18 Januari 2026 19:51

Dua Megaproyek Bendungan Abad 20 di Banjarnegara Jadi Film Dokumenter

0
Dua Megaproyek Bendungan Abad 20 di Banjarnegara Jadi Film Dokumenter

Dua Megaproyek Bendungan Abad 20 di Banjarnegara Jadi Film Dokumenter

OPINIJATENG.COM – Dua megaproyek bendungan pada abad 20 di Banjarnegara jadi film dokumenter.

Banjarnegara memiliki kisah menarik dengan dibangunnya megaproyek bendungan dari dua zaman yang berbeda.

Keduanya adalah bendungan Bandjar Tjahjana Werken (BTW) dan bendungan PLTA Panglima Besar Jenderal Soedirman atau PLTA Mrica.

BTW dibangun di akhir era politik etis Belanda pada saat kita masih dijajah tahun 1912, sementara itu PLTA Mrica dibangun di era kejayaan pemerintahan Presiden Suharto tahun 1987.

Kedua objek tersebut saat ini tengah digarap menjadi film dokumenter oleh dua sekolah sasaran Program Organisasi Penggerak (POP) yaitu SMPN 1 Banjarnegara dan SMPN 1 Bawang untuk dijadikan bahan pembelajaran audiovisual.

Guru SMPN 1 Banjarnegara Yusman, Senin 15 November 2021 mengungkapkan, mendokumenterkan objek era kolonial jelas memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Terutama dengan tidak adanya narasumber sejaman.

“Kita harus berkutat dengan arsip kolonial, dan kalaupun ada narasumber biasanya sudah generasi ke dua dan ke tiga dari para saksi mata,” jelas Yusman.

Guru Besar Sejarah Universitas Airlangga Surabaya Prof Purnawan Basundoro mengungkapkan mega proyek Bandjar-Tjahjana atau Bandjar-Tjahjana Werken di rancang oleh E.W.H. Clason dan D. Snell pada tahun 1912-1938.

“Proyek ini dialiri dengan mengambil air dari bendungan dibawah kampung Legok diatas pertemuan sungai Merawu dan Serayu,”

“Dengan irigasi dari bendungan ini lahan kering seperti di Wanadadi, Susukan, Rakit, Bukateja (Tjahjana), Kejobong dan Kemangkon disulap menjadi lahan yang subur dan menghasilkan lebih besar hasil bumi,” jelas ahli sejarah kota asal Banjarnegara ini.

Sementara itu, guru SMPN 1 Bawang Tjatur Budijantoro mengungkapkan, pembangunan waduk Mrica pada saat itu merupakan peristiwa yang memilukan.

“Kami memiliki narasumber, Mbah Basrowi namanya, usianya sudah 96 tahun. Waktu itu bagi warga yang terkena proyek waduk Mrica seperti simalakama. Kompensasi ganti rugi tidak setimpal harganya, atau mereka harus transmigrasi ke luar Jawa,” jelas Tjatur.

Namun bagi masyarakat wilayah lain, pembangunan PLTA Mrica justru sangat menguntungkan.

“Daerah Gentansari memiliki bukit batu yang sekarang dinamakan Tampo Mas. Karena batuan di bukit itu dipakai untuk material bangunan waduk Mrica, dan harganya saat itu sangat mahal, seolah harga batu setompo (bakul) dapat untuk memberi satu gram emas,” tambahnya.

Menurutnya, penamaan waduk Mrica juga tidak tepat, mengingat sungai utama yang dibendung adalah Serayu, sedangkan Mrica sendiri adalah hanya anak sungai kecil.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *