17 April 2026 19:41
WhatsApp Image 2024-06-11 at 19.37.40

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

OPINIJATENG.COM-Luna adalah seorang gadis kecil yang pemalas dan tidak suka membantu. Ia tinggal di sebuah desa bersama dengan ibunya. Setiap hari Luna menghabiskan waktunya untuk bermain, sedangkan ibu Luna menghabiskan hari harinya untuk bekerja sebagai pemerah susu di kandang saudagar kaya di desa tersebut milik Pak Ahmad.

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

Suatu hari Luna sedang asyik bermain di depan rumah kemudian sang ibu memanggil  dan meminta tolong kepada Luna untuk mengambil sedikit kayu bakar yang ada di belakang rumahnya.

Ibu : ” Luna…. Sini, Nak… Ibu minta tolong ambilkan beberapa kayu bakar di belakang rumah.”

Luna : ” Kenapa tidak ibu sendiri saja yang mengambilnya?”

Ibu : “Ibu tidak bisa beranjak dari dapur nak karena ibu sedang memasak santan.”

Luna  : ” Memang Ibu selalu seperti ini, yang selalu mengganggu keasyikanku saat sedang bermain. ”

Luna pergi dan tidak menghiraukan perintah ibunya. Terlihat dari dalam dapur ibunya hanya diam dengan mata berkaca-kaca meratapi tingkah dan sifat anaknya.

Hari demi hari telah berlalu, hingga pada suatu hari Ibu jatuh sakit. Luna baru saja pulang dari bermain dengan keadaan yang lapar.

Luna :” Ibu kenapa di atas meja tidak ada makanan? Apakah ibu ingin melihat aku kelaparan?”

Ibu :” Ibu sedang sakit nak, rasanya ibu tidak kuat untuk melakukan aktifitas seperti biasanya”(sambil batuk-batuk).

Luna  :” Apakah ibu sudah bosan dan lelah merawatku? ”

Ibu :” Tidak, Nak, mungkin besok Ibu sudah sembuh dan sudah bisa memasak makanan untukmu. Sementara untuk mengobati rasa laparmu di belakang masih ada singkong rebus sisa dua hari yang lalu.”

Gita:” Aku tidak mau, aku pergi bermain saja.”

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

Luna pergi bermain meninggalkan Ibunya. Saat bermain Luna  merasa lapar sehingga ia memilih untuk duduk dan bersandar di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba ia membayangkan memakan sesuap nasi dengan lauk tahu dan kecap. Semakin tidak tahan dengan rasa lapar akhirnya Luna  memutuskan untuk pulang.

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

Sesampainya di rumah Luna menangis

Luna  :” Ibu aku ingin makan nasi dengan lauk tahu… Aku sudah lapar sekali huhuhu (sambil menangis).

Ibu:” Ibu tidak ada uang sama sekali, Nak, uang ibu sudah habis untuk membeli obat, sementara ini kita hanya bisa mengganjal perut kita dengan makanan seadanya.”

Luna :” Aku tidak mau bu, hampir setiap hari aku makan makanan yang sama seperti itu. Sekarang aku ingin mendapatkan uang agar aku bisa membeli makanan yang aku mau. Bagaimana aku bisa mendapatkan uang?” (Dengan intonasi marah)

Ibu: ” Kamu bisa mendapatkan uang dengan melakukan pekerjaan terlebih dahulu, Nak, mungkin kamu bisa pergi ke rumah Pak Ahmad dan membantu memerah susu sapi yang kemudian dijual ke pasar.”.

Tanpa berbicara Luna pergi meninggalkan Ibunya menuju ke tempat tidur.

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

Keesokan harinya Luna mempersiapkan diri untuk pergi menuju kandang milik Pak Ahmad untuk memerah susu.

Sesampainya di kandang

Pak Ahmad :” Gita, ada apa kamu kesini nak? ”

Luna :” Saya ingin makan nasi dengan lauk tahu, Pak, sedangkan ibu sedang sakit dan tidak memiliki uang untuk membeli makanan yang saya inginkan. Untuk itu saya pergi kesini untuk mencari uang. ”

Pak Ahmad :” Sungguh mulia hatimu, Nak, kamu ikhlas membantu Ibumu tanpa pamrih”.

Luna  :” Sebenarnya Saya tidak ingin seperti ini, Pak. Saya melakukan semuanya dengan terpaksa. ”

Pak Ahmad:” Luna… Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, Nak. Sudah seharusnya menjadi tugasmu sebagai seorang anak yaitu membantu orang tua, apalagi kamu hanya hidup berdua dengan Ibumu, apakah kamu tidak kasihan melihatnya? ”

Luna hanya terdiam. Tidak lama kemudian Luna  berpamitan untuk segera memerah susu sapi.

Luna :” Baiklah kalau begitu, Pak, saya permisi ingin segera memerah susu sapi supaya tidak terlalu siang untuk dibawa ke pasar. ”

Pak Ahmad:” Baiklah Luna, lakukan pekerjaanmu dengan hati-hati ya”

Luna :” Baik Pak Ahmad, terimakasih.”

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

Tidak terasa hari sudah siang dan kendinya sudah penuh dengan perahan susu. Akhirnya Luna beranjak dari kandang dan segera menuju ke pasar untuk menjual hasil perahan susu.

Di sepanjang perjalanan tubuh Luna  tampak pucat dan lemas, jalan yang dilaluinya penuh dengan batu-batu kecil. Hingga suatu ketika tubuh Luna  merasa lemas dan sudah tidak kuat menahan beban kendi yang berisi perahan susu yang dibawa di atas kepala dan kemudian kaki Luna  tidak sengaja menyandung batu.

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

Bruk…. Pyarrr….

Kendi berisi perahan susu yang dibawa Luna  jatuh dan pecah hingga tidak ada setetes susu yang tersisa. Luna  hanya bisa berdiam diri meratapi serpihan pecahan kendi dan menangis sambil berkata

Luna:” Ternyata seberat ini pekerjaan yang harus dilalui oleh Ibuku setiap harinya, tetapi aku tidak pernah peduli dan sedikitpun membantu meringankan pekerjaan Ibuku huhuhu.”

Luna bergegas pulang ke rumah untuk menemui Ibunya dan meminta maaf.

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

Sesampainya di rumah Luna langsung memeluk sang Ibu yang sedang beristirahat di tempat tidur.

Ilustrasi Gadis Pemerah Susu/Design by canva

Luna  :”Huhuhu Ibu, maafkan Luna yang selama ini tidak pernah sedikitpun membantu Ibu, bahkan saat Ibu meminta tolong kepada Luna  tetapi tidak pernah Luna hiraukan,ternyata pekerjaan Ibu seberat itu (sambil menangis terisak-isak). ”

Ibu:” iya Nak, Ibu harap kedepannya kamu bisa lebih baik lagi dan bisa mengerti dengan keadan Ibu.” ***

*) Ditulis oleh Eka Octavia, Sabrina Yulian Nabila, Sukma Dwi Anggraini, Fitri Ajeng Galuh Palupi, Fabilillah Tifni Tifansyah, mahasiswa S1 PGSD Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *