18 April 2026 02:35
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Malam ini, Gubernur menyanyikan lagu Jawa irama campursari, Sewu Kutha, ciptaan sekaligus dinyanyikan oleh penciptanya, Didi Kempot.
Applaus membahana memenuhi ruangan ketika Gubernur selesai menyanyi.

Lalu, Gubernur menambah satu lagu lagi, lagu dari kelompok rock asal Inggris, The Beatles.

Lagu yang cukup romantis, Yesterday.

Usai Gubernur menyanyi, Pembawa Acara mengumumkan bahwa Gubernur baru saja melakukan rekaman.

Terkumpul sepuluh lagu dalam satu Compact Disc.

Malam ini, bila di antara tamu undangan ada yang berminat, bisa langsung membeli CD tersebut, yang sudah disediakan di counter dekat pintu keluar.

“Ada yang minat dengan CD Bapak Gubernur?” teriak Pembawa Acara sambil mengangkat CD tinggi-tinggi.

Ruangan tiba-tiba menjadi gaduh.

Banyak tangan diangkat ke atas sebagai tanda minat untuk mendapatkan CD tersebut.

Ruangan berkapasitas lima ratus orang, penuh sesak.

Berarti yang hadir malam ini lebih dari lima ratus orang.

Gubernur senyum-senyum senang melihat antusiasme tamu undangan untuk mendapatkan CD-nya.

“Terima kasih, terima kasih. Tolong panitia bisa melayani para tamu yang menginginkan CD secepatnya. Monggo, silakan bapak-ibu yang ingin mendapatkan CD ini, bisa segera menghubungi panitia yang ada di counter dekat pintu sana.”

Kembali Pembawa Acara berteriak untuk mengatasi kegaduhan suara para tamu undangan yang berdengung seperti ribuan tawon.

Tiba-tiba, ada seseorang naik ke atas panggung.

Dia menyerahkan secarik kertas kepada Pembawa Acara.

Berbisik-bisik sebentar, kemudian kembali lari turun ke bawah panggung.

Pembawa Acara mendekati Gubernur.

Berbicara sebentar.

Gubernur manggut-manggut sambil tersenyum.

Tampak bahagia sekali malam ini.

BACA JUGA:Tak Hanya Menyerang Paru-paru, Vape Berbahaya Bagi Kesehatan Gigi

Kembali Pembawa Acara berteriak lantang, ”Mohon tenang, sebentar! Bapak-bapak. Ibu-ibu. Hadirin yang berbahagia. Baru saja saya mendapat pesan dari panitia. Ini ada secarik kertas yang diberikan oleh seseorang kepada panitia. Ingin tahu, apa isinya?”

Mendadak ruangan hening.

Semua hadirin diam.

Agaknya mereka ingin tahu, apa isi tulisan dalam kertas itu.

Pembawa Acara mengangkat kertas itu ke depan.

Lalu membacanya, “Saya ambil seratus keping CD Bapak Gubernur. Tertanda Lita. Dan kertas ini berkop surat CV. Kayu Besi Indonesia.”
Teriak Pembawa Acara dan mengibarkan kertas itu tinggi-tinggi.

Hadirin kembali gaduh.

Ada suara-suara suitan keras.

Tepuk tangan.

Gubernur ikut melambai-lambaikan tangan.

Dan selanjutnya, mulailah banyak tangan diangkat.

Para tamu undangan seperti berebut untuk menyatakan membeli CD Gubernur.

Ada yang beli lima puluh keping.

Ada yang beli dua lima keping.

Mendadak acara berubah seperti lelang.

Dalam waktu singkat, Pembawa Acara mencatat, lebih dari seribu keping CD terjual malam ini.

BACA JUGA:Ironis, 86 % Rumah Tahfiz tidak Memiliki Hafiz-Hafizah, Umat Diminta Cermat Memilih

Jamuan makan malam yang diramu promosi CD Gubernur sukses.

Sementara itu, Theo dalam hati memuji keberanian Lita yang secara kreatif mengambil inisiatif memulaI membeli seratus keping CD.

Satu cara memperkenalkan diri yang sangat efektif di tengah kumpulan orang-orang penting di provinsi ini.

Malam ini, nama Lita mendadak melambung ke panggung politik dan bisnis.

Relasi Theo, selama ini, mengenal Lita hanya sebagai penyanyi dangdut cantik, seksi, dan beruntung diperistri politikus kawakan.
Ternyata dalam diri Lita tersimpan potensi lain yang masih tersembunyi.

Potensi yang bila diasah akan semakin tajam dan bersinar.

Lita mampu melihat sebuah peluang.

Dan dengan cepat tanpa meminta pertimbangannya, langsung mengambil keputusan.

Satu sikap yang berani.

Apakah ini juga termasuk cara Lita membuat kejutan untuk Theo?

Apakah Lita memang sudah mempersiapkan diri sejak dari rumah?

Sejak kapan Lita menyimpan Buku Kecil Nota Catatan berlogo CV. Kayu Besi Indonesia, di dalam tasnya?

Ada banyak pertanyaan yang berdesakan di otak Theo.

Theo melihat, Lita mengibarkan bendera perusahaannya, yang dalam beberapa tahun terakhir ini, memang sedang surut, karena tidak ada yang mengelola dengan baik.

Apakah Lita sengaja memperlihatkan pada Theo, sesungguhnya dirinya pantas tampil.

Lita membuktikan diri memiliki kemampuan.

Memiliki kapasitas untuk masuk ke dalam lingkaran bisnis.

Inikah bentuk permintaan Lita untuk mengurus bisnis kayunya yang sedang surut?

Perusahaan kayu miliknya, sesungguhnya dipersiapkan untuk Ikang, anak sulungnya.

Ikang sekarang masih kuliah bisnis di Boston, Amerika Serikat.

Masih dua atau tiga tahun lagi Ikang lulus dengan gelar Master of Business Administration.

Jadi, selama menunggu Ikang, perusahaannya memang kosong.

Selama ini, perusahaan dikelola oleh orang kepercayaannya, Agung.

Namun, hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

BACA JUGA:Bahaya Vape bagi Kesehatan Paru-paru dan Gigi

Bagaimana pun, tanpa kendali langsung, perusahaan tidak akan berlari dengan cepat.

Dengan tampilnya Lita membawa nama perusahaan kayunya, Theo melihat kemungkinan yang lain pada diri Lita.

Tampaknya, memang sudah saatnya Lita diberi kepercayaan untuk mulai mengurus perusahaan kayunya.

Dalam hal membangun hubungan bisnis, relationship Lita cukup bagus.

Sebagai mantan penyanyi dangdut dari panggung ke panggung, Lita tak canggung lagi berada di arena macam apa pun.

Lita sangat sadar, dia punya wajah cantik, tubuh molek seksi, suara merdu.

Semua itu menjadi modal dasar yang kuat untuk menutupi kekurangannya dalam hal intelektualitas, ketika harus berhubungan dengan siapa pun.

Walau hanya lulus SMA, Lita merasa cukup mampu “berbicara” dengan berbagai kalangan.

Profesinya sebagai penyanyi mengantarnya masuk ke berbagai lingkaran pergaulan.

BACA JUGA:Menuai Banyak Kritik, Ivan Gunawan Hibahkan Spirit Doll

Bahkan, akhirnya dia bertemu Theo, politisi kawakan, dan menjadi isterinya, menggantikan posisi Ipo, istri pertama yang sudah meninggal.

Lamunan Theo buyar ketika Pembawa Acara memanggil namanya dan Lita untuk naik ke atas panggung.

Gubernur pun melambaikan tangannya mengundangnya naik ke atas panggung.

Theo berdiri.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *