18 April 2026 21:27

Kiai Hanief Ismail: Ibadah Kurban Sarana Mencapai Kebahagiaan Hakiki agar Semangat Pengorbanan tetap Menyala

0
WhatsApp Image 2022-07-10 at 17.44.01

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi didampingi Sekda Iswar Aminuddin menyerahkan hewan kurban seekor sapi berukuran jumbo diterima KH Hanief Ismail di Masjid Agung Semarang (MAS) Kauman, Minggu (10/7).

OPINIJATENG.COM – Kiai Hanief Ismail mengatakan pada khotbah Idul Adha bahwa ibadah kurban merupakan sarana mencapai kebahagiaan hakiki.

Kurban bukan semata – mata memberi tapi ketulusan hati dalam mengerjakan dengan niat karena Allah sangat langka.

Semangat berkurban harus selalu digiatkan agar berkurban dengan niat yang utuh karena Allah.

BACA JUGAIdul Kurban dan Hidup Zuhud

Bersamaan dengan kegiatan tersebut  Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyerahkan tiga hewan kurban berupa sapi dengan ukuran jumbo antara lain di Masjid Agung Semarang (MAS) Kauman, Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Simpanglima dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Di Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman, Hendi hadir sendiri didampingi Sekda Iswar Aminuddin. Hewan kurban diterima Ketua Takmir KH Hanief Ismail Lc dan Ketua Yayasan MAS Ir KH Hammad Maksum.

Di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima, sapi dari Wali Kota Semarang diterima Ketua Umum Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah Dr KH Ahmad Darodji MSi dan Dr KH Anasom serta Dr H Multazam Ahmad. Sedang di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) diserahkan Wakil Wali Kota Hevearita Gunaryanti Rahayu kepada Ketua Dewan Pelaksana Pengelola Prof Dr KH Noor Achmad MA dan Sekretaris Drs KH Muhyiddin MAg.

Dalam khutbah Idul Adha 1443H di Masjid Agung Semarang (MAS), Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama KH Hanief Ismail Lc mengatakan, ibadah kurban merupakan sarana mencapai kebahagiaan hakiki.

BACA JUGA:Ribuan Jamaah Shalat Idul Adha Padati MAJT Semarang, Wagub Taj Yasin Serahkan 39 Hewan Kurban

Kiai Hanief yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima mengatakan, ada tiga macam nikmat, apabila ketiga macam nikmat tersebut berkumpul secara bersamaan, hidup ini menjadi semakin sempurna, yaitu nikmat: iman, kesehatan dan kesempatan.

‘’Tidak semua orang bisa memperoleh ketiga nikmat tersebut. Alhamdulillah kita di sini mendapatkannya, karena hanya dengan ketiga nikmat itulah kita bisa berkumpul di sini dengan tetap berpegang teguh dan melangkah diatas kalimat tauhid, Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah Saw,’’ kata pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Qur’an An-Nasimiyyah itu.

Semangat Pengorbanan

Menurut Kiai Hanief, dalam perjalanan hidup manusia tentu dituntut adanya semangat pengorbanan. Tanpa semangat itu, mustahil keberhasilan atau kesuksesan dapat diraih.

Salah satu contoh pengorbanan yang luar biasa,  telah dilakukan oleh sosok Nabi Ibrahim a.s bersama keluarganya, Siti Hajar dan Nabi Ismail a.s.

Kisah Nabi Ibrahim yang dijuluki sebagai Khalilullah sarat dengan  pesan-pesan moral. ‘’Nabi Ibrahim adalah simbol bagi manusia yang rela mengorbankan apa saja untuk memperoleh ridla Allah. Pengorbanan yang tulus dari sosok kholilullah Nabi Ibrahim bersama keluarganya itu dijadikan Allah sebagai teladan bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman,’’ katanya.

Semangat berkurban yang tulus yang dicontohkan Nabi Ibrahim yaitu ketika dia diperintahkan mengorbankan (menyembelih) puteranya yang tercinta, yaitu lsma’il.

Padahal lsma’il itu dianugerahkan Allah kepada Nabi Ibrahim ketika dia telah mencapai usia lanjut (dalam suatu riwayat usianya sudah 80 tahun), dan telah lama sekali mendambakan keturunan. ‘’Namun demi memperoleh ridla Allah dan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, seorang ayah dan anak itu tunduk dan patuh, seperti yang direkam dalam Al Qur’an surat al-Shaffat,’’ katanya.

BACA JUGAProf Ahmad Rofiq: Isi Khotbah Wukuf Nabi Muhammad Saw, Tak Panjang Mengandung Pesan Mendalam Universal, Humanistik, dan Komprehensif

Begitulah tentang kisah seorang ayah dan anak, yang amat mengharukan yang tentunya dapat dijadikan teladan bagi umat manusia tentang bagaimana mentaati perintah Allah demi memperoleh ridla-Nya. ‘’Memang biasanya manusia akan diuji dengan apa yang paling dia cintai dalam hidupnya.  Jika bukan karena iman yang tangguh yang dimiliki oleh Ibrahim dan Ismail maka tentu sangat sulit nurani Ibrahim sebagai seorang ayah mengorbankan putra tercintanya, begitupun Ismail tidak bersedia mempertaruhkan nyawanya. Namun karena ini adalah perintah Allah dan mereka ingin mendapatkan ridla-Nya maka perintah tersebut dilaksanakannya,’’ kata Kiai Hanief.

Demikian informasi tentang Kiai Hanief Ismail  ibadah kurban sarana mencapai kebahagiaan hakiki agar semangat berkurban tetap menyala.***

 

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *