Waspada Kedengkian dan Bersabar atas Kenikmatan-Mu
Prof Ahmad Rofiq
OPINIJATENG.COM – Sedulur dan Sahabatku, semoga di pagi ini Allah melimpahkan kita kebaikan, siang nanti kebahagiaan, dan sore nanti keberuntungan.
Mari kita syukuri semua karunia Allah yang senantiasa menyayangi kita, kita sehat afiat dan berlimpah nikmat dan kenikmatan.
Shalawat dan salam kita senandungkan pada Baginda Raaulullah saw. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau.
BACA JUGA : 6 Hak Muslim yang Satu terhadap Muslim yang Lain Lengkap dengan Penjelasannya
Beberapa waktu lalu, saya menerima postingan kata bijak sahabat saya yang masih muda yang sudah berbaiat mengikuti tarekat yang dipimpin oleh ulama masyhur di Jawa Tengah.
Kata bijak itu “fa inna kulla dzî ni’matin mahsûd” artinya “…maka sesunguhnya setiap orang yang mendapatkan kenikmatan, (cenderung) akan didengki”.
Tampaknya, jika ada “virus senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang” kemudian melanda sebagian saudara kita, seakan menjadi hal yang lumrah. Namun jadinya tentu salah kaprah.
Karena agama Islam mengajarkan kita, untuk senang apabila saudara kita berbahagia, dan sedih atau setidaknya kita berempati manakala saudara kita merasakan kesedihan.
Sesungguhnya dalam kehidupan kita sehari-hari perasaan solidaritas sosial warga negeri ini sangat tinggi. Demikian juga kedermawanan kita. Ketika ada bencana alam, maka kita bergerak cepat untuk menghimpun dan mengirimkan bantuan.
Tentu berbeda dengan ketika sedulurku menduduki jabatan, yang diduga banyak fasilitas dan atau imbalan tertentu, maka di situlah pepatah bijak di atas menjadi benar adanya.
BACA JUGA: Arab Saudi Resmi Cabut Aturan Karantina dan PCR, Dirjen PHU Selaraskan Aturan Umroh
Ada saja yang sibuk mencari cara untuk menjatuhkan sedulur, dengan berbagai cara, termasuk cara yang bisa menurunkan marwah lembaga yang dia berada di dalamnya.
Sedulur dan sahabatku, mari kita simak secara saksama,nasehat Rasulullah saw agar kita bisa hidup tenang (sakinah/thuma’ninah) dan bahagia, pertama: lupakan perbuatan baikmu kepada orang lain, agar kamu bisa terus berusaha berbuat baik dan kebaikan pada orang lain.
Ingatlah mereka itu saudaramu yang laksana satu jasad, apabila saudaramu sakit, maka anggota jasadmu, ikut merasakan sakitnya.
Kedua, ingatlah perbuatan jahat, kebencian, dan atau kesalahanmu, agar kamu bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Kebencian dan kedengkianmu pada saudaramu, akan memperberat timbangan amal burukmu.
BACA JUGA: Mengenal Marital Rape, Haramkah?
Sementara amal ibadahmu, belum tentu cukup memberikan jaminan pahalamu.
Ketiga, buanglah jauh-jauh kedengkianmu pada orang lain dalam urusan duniawi, karena kedengkianmu akan terus membakar hati dan fikiranmu, dan menjauhkan dirimu dari kebahagiaan dan ketenangan.
Keempat, kamu dianjurkan untuk iri kepada orang lain dalam soal ibadah kepada Allah, supaya kamu bisa terus berikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Kata leluhur kita, “urip ning donya lirkadiyo mampir ngombe ngger” artinya “hidup di dunia ini laksana singgah untuk minum nak”, karena itu, buang dan sembuhkan penyakit hati dan fikiranmu, agar hidupmu tenang dan bahagia.
Jangan biarkan kedengkianmu itu menggerogoti jiwamu, hanya karena melihat orang lain mendapatkan kenikmatan atas jabatannya.
Kalaupun kamu belum bisa ikhlas mendukung dan ikut mensyukuri kenikmatan saudaramu, buanglah kebencianmu, dan janganlah kamu menghalanginya.
Meskipun kata bijak itu mungkin benar adanya, tetapi itu sesungguhnya pelajaran bagi kita.
BACA JUGA:Doa-doa agar Kamu Lebih Percaya Diri
Semoga kita dihindarkan dari penyakit dengki atas kenikmatan yang diterima sedulur dan saudara kita. Kita ikut bersyukur atas kenikmatan sedulur kita.
Allah a’lam bi sh-shawab.
*)Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA. Direktur LPPOM MUI Jawa Tengah, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.***
