18 April 2026 02:15
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Senin sore, pukul tiga jadwal penerbangan Lion Air ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Pukul dua, Iben dan Lita sudah check in.

Sambil menunggu boarding, Lita mengajak Iben makan mie bakso di warung pojok bandara.

BACA JUGA:MAKI Ungkap Dugaan Pungli oleh Oknum Pegawai Bea dan Cukai di Bandara Soetta

Tidak banyak yang diobrolkan.

Mereka seperti benar-benar menikmati mie bakso, yang memang terkenal enak di lidah orang Semarang yang sudah biasa keluyuran ke bandara.

Usai makan bakso, Iben dan Lita langsung masuk ke Ruang Tunggu.

Dan sebentar kemudian, terdengar pengumuman, penumpang Lion Air tujuan Banjarbaru dipersilakan naik ke pesawat.

Lita duduk di kursi dekat jendela.

Iben duduk di sampingnya, di kursi tengah.

Di samping kiri Iben, duduk seorang anak muda seumur Iben.

Dia hanya sekilas tersenyum pada Iben, dan selanjutnya asyik membaca corporate magazine Lion Air yang selalu terselip di balik kursi penumpang.

“Pak Ali sudah dikabari?” tanya Iben pada Lita yang sudah mulai memejamkan mata.

“Sudah. Dia siap menjemput kita, nanti. Santai saja.” jawab Lita sambil menepuk-nepuk tangan Iben.

Iben hanya tersenyum tipis.

Lita kembali memejamkan mata.

BACA JUGA:Tes Kepribadian: Siapa Orang Pertama yang Anda Bantu? Pilihanmu Menggambarkan Karaktermu

Iben jadi ikut-ikutan memejamkan mata.

Tapi otaknya malah berputar-putar mengembara ke mana-mana.

Pesawat Lion Air mendarat mulus di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru.

Hari sudah mulai gelap, menjelang malam.

Setelah menunggu bagasi, Lita dan Iben keluar bandara.

Pak Ali sudah menjemput di pintu keluar.

“Selamat datang di Banjarbaru, Bu Lita. Ini Mas Iben, putra bungsu Pak Theo, ya?” tanya Pak Ali sambil mengulurkan tangan. Iben menyambut tangan Pak Ali. Wajahnya juga tersenyum cerah.

“Iya, Pak Ali. Terima kasih sudah repot menjemput kami,” balas Iben.

“Kita makan malam dulu ya. Biar sampai di hotel Bu Lita dan Mas Iben bisa langsung istirahat.” Pak Ali menawarkan idenya.

“Boleh, Pak Ali,” jawab Lita, “meskipun kami sebenarnya belum lapar. Tapi, tak ada salahnya mencicipi makanan Banjarbaru dulu.” sambut Lita.

Pak Ali membawa Lita dan Iben ke rumah makan untuk makan malam.

Makan malam yang cukup mengesankan.

Terutama bagi Iben yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah pulau Kalimantan.

Usai makan malam, Pak Ali langsung mengantar keduanya ke hotel.

Dewi sudah reservasi dua kamar untuk mereka.

BACA JUGA:Intip Kepribadian Seseorang melalui Tulisan Tangan

Sampai di hotel sudah hampir jam sepuluh malam.

Pak Ali pamit.

Lita dan Iben langsung masuk ke kamarnya masing-masing.

Kamar Lita dan kamar Iben bersebelahan.

“Tidur yang nyenyak, Ben. Besok kita seharian akan bertemu dengan banyak orang.” kata Lita.

“Oke,” jawab Iben singkat.

“Kalau ada sesuatu yang penting, kamu bisa telepon atau ketuk pintu kamarku,” tambah Lita sebelum masuk kamarnya.

“Iya, take it easy.” sambut Iben.

Lita melambaikan tangan ke Iben sebelum menutup pintu kamarnya.

Iben membalas dengan mengangkat tangannya.

Mata mereka bertemu.

Lita tersenyum.

Iben tersenyum.

BACA JUGA:Orang Tua Perlu Melek Pendidikan Literasi Digital

Lita menutup pintu.

Iben membuka pintu kamarnya, masuk ke dalam.

Pintu pun ditutupnya rapat.

Di dalam kamar, Iben langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Pikirannya melayang-layang.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *