Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 91
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Dalam tiga bulan ini, Iben benar-benar belajar hal baru tentang pengelolaan perusahaan.
Iben banyak belajar dan bertanya pada Dewi, si bendahara cantik, yang memang cukup supel, banyak bicara.
Dewi sama sekali tidak canggung berkomunikasi dengan Iben.
Meskipun usia Dewi lebih tua beberapa tahun di atas Iben, tapi tidak menjadikan halangan baginya untuk bersikap santai di depan Iben.
Iben jadi cepat akrab dengan Dewi.
BACA JUGA:Tes Kepribadian: Siapa Orang Pertama yang Anda Bantu? Pilihanmu Menggambarkan Karaktermu
Mereka sering bercanda layaknya anak muda yang masih suka terbuka apa adanya.
Begitu pun dengan Pak Agung.
Iben bisa cepat akrab.
Pak Agung orangnya juga santai.
Walau sudah setengah umur, sekitar empat puluh lebih sedikit, Pak Agung tetap bisa bergaya anak muda.
Lebih sering pakai celana jins dan t-shirt bila bekerja.
Santai, terbuka, dan suka bercanda juga.
Iben jadi betah berlama-lama ngobrol dengannya.
Apalagi, Pak Agung suka bercerita suka dukanya mengurus perusahaan ini saat sendirian.
Di depan Iben, Pak Agung sering memuji kemampuan Lita dalam membangun hubungan dengan pelanggan.
Sejak Lita ikut gabung, banyak pelanggan lama kembali lagi. Dan banyak pula pelanggan baru masuk.
“Sekarang Mas Iben bisa lihat sendiri. Mesin gergaji dan pemotong itu tak pernah berhenti bekerja. Volume produksi kita meningkat signifikan. Itu semua hasil negosiasi Bu Lita.” puji Pak Agung.
Iben hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Dia bisa melihat sendiri, bagaimana sibuknya suasana kerja pengolahan kayu Kalimantan milik ayahnya ini.
BACA JUGA:Intip Kepribadian Seseorang melalui Tulisan Tangan
Dan perusahaan ini sudah disiapkan untuk kakaknya, Ikang.
Dalam bayangannya, masa depan Ikang sudah jelas.
Pengusaha pengolahan kayu yang sukses.
Muda, kaya, gagah, tampan.
Iben tersenyum sendiri melihat bayangan kakaknya, Ikang, yang tampil bossy dalam otaknya.
Sedang dengan Lita, selama tiga bulan ini, hubungannya juga makin dekat.
Lita sangat terbuka.
Semua informasi tidak ada yang disembunyikan.
Bahkan, Lita sering mengajaknya ikut kegiatannya menemui pelanggan.
Iben jadi melihat langsung, bagaimana Lita berkomunikasi dengan pelanggan.
Pelanggan perusahaannya banyak dari berbagai kalangan.
BACA JUGA:Orang Tua Perlu Melek Pendidikan Literasi Digital
Ada kontraktor, ada developer real estate, ada pejabat pemerintah, ada brooker, ada pula para pengusaha toko kayu dan bangunan.
Dengan gayanya yang lincah, Lita membuat para pelanggan itu seperti tak bisa berkata tidak.
Dalam berbicara, Lita memang memiliki pesona tersendiri.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
