Rekayasa Teknologi: Siswa SMAN 1 Banjarnegara Ciptakan Penyiram Otomatis Ramah Lingkungan
Kepala SMA N 1 Banjarnegara tengah meninjau stand Gelar Karya Siswa kelas XII 9 dengan produk alat penyiram tanaman dengan teknologi Arduino/Bernadeta Deswita Puspitasari
OPINIJATENG.COM-Pada tanggal 23 September 2024, memulai perjalanan dalam projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan pembagian kelompok berdasarkan minat, yang sebelumnya diisi melalui Google Form. Hasilnya, sekitar 18 siswa memilih bidang arsitektur, sehingga muncul perdebatan terkait pembagian yang seimbang.
Namun, kelompok yang terdiri dari Affuw, Ahza, Bernadeta, Yuma, Yusuf, Indra, Faradila, Nabilah, dan Abyan berhasil terbentuk dengan lancar, meskipun mereka mengalami tantangan dalam menentukan produk yang akan dikembangkan. Awalnya, mereka berminat di bidang media pembelajaran dan berencana membuat website, tetapi setelah beberapa kali diskusi dan arahan dari guru, mereka diarahkan untuk menciptakan produk baru.
Melalui perjalanan yang tidak mudah, dari ide penyiram otomatis hingga penggiling otomatis, akhirnya kelompok tersebut sepakat untuk membuat penyiram otomatis dengan sensor kelembapan tanah. Ide ini menjadi langkah pertama mereka dalam mengenal bidang teknik mesin, yang jauh dari rencana awal di media pembelajaran.
Pada 5 Oktober 2024, mereka mengadakan pertemuan pertama di rumah Abyan. Semua bahan sudah disiapkan, termasuk kabel jumper dan Arduino yang dipinjam dari Yuma, yang ternyata memiliki pengalaman menggunakan Arduino meskipun lebih sering mendalami astronomi daripada informatika. Dengan bantuan panduan dari YouTube, mereka berhasil menguji produk tersebut, dan alat itu bekerja dengan baik. Pengalaman ini memberi mereka wawasan baru tentang proyek teknik dan membuat mereka merasa seperti siswa SMK.
Pada 17 Oktober 2024, mereka mengikuti pembelajaran P5 bersama Ibu Reni Tri Handayani dari Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan, yang memperkenalkan rekayasa teknologi yang juga diterapkan di Banjarnegara, seperti alat untuk membuat nasi jagung instan. Pembelajaran ini membuka wawasan mereka bahwa produk yang akan dibuat harus memiliki nilai guna bagi masyarakat sekitar. Setelah materi selesai, mereka melanjutkan diskusi kelas dan mengerjakan LK 1 tentang Peran Rekayasa Teknologi.
Esoknya, pada 18 Oktober 2024, mereka belajar berbagai contoh rekayasa teknologi di setiap bidang, seperti konstruksi bangunan dalam arsitektur, sistem otomatis berbasis sensor dalam elektronika, hingga biologi yang ternyata bisa menghasilkan produk seperti nata de salak. Setelah mempelajari materi ini, mereka mengerjakan LK 2 tentang Identifikasi Masalah serta LK 3 yang berisi Ide Solusi dan Kerangka Projek.
Pada 21 Oktober 2024, kelompok mereka mulai menyusun proposal produk. Setiap anggota diberi tugas untuk menyelesaikan berbagai bagian proposal, seperti latar belakang, tujuan, dan landasan teori. Setelah draft proposal selesai, mereka mengeditnya agar sesuai dengan KBBI dan EYD. Hari berikutnya, pada 22 Oktober 2024, mereka berkonsultasi dengan guru Bahasa Indonesia, lalu mempresentasikan proposal di kelas. Untuk membuat presentasi lebih menarik, mereka membuat mading mini yang menjelaskan cara kerja alat yang dirancang, dihiasi dengan tokoh dari game Plants vs Zombies.
Pada 23-24 Oktober 2024, mereka memulai tahap pembuatan prototipe di kelas demi efisiensi. Beberapa anggota, seperti Affuw dan Nabilah, fokus menyelesaikan mading, sementara Yusuf dan Yuma bekerja pada prototipe penyiram otomatis. Mereka juga mengerjakan LK 5 tentang Log Book, dilanjutkan dengan LK 6: Uji Coba Prototipe, dan LK 7: Rencana Perbaikan Prototipe pada 25 Oktober 2024.
Pada 26 Oktober 2024, mereka kembali berkumpul untuk mempersiapkan expo. Setelah mencoba berbagai modul, mereka memutuskan untuk melengkapi proyek dengan website melalui Google Sites, yang berisi materi, poster, infografis, dokumentasi, dan permainan interaktif. Saat expo, mereka akan menyediakan QR code agar pengunjung dapat langsung mengakses informasi tentang produk. Langkah ini diambil untuk memudahkan pengunjung memahami teknologi yang mereka rancang dan menjadikannya lebih menarik serta bermanfaat. Website tersebut dapat diakses lewat tautan s.id/nawacakra.
Perjalanan P5 ini memberikan Affuw, Ahza, Bernadeta, Yuma, Yusuf, Indra, Faradila, Nabilah, dan Abyan pengalaman tak terlupakan, dengan berbagai tantangan dan pelajaran berharga tentang rekayasa teknologi, kerja sama tim, dan kreativitas. Proyek bertema rekayasa ini tidak hanya mengajarkan mereka cara menciptakan alat yang bermanfaat, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan berpikir kritis dan inovatif dalam menghadapi masalah sehari-hari. Selain itu, dengan adanya alat penyiram otomatis ini, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menghemat waktu dan usaha dalam merawat tanaman, terutama dalam situasi kekurangan tenaga kerja atau untuk membantu petani kecil yang membutuhkan teknologi sederhana yang efisien dan hemat energi.***
*) Artikel ini ditulis oleh Bernadeta Deswita Puspitasari siswa kelas XII 9 SMA N 1 Banjarnegara
