17 April 2026 14:54

Bapak Rumah Tangga Istri Sepakat, Stay Dad Home Sah asal Alasannya Ini

0
Sri Setiyowati

Sri Setiyowati

Oleh: Sri Setiyowati*)

OPINIJATENG.COM – Menjadi bapak rumah tangga, stay dad home tak masalah. Asal alasannya tepat dan istri bersepakat, tidak ada masalah.

Menjadi bapak rumah tangga atau stay dad home sebenarnya tidak masalah. Asal ada kesepakatan dan karena suatu hal yang rasional.

Stay dad home di masyarakat kita masih dipandang anah, bahkan ada yang mengatakan aib. Padahal suami berganti peran dengan istri, jika ada alasan tepat dan kedua belah pihak saling ridhlo serta ikhlas, itu tidak masalah.

https://opinijateng.com/2021/10/03/109/prof-ahmad-rofiq-sakit-adalah-mahkota-di-atas-kepala-orang-orang-yang-sehat/

“Kok, istrinya yang kerja sih. Suaminya di rumah saja. Enggak kebalik tuh perannya?”

Pernah dengar komentar seperti itu?

Melihat seorang suami lebih banyak tinggal di rumah dan berperan sebagai bapak rumah tangga.

Mengerjakan pekerjaan domestik seperti mengurus anak, memasak, mengepel, dan mengatur keuangan keluarga.

Sedangkan istrinya bekerja mencari nafkah.

Bapak rumah tangga memang lifestyle yang berbeda pada umumnya apalagi di Indonesia.

Masyarakat kita yang menganut patriarki beranggapan bahwa pekerjaan mengasuh dan pendidikan anak serta pekerjaan domestik adalah tugas seorang ibu.

Jadi, seorang bapak rumah tangga atau “stay home dad” dianggap hal yang masih aneh.

Banyak mengundang stigma negatif dan seringkali dianggap pemalas oleh lingkungan.

Padahal ini bukanlah aib melainkan pembagian peran dalam keluarga yang telah disepakati bersama.

Jadi “Stay Home Dad” tidak masalah, asal ada alasan seperti di bawah ini:

1. Pekerjaan suami dapat dilakukan di rumah

Ada beberapa pekerjaan yang saat ini dapat dilakukan dari rumah.

Seperti editor media online, design grafis, usaha online shop atau profesi lainnya yang memang tidak mengharuskan suami keluar rumah.

Jika pekerjaan tersebut dapat dilakukan di rumah dan seorang bapak ikut berperan membantu mengasuh anak dan dapat mengerjakan pekerjaan domestik, kenapa tidak?

2. Profesi istri lebih baik daripada suami

Kadangkala profesi istri di kantor lebih menjanjikan daripada suami begitu pula dengan penghasilannya.

Ketimpangan penghasilan ini seringkali menjadi masalah di dalam rumah tangga sedangkan biaya asisten rumah tangga semakin besar.

Hal ini dapat memunculkan ide bahwa anak lebih baik di rawat oleh bapak daripada orang lain.

Seorang ibu tidak ingin dianggap pengangguran karena mengurus pekerjaan domestik.

Seorang bapak pun seharusnya tidak dianggap sebagai pengangguran karena mengurus pekerjaan domestik.

Sebab, baik ibu maupun bapak sama-sama secara ekonomis mengurangi pengeluaran untuk biaya seorang asisten rumah tangga atau yang lainnya.

3. Suami memang lebih senang mengurus pekerjaan domestik

Nah, apakah ada yang seperti ini?

Seorang suami memilih bekerja mengurus rumah tangga dibandingkan bekerja di luar rumah mencari nafkah.

Tentu saja ada.

Seorang suami yang mungkin sudah berada di zona nyaman menikmati perannya menjadi seorang bapak rumah tangga menjadi enggan untuk bekerja mencari nafkah.

Pilihannya adalah berganti peran dengan istrinya.

Ini merupakan pilihan dan kesepakatan dari kedua belah pihak.

Ada suami yang lebih sabar mengurus anaknya dibandingkan istrinya.

Bahkan ada yang lebih terampil mengerjakan pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, menyiram tanaman dan membersihkan rumah.

Jadi berganti peran dalam rumah tangga seperti meletakan posisi seseorang di tempat yang tepat.

4. Suami menderita sakit

Ada beberapa kasus yang menyebabkan seorang suami memang tidak dapat bekerja karena kondisinya, seperti sakit.

Secara tidak langsung peran ini akan berganti dengan sendirinya.

Ibu yang akan menjadi tulang punggung keluarga dan suami tinggal di rumah.

Berganti peran dalam mencari nafkah dalam rumah tangga bukan hal yang mudah ternyata.

Namun, semua akan dapat dijalani asalkan menjadi kesepakatan kedua belah pihak dan demi kebaikan keluarga tentunya.

Demikianlah artikel menjadi bapak rumah tangga: “Stay Dad Home” tak masalah asal ada alasannya.

*)Sri Setiyowati, Ibu Rumah Tangga, blogger, penulis buku.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *