalui langkah yang terukur.
Supriadi juga melihat kapasitas keilmuan perguruan tinggi dapat membantu pemerintah menentukan arah kebijakan dan mengevaluasi persoalan yang belum terselesaikan.
Pandangan para akademisi tersebut menempatkan kolaborasi pemerintah dan kampus sebagai salah satu unsur penting dalam pembangunan daerah. Pemerintah membutuhkan masukan berbasis penelitian, sedangkan perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui kajian, inovasi, dan evaluasi kebijakan.
Tantangan Berikutnya, Membuktikan Dampak Kebijakan
Penilaian akademisi terhadap gaya kepemimpinan menjadi salah satu perspektif dalam melihat jalannya pemerintahan. Namun, keberhasilan kepemimpinan juga perlu terlihat melalui hasil kebijakan yang dirasakan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah perlu memastikan setiap program menjawab persoalan nyata, memiliki target yang jelas, dan menunjukkan hasil yang dapat dievaluasi. Masukan perguruan tinggi dapat membantu pemerintah mengukur efektivitas program sekaligus menemukan solusi ketika kebijakan belum mencapai sasaran.
Dengan kolaborasi yang konsisten, hubungan pemerintah dan kampus berpeluang memperkuat proses perencanaan serta evaluasi pembangunan. Pada akhirnya, masyarakat perlu merasakan manfaat nyata dari kebijakan yang pemerintah jalankan.


