Prof Ahmad Rofiq: Shalat Arbain dan Keutamaannya di Madinah
Prof Ahmad Rofiq menunggu Shalat Arba'in di Masjid Nabawi Madinah.
OPINIJATENG.COM – Alhamdulillah wa syukru liLlah, segala puji dan syukur hanya milik Allah.
Atas karunia dan inayah-Nya, saya mendapat kesempatan untuk membersamai jamaah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Asshodiqiyah pimpinan Romo KH Shodiq Hamzah.
Sedianya haji tahun ini dilaksanakan dua tahun yang lalu, namun karena pandemi Covid-19, baru terlaksana tahun ini.
Itupun dengan penurunan kuota yang hanya separo, dan implikasi berikutnya adalah menurunnya jamaah KBIH yang semula satu kloter lebih, menyusut menjadi separoh lebih sedikit, 200 jamaah.
BACA JUGA:Minyak Goreng, BBM dan Inflasi
Jamaah Asshodiqiyah yang tergabung dalam Kloter 16 SOC, bersama dengan KBIH Nahdlatul Ulama (NU) Kota Semarang, dan tambahan dari KBIH lain, berangkat dari Semarang, 14 Juni 2022 dan terbang dari Bandara Internasional Adisoemarmo Solo, 15 Juni 2022 pukul 06.15 WIB.
Transit di Bandara Polonia Medan untuk mengisi bahan bakar dan info dari senior crew pesawat menunggu landing permit dari bandara otoritas Bandara Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Medinah.
Meskipun demikian, alhamdulillah perjalanan lancar, hanya sedikit cuaca yang agak kurang mulus menjelang landing di Madinah.
Jamaah ditempatkan di Holiday Villa Madinah yang lumayan di pojok kiri depan melalui pintu 326, meskipun masuk dalam wilayah Markaziyah.
Mereka merasa senang dan bersemangat segera ke Masjid Nabawy dan memulai arba’in (40 waktu) diawali dari waktu Maghrib.
Kegiatan ibadah utama jamaah adalah mengerjakan shalat Arbain.
Yakni, shalat berjamaah di Masjid Nabawi bersama imam rawatib (shalat maktubat) sebanyak 40 waktu yang dilaksanakan berturut-turut tanpa ketinggalan satu shalat pun.
Berarti rata-rata dilaksanakan dalam waktu 8 hari.
BACA JUGA:Kenaikan Harga Bahan Bakar di Sydney, Australia
Shalat di Masjid Nabawi sendiri, menurut Riwayat dari Sa’d bin Abi Waqqash, mendengar Rasulullah saw bersabda: “Shalat di Masjidku (Nabawy) ini lebih baik dari 1.000 x shalat di masjid lainnya, kecuali di Masjidil Haram” (Riwayat Ahmad). Dalam Riwayat dari Jabir ra, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama dari 1.000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram, lebih utama 100 ribu kali lipat pahalanya dari shalat di masjid lain.” (Riwayat Ahmad, 14168).
Dasar pelaksanaan shalat arbain adalah Riwayat Ahmad: “Barangsiapa yang shalat di Masjidku (Nabawi) empat puluh kali shalat, tidak tertinggal satu shalatpun maka baginya dibebaskan dari api neraka dan selamat dari adzab, dan terbebas dari kemunafikan”(Riwayat Ahmad dan Ath-Thabrani).
Secara umum, jamaah tentu sudah memahami dengan baik bagaimana pelaksanaan shalatr arbain di lapangan. Bahkan ketika jamaah menerima ajakan paket ziarah ke Masjids Quba, Masjid Qiblatain, Masjid Khandzaq, mereka selalu menanyakan, akan mengganggu shalat arbain atau tidak? Demikian juga Ketika mereka diajak ziarah ke ardlu l-baidla’ (medan magnit) dan percetaan Alquran Kerajaan Arab Saudi di Madinah.
BACA JUGA:Musim Hujan Tiba, Warga Puri Bintaro Tangerang Selatan Waspada Banjir
Pelajaran penting yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat arbain adalah melatih untuk berjamaah dengan imam maktubat.
Lebih dari itu, intensitas shalat berjamaah selama 8 hari di Madinah, tentu harus dimaksimalkan, mengingat balasan 1.000x kali pahalanya dibanding dengan shalat di masjid lain.
Sementara shalat di Masjidil Haram Mekah, pahala dilipatgandakan 100.000x dibanding shalat di masjid lain.
Selagi kita berada di tempat Rasulullah saw, maka sebaiknya kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk menyempurnakan shalat Arbain, melaksanakan shalat sunnah, tadarus Alquran, dan beriktikaf, termasuk ke Raudhah.
Ada perubahan manajemen untuk bisa berziarah ke Raudhah, bahkan disiapkan petugas haji Indonesia di kawasan screening menjelang masuk ke Raudhah, melalui Bab An-Nisa’ yang terletak di sebelah Bab Jibril.
Selamat menjalankan Shalat Arbain, semoga seluruh Jamaah dimudahkan dalam menjalakan shalat secara khusyu’ dan istiqamah, hingga dapat dipelihara kesinambungannya hinga di Tanah Air nanti pasca pelaksanaan haji. Insyaa Allah.
Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, dan Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Karom I Jamaah Haji Kloter 16 SOC, 1443 H – 2022 M.***
