Dukun Sarpin
Ilustrasi Dukun Sarpin/Dedy Purwono
OPINIJATENG.COM-Ruang remang, cenderung gelap, tanpa jendela. Hanya bohlam lima watt, itu pun nyempil di balik tirai hitam, kembang-kempis mencoba membagi cahaya redupnya. Aroma kemenyan dan kanthil menyeruak ke lubang hidung, menerobos tenggorokan, masuk ke dalam paru-paru, membuat dada ini terasa sesak. Namun, kutahan rasa ingin batuk ini sekuat tenaga. Terus terang, aku merasa sedikit takut. Untung saja, ada Bapak yang lutut kanannya beberap kali menyenggol lutut kiriku sebagai tanda keberadaannya di sampingku.
“Kamu mau jadi PNS, khan?” suara serak dari sosok di hadapanku membuyarkan lamunan. Dukun Sarpin, begitu nama yang aku tau dari Bapak. Karena penerangan yang minim, tak bisa kulihat jelas wajahnya. Samar, nampak kumis tebalnya yang melintang, mengingatkanku pada almarhum seorang pelukis, yang sosoknya diabadikan sebagai salah satu karakter pertunjukan boneka populer.
Yang agak terlihat adalah tiga cincin akik berukuran besar melingkar di jari telunjuk, tengah, dan manis, di tangan kiri sang Dukun. Terlihat gemerlap, kontras dan menyolok di ruang yang gelap.
Sejujurnya, aku agak terkesan dengan pertanyaannya yang mampu menebak tepat tujuanku datang ke sini.
Konon, Dukun Sarpin memang terkenal seorang yang linuwih, sakti mandra guna. Kata Bapak, sudah banyak orang yang menginginkan jabatan berhasil menggapainya karena bantuan sang Dukun.
“Iya, Mbah,” Bapakku yang menjawab.
“Gampang!” kata Dukun Sarpin mantap.
“A…a…apanya yang gampang, Mbah?” sedikit tergagap aku beranikan diri bertanya.
“Kamu pasti jadi PNS!” lanjut sang Dukun. “Tapi ada syaratnya,” sang Dukun melanjutkan.
“Apa, Mbah?” aku kembali bertanya.
“Tiga hari lagi, pada malam Jumat Kliwon, datanglah ke sini sendirian. Bawa emas murni antam dua puluh lima gram. Emas itu akan aku mantrai menjadi ajimat. Bawa jimat itu saat ujian CPNS, kamu pasti akan lolos.”
* * *
Malam Jumat Kliwon. Aku telah berada di ruangan yang pernah kumasuki tiga hari lalu. Nuansa yang sama, masih remang, masih pengap, masih membuat sesak napas. Bedanya, kini aku sendirian, tidak didampingi Bapak.
“Sudah bawa?” suara serak Dukun Sarpin terdengar kian berat dan tegas.
“Ini, Mbah,” kusodorkan lempengan emas dua puluh lima gram itu.
Dukun Sarpin menerima lempengan emas yang aku sodorkan. Dengan gerak perlahan, ia memasukkan tangan kirinya mengambil sesuatu dari kantong bajunya sebelah bawah. Nampak kain putih yang sepertinya terbuat dari kain kafan dibentuk menyerupai buntalan kecil. Tangan kanan Dukun Sarpin bergerak memasukkan emas lempengan itu ke dalam buntalan. Ia menarik tali di mulut buntalan kecil dan kemudian membuat simpul untuk mengunci mulut buntalan.
Dukun Sarpin mengangkat buntalan itu ke dekat mulutnya. Tak lama, ia merapal mantra yang di telingaku, terdengar seperti dengung ratusan tawon. Entah apa makna dari mantra yang tengah dirapalnya. Kedua tangan yang memegang buntalan, bergerak-gerak di atas anglo tempat membakar kemenyan. Mendadak, asap di anglo menjadi semakin tebal. Aku terbatuk-batuk tak kuat menahan dada yang sesak akibat kemasukan asap. Pandanganku menjadi sedikit kabur.
* * *
Aku telah siap di gedung yang menjadi tempat penyelenggaraan CAT Seleksi Kompetensi Dasar CPNS. Celana hitam, kemeja putih, dan sepatu pantofel hitam telah aku kenakan dengan rapi.
“Peserta yang membawa perhiasan, jam tangan, ikat pinggang, dompet, dan barang-barang lain harap dimasukkan ke dalam tas dan dititipkan kepada panitia,” terdengar pengumuman panitia seleksi CPNS dari pengeras suara.
“Hanya kartu peserta yang boleh dibawa, semua barang mohon tidak ada yang dibawa masuk ruang tes,” lanjut pengumuman tersebut.
Setelah melewati beberapa proses registrasi, aku sampai di depan pintu masuk ruang tunggu tes. Aku melihat petugas begitu sibuk memeriksa satu demi satu peserta tes dengan metal detector. Semakin dekat aku dengan pemerikasaan metal detector, jantung ini berdegup semakin kencang. Aku khawatir, jimat yang ada di saku belakang celanaku akan bermasalah.
Akhirnya aku berdiri di depan petugas yang membawa metal detector. Ia menggerakkan metal detector dari bagian kepala menuju ke bawah. Dug..dug…dug. Aku seolah mendengar degup jantungku sendiri. Akhirnya….
Tiiit…tiiitt…tiitt….
Petugas segera memeriksa saku celanaku, tempat metal detector tadi berbunyi ketika didekatkan. Mereka mengambil buntalan putih itu dari saku celanaku.
“Apa ini?” tanya petugas.
“Bu..bu..bukan apa-apa,” aku tergagap.
“Terpaksa barang ini kami sita!” tegas petugas.
Aku hanya diam, tidak mampu berkata-kata. Aku masuk ke dalam ruang tes dengan hati tidak karuan. Perasaanku kacau. Tanpa jimat dari Dukun Sarpin, aku pasti gagal.
* * *
“Apa isinya?” Tanya seorang petugas pada rekannya yang tengah membawa buntalan berwarna putih.
“Tidak tau, agak berat, sepertinya semacam logam,” jawab petugas satunya.
Dia segera membuka kantong dan mengeluarkan lempengan logam kuning kusam dari dalam buntalan putih dari kain kafan tersebut.
“Hmmm, dasar peserta goblog. Masa tembaga kusam begini dipercaya dapat membantu mengerjakan ujian CAT,” petugas yang membuka buntalan berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala. Petugas yang satunya hanya tersenyum.
“Nich, buatmu,” lanjut petugas yang tadi membuka buntalan.
“Buat apa, buang saja!” kata petugas satunya.
***
Di tempat lain, seseorang baru saja keluar dari toko perhiasan. Dia nampak tersenyum puas. Matanya berbinar. Tiga cincin akik berukuran besar, menghias jemari tangan kiri yang tengah sibuk menghitung lembaran kertas bergambar proklamator. Lembaran kertas hasil penjualan dua puluh lima gram emas.***
*)Dedy Purwono, seorang pendidik di SD Negeri 2 Beji, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara. Bisa dan biasa dijumpai di akun instagram @kaca_nusa
