OPINIJATENG.COM – Tradisi lokal tidak selalu harus bertahan dalam bentuk aslinya agar tetap relevan. Selama nilai sejarahnya dijaga, sebuah kebiasaan masyarakat bisa berkembang menjadi pertunjukan yang menarik generasi muda sekaligus membuka peluang bagi sektor pariwisata.
Hal itu terlihat dari kesenian ronthek yang menjadi identitas budaya masyarakat Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Berawal dari kebiasaan ronda malam dan membangunkan warga untuk sahur menggunakan kentongan bambu, ronthek kini berkembang menjadi pertunjukan yang memadukan musik, tari, kostum, koreografi, hingga unsur teatrikal.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tradisi juga dapat menjadi ruang kreativitas yang terus tumbuh mengikuti perubahan zaman.
Dari Ronda Sahur Menjadi Pertunjukan Budaya
Ronthek memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Pacitan. Pada mulanya, bunyi kentongan bambu menjadi bagian dari aktivitas warga ketika berkeliling kampung saat ronda malam maupun membangunkan masyarakat untuk makan sahur selama Ramadan.
Seiring waktu, kebiasaan itu berkembang menjadi kesenian dengan irama khas. Bunyi kentongan kemudian dipadukan dengan instrumen perkusi lainnya, gamelan, serta gerakan tari yang membuat pertunjukan semakin dinamis.
Kini, ronthek tidak hanya menghadirkan suara musik tradisional, tetapi juga menampilkan kreativitas kelompok seni dalam membangun sebuah pertunjukan yang utuh.
Perubahan tersebut menjadi contoh bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan membatasi tradisi pada bentuk lamanya. Justru, inovasi bisa membuat kesenian lokal lebih mudah diterima oleh masyarakat lintas generasi.
Panggung Berjalan Membuat Ronthek Lebih Dekat dengan Masyarakat
Festival Ronthek Pacitan 2026 menghadirkan pendekatan baru melalui konsep panggung berjalan yang masuk dalam komponen penilaian peserta.
Mengutip pemberitaan ANTARA, konsep tersebut diperkenalkan untuk mengembalikan karakter ronthek sebagai seni pertunjukan berjalan yang dinamis. Peserta didorong menunjukkan kreativitas sepanjang jalur parade, bukan hanya ketika tampil di panggung utama.
Pada penyelenggaraan 2026, festival ini melibatkan 16 peserta dari kategori umum dan pelajar. Sebanyak 12 peserta berasal dari perwakilan kecamatan, sedangkan empat lainnya merupakan perwakilan tingkat SMA/SMK.
Panggung berjalan membuka kesempatan bagi peserta untuk membangun interaksi yang lebih luas dengan penonton. Pertunjukan tidak lagi hanya berpusat pada satu titik, tetapi dapat dinikmati sepanjang perjalanan parade.
Konsep tersebut juga memberi tantangan tersendiri bagi para peserta. Mereka perlu menjaga kekompakan musik, koreografi, stamina, dan kualitas penampilan selama bergerak mengikuti rute yang telah ditentukan.
Inovasi ini memperlihatkan bahwa tradisi bisa dikemas secara lebih atraktif tanpa harus kehilangan akar budayanya.
Generasi Muda Punya Peran Penting Menjaga Tradisi
Keterlibatan pelajar dalam Festival Ronthek Pacitan menjadi salah satu aspek penting dalam keberlanjutan kesenian tersebut.
Melalui festival, generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal budaya daerah tidak hanya melalui buku pelajaran, tetapi juga lewat pengalaman langsung berlatih, memainkan alat musik, menari, dan bekerja sama dalam kelompok.
Proses tersebut dapat menumbuhkan pemahaman bahwa kesenian tradisional membutuhkan kerja kolektif. Setiap anggota memiliki peran, mulai dari penabuh instrumen hingga penampil yang menghidupkan pertunjukan.
Di sisi lain, pelibatan anak muda juga membuka ruang bagi munculnya gagasan baru. Mereka dapat mengembangkan koreografi, tata busana, dan penyajian pertunjukan dengan tetap menghormati karakter asli ronthek.
Tantangannya adalah memastikan inovasi tidak sekadar mengejar kemeriahan. Pemahaman mengenai sejarah, makna, dan nilai budaya harus tetap menjadi bagian dari proses regenerasi.
Dengan begitu, generasi muda bukan hanya menjadi peserta festival, melainkan juga calon penjaga tradisi pada masa mendatang.
Festival Budaya Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Lokal
Daya tarik festival tidak berhenti pada pertunjukan di sepanjang jalan. Kehadiran pengunjung juga berpotensi memberi manfaat bagi pelaku usaha di sekitar lokasi acara.
Pedagang makanan, penjual suvenir, pelaku usaha mikro, hingga penyedia jasa lokal dapat memperoleh kesempatan memperkenalkan produk mereka kepada wisatawan.
Potensi tersebut semakin relevan ketika festival budaya dikembangkan bersama promosi destinasi dan produk ekonomi kreatif. Pengunjung yang datang untuk menyaksikan pertunjukan bisa terdorong menjelajahi tempat wisata, mencicipi kuliner khas, atau membeli produk lokal.
Namun, manfaat ekonomi itu tidak muncul secara otomatis. Pengelolaan area perdagangan, akses transportasi, kebersihan, informasi wisata, serta promosi produk lokal perlu dipersiapkan dengan baik.
Festival juga perlu memberikan ruang yang memadai bagi pelaku UMKM setempat agar manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan penyelenggara dan peserta pertunjukan.
Jika dikelola secara berkelanjutan, ronthek berpotensi menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan identitas Pacitan kepada wisatawan yang lebih luas.
Pelestarian Budaya Tidak Cukup dengan Festival Tahunan
Festival memang penting untuk memperkenalkan kesenian kepada masyarakat. Meski demikian, keberlanjutan ronthek membutuhkan upaya yang lebih panjang daripada penyelenggaraan acara tahunan.
Latihan rutin, regenerasi pemain, dokumentasi sejarah, pengenalan budaya kepada pelajar, serta dukungan bagi kelompok seni menjadi bagian penting dari pelestarian.
Pemerintah daerah dan komunitas budaya juga perlu memastikan bahwa perkembangan pertunjukan tetap berpijak pada pengetahuan mengenai asal-usulnya.
Pada Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Pacitan turut mengajukan kesenian ronthek sebagai Warisan Budaya Tak Benda kepada Kementerian Kebudayaan. Pengajuan tersebut masih dalam proses kurasi, sebagaimana diberitakan ANTARA pada 13 Juli 2026.
Langkah ini menunjukkan adanya upaya memperkuat pengakuan terhadap ronthek sebagai bagian dari identitas budaya Pacitan.
Pada akhirnya, keberhasilan pelestarian tidak hanya ditentukan oleh ramainya penonton atau besarnya festival. Ukuran yang tidak kalah penting adalah apakah masyarakat masih memainkan, memahami, dan mewariskan kesenian tersebut kepada generasi berikutnya.
Ronthek mengajarkan bahwa tradisi lokal memiliki peluang untuk berkembang menjadi kekuatan budaya dan pariwisata. Bunyi kentongan yang dahulu menjadi penanda kehidupan kampung kini dapat menjadi simbol kreativitas masyarakat.
Selama akar sejarahnya tetap dijaga dan manfaatnya dirasakan masyarakat, tradisi bukanlah sesuatu yang tertinggal oleh zaman. Tradisi justru bisa menjadi modal berharga untuk membangun masa depan daerah.



