17 April 2026 21:55
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Begitu pun dengan kewajiban dan tugasnya di pengolahan.

Dia jarang ke sana pada saat jam kerja.

Dalam minggu ini, Lita selalu didampingi Theo bila ke kantor.

Theo merasa senang melihat perkembangan usaha kayunya.

Theo sering ikut mengontak teman-teman pengusaha lamanya.

Seperti Koh Syam di Banjarbaru.

Kalau sudah ngobrol dengan Koh Syam, Theo bisa betah berlama-lama.

Sedang Iben, dia lebih suka meminta Dewi menyiapkan nota-nota yang perlu approval darinya, diletakkan di meja kerjanya.

BACA JUGA:Abu Rokok Ternyata Bisa Buat Tanaman Subur, Loh!

Iben ke kantor justru bila sudah usai jam kantor.

Bila Lita dan Theo sudah pulang, Iben datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaannya, ditemani pak Pardi dan pak Hadi, satpam penjaga kantor.

Dia tandatangani nota-nota yang perlu ditanda tangani.

Pagi harinya, nota-nota itu tinggal diambil oleh Dewi.

Dengan demikian, Iben masih tetap bisa menjalankan tugas dengan baik.

Tidak ada yang mempersoalkan.

Semua orang sudah paham bagaimana sesungguhnya hubungan antara bapak dan anak itu.

Lita tampak murung selama Theo berada di rumah.

Di depan Theo dia tetap berusaha tampil wajar biasa-biasa saja.

Sikap Theo yang agak cuek justru banyak membantu Lita dalam melayani Theo.

Sementara, bila ada waktu jauh dari Theo, Lita lebih banyak melamun.

Sesekali menghubungi Iben lewat telepon atau SMS, saling menyapa, untuk sekadar tahu masing-masing ada di mana dan sedang mengapa.
Lita merasa tersiksa.

Dia juga tahu, Iben pun merasakan hal yang sama.

Tapi, sementara ini mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa.

BACA JUGA:Usia Terbaik Anak Disunat

Bahkan, Lita sampai hari ini belum mempunyai keberanian untuk memberitahu Theo tentang kehamilannya.

Beberapa hari lalu, Lita sudah cek dengan test pack.

Dan hasilnya positif.

Dia hamil.

Di satu sisi, dia bahagia.

Sebagai wanita berarti dia sempurna.

Bisa hamil dan akan punya anak.

Di sisi yang lain, kehamilannya tentu membawa persoalan yang pelik.

Dia yakin, calon bayi yang ada di dalam perutnya adalah benih Iben.

Bukan benih Theo. Saat di Banjarbaru itu, dia sedang dalam masa subur.

Dan Iben lah yang paling banyak menabur benih ke dalam rahimnya di masa suburnya. Bukan Theo.

BACA JUGA:Rahasia Baca 3 Doa ketika Sujud Terakhir dalam Sholat, Manfaatnya Sungguh Luar Biasa

Bagaimana dia harus memberitahukan kehamilannya pada Theo?

Curigakah Theo nanti kalau tahu dia hamil?

Bukankah selama dua minggu ini Theo ada di rumah?

Walau tidak tiap malam, paling tidak beberapa kali dia bercinta dengannya?

Apakah kebersamaan yang dua minggu ini bisa dijadikan dasar pemberitahuan bahwa dirinya sekarang hamil?

Lita gelisah.

Dia mencoba mencari alasan pembenar di depan Theo.

Dia harus bisa meyakinkan Theo bahwa anak yang dikandungnya adalah anak Theo.

Kapan waktu terbaik untuk memberi tahu Theo?

Dua hari lagi Theo sudah akan kembali ke Jakarta.

Yang jelas, Theo harus tahu dia hamil sebelum kembali ke Jakarta.

Atau paling tidak saat dia kembali ke Jakarta.

BACA JUGA: Baznas akan Luncurkan 1.000 Gerobak Ayam ZChicken

Lita menghela nafas.

Tanpa sadar dielusnya perutnya.

Matanya menerawang jauh keluar jendela.

Awan hitam bergulung-gulung di langit.

Musim hujan tampaknya segera datang.

Akankah ada badai di awal musim?

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *