Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 118
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Lita diam sejenak.
Dipandanginya Iben.
Dielusnya pipi Iben yang tadi ditamparnya.
“Masih terasa sakit ya? Maafkan aku.”
“Aku terlalu keras menampar pipimu. Itu kulakukan karena aku marah dan kecewa melihat kamu minum dan mabuk.”
“Aku tidak ingin melihat hidupmu kacau begitu.”
BACA JUGA:Bisakah Takdir Berubah? Ini Penjelasannya
“Aku juga ikut merasa bersalah. Kamu minum dan mabuk karena marah padaku yang harus melayani ayahmu, suamiku. Aku tahu kamu marah. Kamu kecewa. Tapi, sementara ini aku belum bisa berbuat apa-apa. Aku masih harus mengalir mengikuti arus yang seharusnya.”
Mata Lita mulai basah. Iben masih diam.
“Ben, untuk semua kejadian yang melibatkan kita berdua, akulah yang salah. Aku tidak mampu menguasai perasaanku sendiri. Seharusnya semua ini tidak terjadi. Aku salah, Ben. Aku tidak mampu menghindar untuk tidak menyayangi kamu. Untuk tidak mencintai kamu.”
Air mata Lita mulai meleleh di kedua pipinya.
Iben menghapus air mata itu dengan jari-jarinya.
“Sudahlah, Ta. Bukankah waktu di Banjarbaru kita sudah sepakat, tidak ada rasa sesal di antara kita? Atau kamu sudah mulai berubah? Mulai menyesali dengan apa yang terjadi? Aku sadar aku pun ternyata tidak mampu menipu diriku sendiri.”
“Aku juga menyayangi kamu. Aku mencintaimu. Cinta itu anugerah, Ta. Cinta tak pernah salah. Yang salah adalah kita. Memberikan cinta pada orang yang salah.”
“Tapi, kita sudah sepakat, tak perlu menyesali kesalahan. Ya sudah. Kita semua salah. Aku salah. Kamu salah. Ayah juga salah. Mari kita jalani yang salah ini dengan kesadaran komitmen kita terhadap kesalahan,” Iben bicara seperti seorang filosof yang sedang mengajar tentang nilai-nilai kehidupan.”
Lita diam.
Mendengarkan omongan Iben.
Entah paham entah tidak.
“Ben, cium aku. Cium aku, Ben…” Lita berbisik lirih.
Tangannya meraih leher Iben.
BACA JUGA:Malaikat Mendoakan Orang yang Salat Subuh dan Ashar
Iben otomatis menundukkan kepalanya.
Diciumnya bibir Lita.
Lita seperti orang kehausan yang menerima uluran air untuk diminum.
Direguknya air itu sepuasnya.
Dilumatnya bibir Iben dengan ganas.
Bila beberapa malam ini, dia seperti kehilangan gairah saat tidur bersama Theo, begitu bersentuhan dengan Iben, gairahnya melonjak sampai ke ubun-ubun.
Lita berubah liar.
Gairah yang tertekan saat bersama Theo, jebol membanjir seperti memperoleh lubang pelepasan yang bebas tanpa hambatan.
Begitupun dengan Iben.
Beberapa hari jauh dari Lita juga membuat dirinya seperti senewen.
Dia ingin marah, tapi harus marah pada siapa?
Akhirnya, pelampiasannya pada begadang dan minum sampai mabuk.
Sampai kepalanya pusing.
Sampai otaknya tak mampu berpikir lagi.
BACA JUGA:Ini 5 Doa yang Wajib Diamalkan setelah Sholat Fardhu
Tak ayal, ketika ada kesempatan bertemu lagi dengan Lita, siang ini, Iben sama saja seperti Lita.
Gejolak magma panas dalam tubuh remajanya langsung membludak naik ke kepala.
Iben seperti gunung api aktif yang siap memuntahkan magma.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
