17 April 2026 22:44
Prof Ahmad Rofiq 2

Prof Dr Ahmad Rofiq, MA. Ketua PW Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana dan FSH UIN Walisongo Semarang, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Anggota DPS BPRS Bina FInansia, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat IAEI Pusat.

OPINI JATENG – Dalam QS. At-Taubah (9): 36 Allah berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram”. Keempat bulan yang disebut bulan mulia, yaitu Muharram, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

Karena mulianya bulan tersebut, kita sebagai hamba Allah, yang mengikuti agama yang lurus, diingatkan agar jangan berbuat zalim pada diri sendiri maupun kepada orang lain, namun melakukan kebajikan dan amal shalih sebagai usaha untuk merawat keimanan dan ketaqwaan.

Menurut Terjemah Kementerian Agama, maksud bulan haram tersebut antara lain ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram.

Pada bulan Rajab, ada peristiwa yang sangat bersejarah bagi nasib dan masa depan manusia sebagai hamba Allah. Peristiwa tersebut pada saatnya nanti, diperingati sebagai peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah saw.

BACA JUGA: Bagi Suku Asmat Papua, Sepeda Motor Listrik Bukan Barang Baru, Cek Faktanya!

Beliau bersabda: Nabi saw bersabda: “Saya melihat pada malam mi’raj, sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dari salju, lebih harum dari minyak misik, maka saya bertanya kepada malaikat Jibril: “Wahai Jibril, untuk siapa semua ini? Jibril menjawab: “Itu (sungai tersebut) disediakan untuk orang yang bershalawat kepadamu di bulan Rajab”.

Setelah itu Rasulullah saw bersabda: “Kembalilah kepada Tuhan kalian, mohonlah ampunan atas segala dosa-dosamu, dan jauhilah perbuatan maksiyat di bulan haram, yakni bulan Rajab”. (al-Khaubawy, tt:86)

Riwayat Anas bin Malik menyatakan, bahwa dia bertemu Mu’adz, dan bertanya dari mana Anda? Saya dari Rasulullah saw dan mendengar dari Beliau saw: “Barang siapa mengucapkan “tidak ada Tuhan selain Allah dengan tulus ikhlas, akan masuk surga. Dan barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, dengan berharap mendapat ridha Allah akan masuk surga”. Setelah itu, saya masuk menemui Rasulullah saw dan menanyakan kepada Beliau: “Wahai Rasulullah saw, Mu’adz menceritakan kepadaku demikian, maka beliau bersabda: “Mu’adz benar” (Zahrah al-Riyadl).

Rasulullah saw juga bersabda: “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan Allah SWT, bulan Sya’ban adalah bulanku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku. Barangsiapa berpuasa sehari saja dari bulan Rajab, maka ia akan mendapatkan keridhaan Allah yang sangat besar dan dijauhkan dari kemurkaan-Nya, karena itu perbanyaklah memohon ampunan dengan beristighfar kepada Allah SWT”.

BACA JUGA: Asyiknya Cuti Bersama di Tahun 2023, Intip Cuti Bersama Selanjutnya…

Dalam situasi di mana banyak saudara-saudara kita yang mengalami disorientasi hidup, banyak yang terjebak dalam kehidupan hedonis, pragmatis, dan cenderung “menghalalkan” berbagai cara untuk mendapatkan kekayaan, apakah dengan cara-cara korupsi, manipulasi, dan atau cara-cara lain yang merugikan orang lain atau lembaga lain.

Bahkan sebagian dari mereka tidak lagi merasa malu ketika mereka terkena OTT dan diperhadapkan kamera media massa yang pasti diikuti oleh public.

Beruntunglah Anda yang tidak dikaruniai jabatan, baik jabatan sosial maupun kedinasan. Artinya, Anda lebih banyak waktu untuk mengisi bulan Rajab dengan berbagai kegiatan yang positif, baik di lingkungan keluarga, kerja, dan di mana saja Anda berada.

Makin banyak jabatan makin banyak pertanggungjawaban, apalagi pada jabatan yang di situ bergelimang uang, maka selain amanat yang tidak ringan untuk dijalankan, juga rawan menjadi sasaran kedengkian dan boleh jadi hasudan.

BACA JUGA: Pecahkan Rekor MURI 12.616 Peserta Terbanyak, Senam Sehat Moderasi Populer

Para Ulama merumuskan kaidah “li kulli ni’matin mahsud” artinya “pada setiap ada kenikmatan, maka di situlah menjadi sasaran kedengkian”. Karena itu, selagi kita masih diberi kesempatan umur, jangan lupa berdoa: “Ya Allah berkahilah kami (keluarga kami) dalam bulan Rajab, berilah kami kesempatan untuk sampai pada bulan Sya’ban, dan berilah juga kami kesempatan untuk sampai dan menjumpai bulan Ramadhan, dan masuklanlah kami atas berkat kasih sayangmu, ke dalam hamba-hamba-Mu yang shalih dan beruntung”.

Bulan Rajab adalah bulan diturunkannya perintah shalat kepada Rasulullah saw yang beliau terima secara langsung dari Allah, untuk disampaikan kepada umat beliau.  Shalat merupakan barometer ibadah, apabila shalatnya ditegakkannya dengan baik, maka amalan lainnya akan mengikuti baik.

Namun sebaliknya, jika shalatnya tidak baik, dan tidak berdampak positif bagi akhlak dan prilakunya, maka amalan lainnya juga akan rusak. Karena shalat merupakan ibadah komunikasi langsung seorang hamba dengan Khaliq tanpa ada perantara siapapun.

BACA JUGA: HPN 2023, Adakan UKW Joglosemar dan Cetak Wartawan yang Berintelektual

Semoga kita mampu menegakkannya dengan penuh kekhusyu’an dan ketawadhuan, sehingga  akan lahir kesalehan ritual dan sosial. Allah a’lam bi sh-shawab.
 
*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah PP Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *